
Part 11
Pandangan Ernest turun ke meja. "Kau mengenalku, Putri Eienna." Nama sang tawanan disebut, seketika mata
birunya membesar. "Bahkan ... kau mengenalku jauh melebihi batas dari kulitku sendiri."
Senyum Eien yang sejak tadi mampu bertahan dalam ketidakpastian langsung sirna bagai terbawa hembusan angin dari luar. Kalimat itu adalah pertanda betapa menyedihkan dirinya, tiada mengetahui apa pun, bahkan segelintir ingatan tentang pria ini tak ada dalam kenangan miliknya. Apakah itu sebuah ejekan? Rasa iba? Atau hal lainnya? Yang jelas kekurangan dirinya telah merendahkan harga dirinya sejauh ini. Mata biru nan indah itu menyipit perih. "Pria terhormat adalah pria yang sanggup mengendalikan bibirnya, Tuan Hornest," ingatnya. Dalam pertarungan kali ia telah kalah, sepenuhnya, takluk dalam kekuasaan pria ini. Akan tetapi Eien masih belum ingin menyerah, tidak akan ia permudah semua itu sebelum kebenaran terungkap.
Bagaimana Ernest harus menanggapi sinar mata yang masih ingin melakukan perlawanan selain menghela napas dan tersenyum lembut mendapat peringatan itu. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Akan tetapi apa yang hamba utarakan adalah kebenaran." Mungkin informasi yang minim ini sudah cukup. Lantas ia berdiri diikuti pandangan Eien yang merasa dicurangi. "Aku tidak akan menjelaskan lebih dari ini." Tatapannya beralih padalangit di luar jendela seperti menimbang sesuatu lalu berkata, "Kuizinkan Anda menikmati halaman kastil, walau hari
telah menjadi gelap, lentera taman masih sedikit membantu. Tentunya, Adela akan menemani Anda, Yang Mulia."
"Mengizinkanku? Sepertinya aku telah kehilangan kemerdekaan. Apalah arti sebutan 'Yang Mulia' jika kau tak sepenuhnya tunduk padaku. Kini aku hanyalah seekor burung yang terkurung dalam sangkar."
"Yang Mulia," desah Ernest lirih.
Eien berpaling pilu. "Kau masih saja menyebutku seperti itu."
"Aku memang seperti makhluk yang tidak tahu diri. Aku sepenuhnya paham dengan apa yang engkau pikirkan. Tetapi sebutan itu adalah kewajibanku." Wajah cantik itu kembali padanya, yang hanya menunjukkan kepiluan atas ketidakadilan. "Aku harap Anda menikmati nuansa sangkar mawar ini, Yang Mulia."
Alis Eien hampir bertautan. "Kau tidak takut aku akan melarikan diri?"
Perlahan mata hitam yang tadinya sendu berubah penuh kepercayaan diri. "Kau tidak akan melakukannya, Yang Mulia Putri."
Senyum penuh keyakinan Ernest sanggup membuat Eien tertunduk, karena apa yang dikatakannya memang benar adanya. Kondisi tubuhnya yang seperti ini tidak memungkinkan untuk melarikan diri, setidaknya ia butuh persiapan, sebuah rencana yang sempurna. Ia yakin kalau mengelabui pria ini tidaklah mudah. Menunggu ayahnya atau seorang ksatria menyelamatkan dirinya rasanya terlalu picik, menggantung asa dan keselamatan kepada orang lain tanpa berusaha sungguh memalukan. Padahal isi dadanya bergemuruh tak terkendali mengingat akan sesuatu hal yang menjadi sebab mengapa ia harus segera pergi dari kastil ini. "Aku ingat bagaimana engkau merenggut hidupku di hari pernikahanku, mengikat kebebasan sayap burung kecil ini dari langit biru. Dan sekarang, sekadar melangkahkan kaki di atas hamparan hijaunya rumput pun kau perlu membatasinya." Kedua matanya berkaca-kaca teringat nama seseorang. "Apakah ini artinya mustahil bagiku untuk bertemu dengan Lyonis? Apakah kau akan mengizinkannya? Ada hal yang harus kupastikan mengenai dirinya. Aku mohon izinkan aku bertemu dengannya,"lirihnya perih.
Pantulan cahaya lilin tampak bergetar dalam manik berlian Eien, kesedihan dan harapan bercampur baur di sana, mengundang Ernest yang tak kuasa menahan diri untuk mendekat. Semua pertanyaan tadi hampir saja menggoyah kewarasannya. Rasa sakit meremas dadanya begitu kuat karena jawaban itu akan terdengar sangat menyakitkan. Tangan kanannya terulur menyambut wajah kekasihnya, dan pelan mengangkat ujung dagu kecil itu. Rasanya Ernest bagai berdiri di atas permukaan air yang tenang, namun jika salah langkah, ia akan tenggelam di kedalaman hati yang rapuh. Akankah ia mulai? Menikam hati kekasihnya tanpa ampun? Iris kelam itu setengah tertutup, membiaskan kesedihan yang tak tergambarkan dengan baik, layaknya jendela yang terhalang percikan air hujan. "Sekarang katakan padaku, Putri. Bagaimana mungkin aku akan mengizinkanmu pergi menemui pria yang telah gugur dalam perang yang terjadi ratusan tahun lalu?" tanyanya lirih.
__ADS_1
Jawaban yang begitu menusuk hingga ke relung hati terdalam, tak ayal kedua mata Eien membesar karena terperangah. Awalnya ia kesulitan mencerna, bukan karena ia bodoh, tetapi lebih disebabkan menolak kenyataan. Hanya saja, ketika air muka pria ini tidak kunjung berubah membuatnya menyadari sesuatu. Seketika buliran kesedihan berjatuhan membasahi pipi. Kata-kata yang sederhana itu ternyata terasa sangat menyakitkan. Bibirnya yang gemetar perlahan terbuka tidak menerima. "Kau berdusta." Sungguh, hatinya berteriak berharap tengah dipermainkan. Ia hampir membenci dirinya yang tidak mengetahui apa-apa. Jendela itu kini tampak bersih dari
bayangan air hujan, kesedihan yang tersirat di sana terpancar dengan jelas. Eien terusik pedih. "Kumohooon, jangan memandangku dengan cara seperti itu," pintanya putus asa.
Tatapan Ernest berubah lembut. "Tidak, Yang Mulia. Kumohon jangan salah paham. Saat ini hamba ... hanya sedang mengasihani diri hamba sendiri." Tangannya pun turun perlahan. Sedikit menyesali kala bibirnya tidak sanggup menahan lebih lama. Bagaimana tidak, Ernest tahu wanita ini tengah terjebak dalam ingatan yang rusak dan tak ada hal yang dapat ia perbuat untuknya saat ini. Itulah ketidakberdayaannya yang masih jua belum berakhir.
Benar-benar tidak adil. Pria ini mengetahui segalanya sedangkan ia sendiri tersiksa karena lubang besar ingatannya. Dan kenyataan itu masih saja ia sembunyikan, Eien hampir kehabisan udara hanya demi mengendalikan isi pikiran yang berkecamuk antara marah, sedih dan bingung. Pada akhirnya ia merasa lelah menghadapi pria ini. "Pergi. Aku mohon pergilah. Tinggalkan aku sendiri." Wajahnyapun tertunduk menutupi semua emosi tadi.
Maafkan aku, Eien. Kalimat itu hanya mampu diutarakan dalam hati. Yang bisa dilakukannya hanyalah menghapus buliran air matanya, lalu mengecup lembut keningnya. "Beristirahatlah. Perjalanan panjang terkadang menggerus keyakinan, bahkan mampu menggoyah kewarasan. Istirahat dengan baik akan membantu memulihkan kondisimu."
Setelahnya ditinggalkan Eien yang tertegun sendiri.
Kamar mewah ini menjadi hening menyisakan kepiluan dari kebenaran masa lalu. Wanita itu memeluk dirinya sendiri menahan isak tangisnya yang mungkin segera pecah. Ratusan tahun? Apa yang telah terjadi? Mengapa aku tidak mengingat apa pun? Suara hembusan angin dari luar terdengar lirih menggoda, Eien sedikit menoleh ke belakang, melihat langit bersih di ujung cakrawala. Aku tidak perlu tergesa. Akan ada waktu di mana kebenaran terkuak. Jika aku berhasil kembali ke istana, ayah akan menjadi lentera untukku.
Diusap pelan air mata yang terus saja mengalir ketika harus menghadapi kenyataan bahwa Lyonis telah tiada. Tiada guna bila terus bersikap seperti ini, menangis tak akan menyelesaikan masalah. Ya, ia harus menemukan cara untuk lari dari kastil ini. Bangkitlah ia mendekati jendela, menepi di balik pagar beranda memperhatikan halaman yang kemarin sempat dilihatnya. Berulang kali diamati pintu gerbang yang tertutup jauh di sana. Helaan napas kecilnya terhembus ringan manakala ia masih belum mendapatkan cara yang tepat untuk lari. Kastil ini di
kepung oleh hutan, bahkan kenyataan terburuknya adalah hanya ada satu rute untuk pergi dari sini. Terlalu riskan bila nekad menyusuri hutan dalam tubuhnya yangsekarang.
mengetuk badan pintu.
Eien terkesiap kaku. "Siapa?"
"I-ini saya, Nona. Adela."
"Masuklah."
Si pelayan muncul dari balik pintu bersama sebuah cawan kristal di atas nampan. Kegugupannya sangat jelas
__ADS_1
terlihat. "Maaf, Nona. Tuan akan mengizinkan Nona berjalan-jalan di taman bila Nona bersedia me-meminum ini." Tak mudah dipahami olehnya mengapa ia bisa meminta seseorang untuk meminum segelas darah. Ini perbuatan gila meskipun demi alasan pengobatan. Sungguh, ini bukanlah sesuatu hal yang lumrah.
Cairan merah di dalam gelas bening tersebut bergerak-gerak mengundang perhatian. Dienyahkan kegelisahannya saat mendekati Eien lantas diserahkan gelas itu dengan tangan gemetar di mana ketidaknyamanan dari sikapnya terlalu kentara. Demi menenangkannya Eien meraihgelas tersebut selembut mungkin. Namun penciumannya terusik oleh aroma amis isinya. Matanya melebar tak percaya mengetahui darah ini berbeda. Getaran ditangannya menyebabkan gelas itu terselip dari sela jemari, jatuh dan pecah berserakan di lantai. Cairan merah itu menggenang kental.
Adela yang terkejut sampai mematung menyaksikan genangan darah yang tampak mengerikan. Kilasan bayangan pembantaian yang pernah terjadi di sini seolah menyergapnya. "No-nonaaa! A-anda tidak apa-apa?!"
"Keterlaluan!" Diliputi rasa geram Eien langsung keluar meninggalkan kamar. Tepat di depan pintu William menghadangnya. "Jangan menghalangi jalanku!" Pria tua itu yang tak kuasa melawan langsung membungkuk kemudian menyingkir membiarkannyaberlalu menuruni tangga.
Di kamar William menemukan Adela yang tampak ketakutan setengah mati sedang membersihkan lantai. "Biar aku yang menangani kekacauan ini. Ikuti Nona Selia kemana pun beliau melangkah. Jangan sampai beliau meninggalkan kastil."
Dengan kikuk Adela mengangguk menuruti. "Baik." Ia bangkit setengah berlari menyusul nona mudanya. Setelah
menuruni tangga, seorang pelayan pria membukakan pintu utama untuknya. Dahi Adela agak berkerut melihat wajah pelayan yang baru ditemuinya. Sekilas saja ia melempar senyum perkenalan pada pelayan itu namun tanggapannya tampak kaku. Karena sedang mengejar nonanya, ia tak terlalu memikirkan, maka dilewatinya saja pelayan itu. Berhasil menyusul di teras, barulah ia melambatkan langkah mengekor nonanya dari belakang.
Eien menuruni anak tangga teras mansion, merasakan atmosfer yang berbeda dari dalam kamarnya, melihat dengan sudut pandang yang baru, mendengar lebih jelas angin yang bergemerisik membelai dedaunan. Ini merupakan sensasi baru setelah lama terkurung dalam sebuah ruangan. Saat sampai di anak tangga terakhir ia melihat patung-patung malaikat yang kemarin diamatidari jendela kamarnya. Jika dilihat dari bawah sini patung itu tampak besar. Geriknya yang penuh rasa penasaran dan keingintahuan mendapat perhatian lebih dari Adela. "Apa nama kastil ini?" tanyanya tanpa menoleh pada gadis itu.
Pelayan itu terkesiap. "Ah, Bloody Rosie, Nona. Tuan Hornest sendiri yang memberikan nama barupada kastil ini."
Eien terlihat tidak terkejut. "Bloody Rosie ... nama yang sungguh indah." Bangsawan itu melangkah diiringi
kerutan yang makin bertambah di kening Adela. "Pasti karena mawar-mawar ini," tambahnya sambil mendekati tanaman tersebut. Dadanya jadi berdebar kala mendekati bunga menawan itu. Ketika ujung jari telunjuknya akan
menyentuh kelopak mawar, tangannya sedikit gemetar, hatinya berharap cemas jika tiba-tiba saja mawar ini akan berubah warna. Akankah bunga suci ini tenggelam dalam kegelapan yang abadi? Namun saat bunga itu tersentuh, kondisinya tetap sama, masih utuh dengan keindahannya. Sontak Eien tersentak senang sebab tidak terjadi perubahan apa pun pada warna mahkotanya. "Kau lihat, Adela! Apa kau melihatnya?!" Nona cantik itu berbalik demi menatap pelayannya tanpa melepaskan jari dari bunga tadi.
Adela bergegas mengangguk meskitidak mengerti akan perilaku anehnya.
Namun Eien paham arti kerutan tipis di dahi pelayan itu. "Aku bisa menyentuhnya! Aku sanggup menyentuh mawar ini!" serunya senang seakan hal itu adalah hal yang luar biasa.
__ADS_1
Senyum kaku Adela terpasang. "Sa-saya ikut gembira, Nona." Sebenarnya ada apa dengan mawar itu? Kenapa ia begitu senang hanya karena dapat menyentuhnya? Apa di Rumania tidak ada bunga mawar? Ia semakin tak mengerti.
Sementara itu, kilas kenangan membuat Eien menarik napas sambil memandang lirih mawar tersebut. "Semua ini berkat tubuh palsu ini. Andaikan kala itu warna mawarnya tak berganti, mungkin saja petaka itu tak pernah terjadi. Lyonis tidak perlu pergi ke medan perang." Ia sempat tertegun karena terpikirkan sesuatu, lantas menatap pelayannyadengan ekspresi bertanya. "Tahun berapakah saat ini, Adela?"