Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
39. Kepercayaan


__ADS_3

Part 39


Tidak lama berselang, Adela telah sampai di hadapan Ernest yang menatapnya dari balik meja. Wajahnya lunglai menatap lantai menanti majikannya berbicara. Tuannya pasti akan menghukumnya karena telah membantu nonanya melarikan diri. Bahkan hukuman jauh lebih baik dari pada dipecat. Tinggal katakan saja, Adela rela menjalani hukuman cambuk sekalipun asalkan masih diberi kesempatan, tetapi mengapa tuannya masih berlama lama mempermainkan perasaannya. Suara jalannya detik jam antik yang berlalu makin menambah beban berat yang menghimpit dada. Sulit rasanya bernapas dalam situasi yang menggantung begini dan menerka makian apa yang akan didengar. Saat ini saja tiada sejumput keberanian untuk menatap langsung demi membaca raut wajahnya.


Terdengar tiga kali suara ketukan kecil di atas meja dari jari telunjuk Ernest yang menyebabkan si pelayan agak tersentak. Kedua tangannya tertangkap bertautan demi saling meremas kuat jemarinya. Ernest jadi menghela napas ringan melihat sikap resah Adela yang takut didera amarah. Sudah waktunya ia membuka percakapan sebelum gadis ini menjadi gila. "Kuharap kau mengetahui secara pasti apa kesalahanmu," ucapnya yang bernada prihatin.


Tentu saja tahu makanya ia mengangguk penuh sesal sebab tiada alasan baginya untuk membela diri. "Saya bersalah, Tuan. Mohon maafkan saya."


Sejenak mata Ernest terpejam, jatuh dalam pemikiran yang dalam. Setelah mempertimbangkan dari segala sisi secara masak barulah iris hitamnya perlahan terlihat. "Yah, aku yakin kau tidak akan mengulanginya." Keputusan singkat itu diambil karena tidak ingin memusingkan masalah yang sudah teratasi. "Sekarang, kuharap kau memahaminya, Adela, betapa bahayanya dunia luar bagi Selia."


Pelayan itu mengangguk lemah kembali. "Saya mengerti, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," lirihnya.


Senyum tipis Ernest merekah tanda puas karena gadis ini cepat tanggap. "Disamping itu, hal yang sebenarnya ingin kusampaikan adalah mengenai jati diri kami," bukanya langsung yang membuat pelayan itu terhenyak dan jadi mengangkat wajah demi menatapnya. Gurat penasaran dan keingintahuannya menguar tanpa batasan. Hal itu makin memantik keseriusan Ernest mengungkap siapa sebenarnya keluarga misterius ini. "Aku mendengar apa yang Selia ungkap mengenai diri kami ... dan aku tidak akan mengulanginya atau bahkan membantah. Justru aku turut membenarkan bahwa apa yang dikatakan Selia bukanlah dusta." Getaran pada jendela jiwa pelayannya menyiratkan kekecewaan bercampur rasa takut. Pastilah menyakitkan baginya untuk menerima keadaan. Mana mungkin Ernest mampu menghentikan perasaan semacam itu. Wajar saja, karena si pelayan hanyalah manusia yang masih sangat muda. Masih berdiri dihadapannya saja sudah sebuah keberanian yang luar biasa. "Setelah mengetahuinya, masihkah engkau berkeinginan untuk bekerja padaku?" Perlu baginya bertanya demi mendapatkan kepastian. Apakah ini hanya sementara, sebuah kepura-puraan, atau sandiwara? Ernest harus tahu motif yang mendasari keberanian gadis ini yang masih belum melarikan diri dari monster seperti dirinya.


Akan tetapi Adela malah terbungkam, bohong bila ia tidak takut dan cemas akan keselamatannya. Nonanya memang sudah pasti akan melindunginya dan ia yakin tuannya tidak akan diam-diam memangsanya saat terlelap. Namun bagaimana dengan yang lain? Siapa saja dan sebanyak apa mereka di sini?


Isi pikiran Adela dapat terbaca jelas oleh Ernest dari gelagatnya. "Yang dapat kujanjikan padamu adalah keselamatan dirimu. Aku sendiri yang menjadi penjamin. Tiada seorang pundari kami yang akan menyentuhmu."


Jikalau begitu Adela bisa bernapas lega. "Mulai saat ini nyawa saya bergantung pada Tuan.”


“Kau bisa percaya padaku.”


“Baik. Terima kasih, Tuan.” Agak kikuk gadis itu maju selangkah. "Dan mengenai pekerjaan, saya masih berharap bekerja di sini. Jika janji saya yang pernah saya ucapkan sedang Tuan pertanyakan, saya dapat pastikan bahwa tidak ada yang berubah. Alasan saya bukanlah hanya sekadar materi yang dibutuhkan keluarga saya. Tetapi kenyataan yang baru saya sadari kalau … berpisah dengan Nona Selia adalah hal yang sangat berat. Jika memang memungkinkan, saya ingin melayani nona hingga akhir hayat.”


Sejenak Ernest tertegun mendengar kalimat bernada tegas itu keluar dari seorang manusia biasa seperti Adela. Selain Roland, gadis kecil ini adalah manusia kedua yang bisa menunjukkan ketulusan, selebihnya hanyalah rasa takut dan kebencian. Senyum tipisnya merekah untuk anugerah ini. "Kesetiaan bukanlah hal yang mudah didapat. Mereka ada tetapi jarang diusahakan. Well, aku hargai keputusanmu. Sungguh sebuah keberuntungan bagi Selia yang telah dipertemukan dengan manusia seperti dirimu." Untuk pertama kali dalam ruangan ini iras Adela berubah cerah. "Karena itu, sekali lagi aku akan menitipkan Selia kepadamu."


Kedua mata cokelat Adela membesar senang mendapat kepercayaan tuannya lagi. "Kesempatan yang Anda berikan juga merupakan berkat untuk saya. Terima kasih, Tuan.”


“Ya, berkat untuk kita bersama.” Setidaknya dengan keberadaan gadis ini, satu beban di pundaknya telah berkurang. Jauh ke depan, Ernest tak dapat menjamin tentang keinginan Adela yang ingin terus bersama Eien. Satu hal yang pasti, gadis kecil ini akan patah hati.

__ADS_1


Tetiba Adela tersentak sendiri karena teringat sesuatu yang penting. ”Tu-tuan?"


"Ya?"


"Ba-bagaimana dengan La-lady Radringham?" Itu benar. Bagaimana bila pasukan ratu datang mendobrak pintu kastil ini saat menemukan ada sedikit saja luka pada tubuh kemenakan kesayangannya? Adela terlalu takut untuk membayangkan.


“Semua kekhawatiranmu adalah hal percuma. Lady Radringham berpulang tanpa kekurangan satu apa pun. Justru beliau tampak gembira.”


Dahi Adela berkerut bingung. Kemudian mendesah kecil sendiri sebab teringat bahwa tidak ada hal yang masuk akal di kastil ini. "Lalu bagaimana dengan pengawal dan kusir beliau?" Ada korban yang berjatuhan dan pikirannya selalu melayang ke sana.


"Beberapa pelayan istana menghilang dari kastilku tanpa sepengetahuanku bukanlah urusanku, Adela. Itu murni merupakan musibah untuk Lady Radringham yang mendapat pekerja yang tidak cakap, yang melarikan diri tanpa alasan jelas bersama kereta kudanya. Jadi kereta kastil inilah yang mengantarnya pulang."


“Ta-tapi, jasad mereka-“


“Apakah aku perlu mengisi bejana rasa penasaranmu, Adela?” potong Ernest.


Ernest menarik napas dalam lalu menghenyakkan diri di sandaran kursi demi menurunkan ketegangan yang tetiba meningkat. “Aku tahu kau mencemaskan kami, tetapi percayalah, bahwa semua hal yang engkau resahkan telah teratasi dengan baik.”


Tentu saja. Tidak seharus Adela meragukan hal itu. Tuannya pasti akan melakukan apa saja untuk melindungi kastil ini demi kenyamanan nonanya. “Tidak sepantasnya saya meragukan Tuan. Saya sungguh bodoh.”


“Jangan merendahkan dirimu. Kau gadis yang cerdas. Hanya saja ada hal yang tidak bisa kubahas bersamamu.” Karena memang percuma. Pelayan itu pasti kesulitan memahaminya.


“Saya mengerti, Tuan. Saya akan lebih berhati-hati lain kali.”


“Tidak mengapa. Kau bisa bertanya apa pun, tetapi tentu tidak semua hal dapat kujawab. Sekarang, beristirahatlah. Kau pasti lelah,” tutup Ernest.


Adela mengangguk menurut. "Baik, Tuan. Anda juga perlu beristirahat. Wajah Anda tampak lebih pucat dari biasanya.”


“Benarkah? Terima kasih sudah memperhatikanku.”

__ADS_1


Adela pun tersenyum. “Kalau begitu, permisi, Tuan,"pamitnya undur diri.


Setelah gadis itu keluar ruangan, William datang menggantikan dengan membawa secangkir kopi yang kemudian diletakkan di atas meja. "Terima kasih, Will." Ernest meraih gagang cangkir tersebut lalu menghirupnya sedikit.


"Jadi Adela sudah mengetahuinya?" buka William. Ernest meletakkan cangkir dan hanya bergumam membenarkan. Kepala pelayan itu merapatkan bibir tanda mengerti, namun irasnya berubah prihatin ketika akan mengatakan sesuatu. "Kondisi yang mulia putri semakin memburuk, Tuan." Sejujurnya ia tak suka mengingatkan hal ini.


Pandangan gelisah Ernest menurun pada tepi meja. "Aku juga dapat melihatnya," desisnya getir. Kenyataan itu memaksanya untuk bangkit dari kursi walau terasa lamat dan berat. "Siapkan pakaianku."


“Haruskah malam ini? Wajah Anda terlalu pucat. Kondisi Anda juga tidak memungkinkan,” cegah William.


“Ini karena aku menggunakan darahku untuk membuat portal dari pentagram agar berselisih jalan dengan tamu undangan yang pulang, dan beberapa kali melakukan warp demi mengurus jasad para pelayan Lady Radringham.”


“Kalau begitu, tunda semalam saja, Tuan. Energi Anda banyak terkuras.”


“Setiap waktu yang kubuang akan mencelakai yang mulia putri.”


Kepala pelayan itu mendesah pasrah. “Baiklah. Tetapi kali ini apakah Tuan sudah memikirkan target berikutnya?” Ia hanya berharap agar tak ada lagi darah yang terbuang sia-sia.


Tubuh Ernest mendadak menjadi kaku. “Wanita suci,” jawabnya lirih.


William terperanjattak percaya. "Ta-tapi, Tuan! Mereka pelayan Tuhan!" sergahnya.


Napas Ernest tertarik sangat dalam dan perlahan kedua matanya terpejam lemah setelah mengambil keputusan yang berat. "Aku siap menanggung dosanya."


Walau William menggeleng keras tidak setuju, tetapi apa daya ia pun tak berkuasa menghalangi, yang bisa dilakukannya hanyalah menggantikan tuannya melakukan tugas itu. "Biar saya yang mengerjakannya," pintanya sungguh-sungguh. Sudah cukup baginya melihat tuannya bergelimang dosa, dan kali ini ia tak bisa membiarkannya jatuh ke dalam lubang hitam tanpa dasar.


"Tidak." Ditatap pelayan setianya dengan kesungguhan. "Hanya aku yang akan menanggung hidup terkutuk ini. Tiada yang boleh terjerumus selain diriku, William. Tidak ada," tegasnya. Tidak setelah kuputuskan untuk membawa Eien pergi dari istana. Semua adalah tanggungjawabku. Aku adalah penyebab keadaan menjadi buruk. Akulah makhluk yang tidak dapat menahan diri. Mana mungkin aku membagi dosa pada yang lain demi keserakahanku.


Manik kelabu William bergetar pilu, tiada bantahan lagi yang mampu terucap. "Tuaaan," desisnya sedih.

__ADS_1


__ADS_2