Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
32. Monster


__ADS_3

Part 32


Suara derik pintu membuat bulu tengkuk Adela meremang, terlebih ketika hanya ada sajian kegelapan di baliknya. Terperangkap dalam belahan hutan membuatnya berharap bahwa tiada binatang buas yang turut mengincar. Mengingat adanya berbagai kemungkinan bahaya ia segera mencegah nonanya yang akan menurunkan kaki. "Nona, biarkan saya yang turun lebih dulu." Sudah menjadi kewajibannya melindungi wanita ini.


“Kau yakin?” Dilihatnya gadis itu mengangguk pasti maka Eien hanya balas tersenyum mengizinkan.


Mendapat tanda tersebut, si pelayan membuka pintu lebih lebar lalu melayangkan pandangan pada kegelapan malam di jalan kasar yang mengerikan. Padahal jalur inilah yang setiap hari ia lalui menuju rumahnya sendiri, tetapi siapa sangka saat malam jadi terasa begitu mengancam. Lolongan anjing liar tiba-tiba menggema beberapa kali menusuk telinga. Tak dipungkiri kakinya jadi gemetaran hanya untuk memulai langkah. Ditarik napas lebih dalam demi menenangkan isi pikiran yang berkecamuk karena dipenuhi oleh imajinasi mengerikan. Setelah agak tenang barulah tapak kakinya berhasil mencium tanah tanpa kendala. Ia mendesah kasar. Kesal sendiri sebab tidak pernah dalam hidupnya hanya karena menjejakkan kaki di tanah membuatnya menjadi setegang ini. Suara gemerisik daun yang terinjak gesekan sepatunya terdengar jelas dalam keheningan. Disebar pandangan pada semak-semak yang seolah menyerbu, ternyata tidak ada siapa pun atau apa pun yang sedang mengintai. Apakah orang-orang itu telah pergi? Kalau benar, bukankah ini kesempatan? Maka berbaliklah ia pada nonanya yang masih dalam kereta lalu mengulurkan tangan yang segera disambut.


Begitu Eien berhasil turun. "Lekas lepaskan kuda-kuda itu."


Pelayan itu bergerak menuju muka kereta di mana ada empat ekor kuda gagah yang berbaris, jumlah yang lebih dari cukup untuk membawa mereka sampai ke dalam kota. Tanpa buang waktu ia berusaha melepas tali pengekang, namun menghadapi kesulitan. Tak heran, sebab kedua tangannya gemetar hebat seolah dikejar waktu yang menuntutnya harus cepat sebelum orang-orang itu memutuskan kembali menyerang. Tetapi semakin dicoba justru malah makin sukar. Kenapa? Kenapa masih belum bisa lepas?!

__ADS_1


Jasad kusir yang terkulai di kursinya sangat mengusik konsentrasi. Seragamnya  yang penuh bercak darah makin membuatnya tidak sabar karena usahanya tak kunjung berhasil. Mendadak terpikir sesuatu olehnya, lantas berlari menuju bokong kereta yang diyakini ada kotak perkakas di bagian bagasi tepat di bawah kursi pengawal. Kemungkinan ada benda tajam yang tersimpan. Nonanya sampai terdiam memperhatikannya yang sibuk membongkar kotak tersebut. Di tengah pencarian ia bersyukur dapat menemukan benda yang mungkin berguna. "Saya menemukan gunting kebun, Nona," serunya senang disambut helaan napas lega Eien. Namun ketika pelayan itu akan beranjak kembali, terdengar gumulan suara aneh jauh di belakang menyebabkannya teringat mengenai dua pengawal Elena yang terjatuh. Walau sempat ragu dibalikkan juga tubuhnya demi memastikan kecurigaan. Irisnya yang memicing menangkap bulatan hitam bergerak-gerak di tempat yang cukup jauh. Diambil langkah pelan untuk mendekati keanehan itu demi mempertegas penglihatan. Kumohon, Tuhaaaan. Kumohoooon, jangan binatang buas!


Tingkahnya memancing Eien untuk bertanya. "Ada apa, Adela? Apa yang kau lihat?" Karena tak mendapat jawaban diikuti arah yang diperhatikan sangpelayan. Sesuai dugaan, makhluk itu memang yang telah menyerang mereka. Ini bahaya! Disusulnya Adela demi meraih lengannya.


Dada Adela menggebu, terasa sesak kala mengenali tubuh pengawal Elena tergeletak jauh di sana, di mana dua gundukan hitam sedang mengerubunginya, laiknya dua ekor serigala yang begitu ganas menggerogoti leher mangsanya. Akan tetapi bila ditelaah lebih teliti, siluet hitam itu lebih mirip perawakan manusia. Demi memperjelas lagi, langkahnya bertambah tanpa disadari, namun sebelum gambarannya lengkap jemari Eien lebih dulu menangkap lengannya. Pelayan itu menoleh, wajahnya tampak tegang danterpukul. "Nona? A-ap-apa yang-" Belum sempat kalimat itu lengkap jari telunjuk Eien telah menempel di bibirnya, yang tegas memberi tanda untuk diam, tidak bersuara meski hanya sebuah hembusan napas. Iras yang memucat itu mengangguk paham di mana dadanya seolah telah terhimpit pegunungan.


Mereka mundur perlahan, sangat berhati-hati agar orang-orang itu tidak menyadari keberadaan mereka yang telah berada di luar. Namun gunting kebun dalam genggaman Adela terjatuh akibat dari sikut kirinya yang terantuk tepi kereta. Benturan benda berat yang berdebum menghantam tanah menarik perhatian dua makhluk misterius di sana. Wajah mereka terangkat waspada, tajam memicing pada dua wanita tak berdaya. Dari penerangan lentera bokong kereta yang temaram Adela masih mampu melihat lumuran darah di sekitar bibir dua orang pria dewasa. Apa yang mereka lakukan?! Apa mereka sedang memangsa manusia lain?! Sontak ia tak kuasa berteriak histeris, tiada pernah dalam seumur hidupnya ia melihat hal mengerikan semacam itu.


Adela malah semakin histeris.


"Guntingnya, Adela!" sentak Eien ketika dua pria itu bangkit.

__ADS_1


Disadarkan suara nonanya, secepat kilat Adela menyambar gunting bersamaan dengan dua pria tadi yang tengah berlari menuju dirinya. Wajahnya memucat dan kakinya menjadi kaku saat mengetahui betapa cepat mereka bergerak, namun Eien segera menariknya menuju tempat kuda-kuda yang terikat. Dalam napasnya yang berkejaran, tali kekang itu terlalu tebal untuk digunting, tangannya sampai gemetaran karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa waktu seakan tak pernah cukup untuknya. Tuhaaan, ini butuh waktu yang cukup lama! Mendadak matanya menangkap ujung sepatu di atas punggung kuda. Bagaimana mungkin ada seseorang yang berdiri di sana tanpa sepengetahuannya. Ditelan liurnya dengan susah payah seraya menengadah, iris cokelatnya yang tampak gelap dalam malam menemukan raut berlumur darah yang begitu lekat menatapnya.


"Apakah kau memerlukan bantuan, Nona?"


Reflek karena terkejut Adela terjengkang ke belakang hingga terjerembab di tanah, mulutnya ternganga tak percaya. "Mo-monster!! Nona! Selamatkan dirimu!!" jeritnya histeris. Tiada ia kira bila hidupnya akan berakhir mengerikan seperti ini. Teriakannya pun pecah kala pria itu melompat menerjang dirinya.


Tanpa disangka Eien datang merangkul memasang badan, merentangkan sebelah tangan ke arah monster itu, dan entah bagaimana caranya pria itu terpental jauh ke belakang seolah terdorong oleh sesuatu hal dan jatuh ke dalam semak belukar. Ada hal yang membuat Eien terperangah karena kejadian barusan. "Rupanya aku tidak sanggup membinasakan mereka." Perlahan ia bangkit, bersiap untuk yang terburuk.


Dalam kecamuk pikiran dan tubuh yang gemetar hebat Adela tertegun memandang punggungnya. Binasa? Apa maksudnya?! Bagaimana caranya nona bisa melakukan hal semacam itu?!


"Mungkin tubuh ini yang membatasi kekuatanku. Aku-" Gumamam itu tersendat karena Eien harus berbalik menghadapi monster lain yang telah berdiri di belakang mereka. “Bangun, Adela.” Gadis itu tersentak dan lekas berdiri mendampinginya.

__ADS_1


Senyum sapa yang terkesan ramah dari monster itu tentulah sulit menyurutkan ketegangan dua wanita di hadapannya. Terlebih, ada hal yang membuatnya sangat penasaran. Apa yang telah dilakukan oleh nona berambut hitam itu pada rekannya bukanlah sesuatu hal yang normal. "Bolehkah saya mengetahui jati diri Nona?" tanyanya dengan sikap menilai.


__ADS_2