
Part 9
Bernapas lega, itulah yang pertama pelayan itu lakukan setelah memastikan semua pernak-pernik mewah yang terangkai melekat sempurna di tubuh boneka istimewa majikannya. Seluruh perhiasannya berkilau memantulkan cahaya lilin, gaunnya mekar bagai bulu burung yang sedang menari di langit siang hari. Sungguh cantik menggetarkan hati.
Tak salah jika Adela sedikit bangga dari buah pekerjaannya. Jangan katakan ini mudah, karena merangkai kecantikan adalah seni yang indah. Menyenangkan tetapi butuh kehati-hatian, ketelitian serta insting dalam menyesuaikan satu sama lainnya hingga menciptakan kesinambungan. Hasilnya semua kilauan dunia seolah bertumpuk dibalutan boneka ini.
Keberuntungan telah memihak tuannya yang berhasil mendapatkan harta yang mungkin nanti akan menjadi tiada ternilai jika hendak diperdagangkan. Namun demikian, pelayan itu tidak berharap hal itu terjadi, sebab ia akan kehilangan pekerjaan kalau boneka ini sampai berpindah tangan.
Lepas dari keresahan, ia memperhatikan tiap detail secermat mungkin, menyisir ketimpangan yang mungkin merusak estetika benda ini. Sungguh ia tak menemukan cacat walau hanya setitik. "Kurasa itu semua karena kau memang terlampau cantik. Apa pun yang melekat pada tubuhmu tidak akan pernah mengurangi indahnya anugerah Tuhan kepadamu. Bahkan aku berani bertaruh, kalau lumpur sekalipun tidak akan berhasil melakukannya. Tangan penciptamu telah dipenuhi oleh berkat."
Selanjutnya ia menyisir rambutnya yang panjang hingga menyentuh lantai jika dalam posisi duduk. Alat pengeriting
rambut telah membara merah, sudah cukup panas dalam loyang berisi arang kayu yang sejak tadi disiapkan. Dengan tangkas jemari pelayan itu seolah menari di sana, menjalin indah rangkaian helaian demi helaian bagai menyusun rajutan sutera.
Untuk Adela, memperindah rambut adalah hal yang mudah sebab teman-teman gadisnya sering meminta agar penampilan rambut mereka tidak kalah elok dari para gadis bangsawan. Mereka bereksperimen, mencoba segala macam cara dan hiasan ketika remaja dulu, kebanyakan bunga-bunga liar akan menjadi korban percobaan. Sungguh, ia tak mengira jika semua pengalaman itu akan berguna hari ini.
Tidak lama berselang keajaiban pun terjadi dari jemarinya, rambut hitam itu pun membentuk ikal spiral besar di bawah lehernya dengan segala ikatan rambut yang terjalin cantik. Setelahnya tinggal merapikan deretan poni yang menutupi dahi. Langkah terakhir dipermanis dengan memasangkan pita biru muda dari pangkal leher ke kepala seperti memakai bando, mengikatnya dan membentuk pita di bagian sisi kiri. Sempurna.
"Astaga! Lihatlah, ini cantik sekali!" Ia sedang memuji pekerjaannya sambil tergelak puas. "Sekarang biar kurias wajahmu agar lebih berseri." Semangatnya kian membara, berdesir dalam darah menikmati semua kegiatan yang janggal ini. Ya, perasaan yang seperti tidak sendirian agak mengganggunya.
Bedak tabur pun berhamburan, serpihan debunya berkilauan di udara karena cahaya lilin. Gincu berwarna merah lembut teroles halus, perona pipi pun tersedia berbagai macam warna layaknya deretan pelangi yang terkurung dalam kotak kaca. Semua warna itu menggodanya untuk mencoba mereka, menyebabkan hatinya berdegub tak sabar. Namun demikian Adela lebih memilih warna yang tidak terlalu vulgar; tak ingin menuruti nafsunya. Dan lahirlah riasan tipis natural yang merona bagai seorang gadis remaja yang jatuh cinta. "Ini lebih baik. Ya, sudah selesai."
Dari posisi belakang benda itu, diangkatnya wajah boneka tadi tegak lurus ke arah cermin agar terpantul sejernih mungkin tanpa ada bayang gelap dari iritnya cahaya lilin yang temaram. Ia ingin memastikan tak ada kesalahan, hanya saja ia terjebak. Terperangkap dengan mudahnya. Mata besarnya melebar, terpesona sendiri pada sosok yang duduk terkulai dalam cermin.
__ADS_1
"Kau ... sangat cantik." Andai saja boneka ini hidup, mungkin semua pria di dunia akan bertekuk lutut padanya, rela
memberikan apa saja yang ia inginkan, bahkan mungkin nyawanya yang berharga. Sebenarnya ada apa dengan boneka ini?
Sejenak iris cokelatnya terpaku pada paras cantik nan sendu dalam cermin tersebut. Entah mengapa ruang seperti bergoyang, lengang dan terasa janggal seakan tak mengizinkan pandangannya untuk beralih dari sana, yang diinginkannya hanyalah terus memandangi kecantikan boneka ini. Selamanya.
Suara letupan kecil dari bara api yang memanaskan alat pengeriting memecah kesunyian yang sedikit mencekam. Segera disentak dirinya sendiri agar sadar seolah sihir baru saja akan memenjarakannya dalam cermin karena terlalu lama memandangi paras cantik sang boneka. Rasanya ia semakin dibuat resah oleh hal misterius dan aneh itu.
Adela lekas menoleh ke pintu masuk di samping kirinya demi membuyarkan kegelisahan yang sejenak hinggap. "Tuan, apakah kau masih di sana?" Terdengar ketukan di pintu. "Aku telah menyelesaikan tugas yang kau berikan," terangnya yang diiringi napas kelegaan. Ada rasa yang mengusik benak Adela terhadap boneka ini. Ya, kesan mistis itu terlalu kuat, lalu kecantikan yang tidak wajar ini, hingga perasaan tidak sendirian yang sejak tadi mengganjal terus saja menyiksanya.
"Kalau begitu dudukkan nona di sofa. Tuan Hornest akan datang untuk melihat hasil pekerjaanmu."
Suara dari balik pintu menyebabkan Adela tertegun. Nona? Apalagi ini? Sungguh ia terlalu lelah untuk sekadar mencari jawaban itu.
Tanpa banyak bicara dipindahkan boneka itu ke tengah sofa panjang yang membelakangi jendela. Kemudian berlutut di depan boneka seraya merapikan rok gaun yang mekar dan berenda, membetulkan bagian dada yang sedikit menurun, membenarkan letak kalungnya, juga menata rambut hitam yang melingkar-lingkar. Demi mengurangi ketegangannya ia memilih untuk mengatakan sesuatu.
Tanpa menyadari sesuatu hal, Adela masih sibuk membenarkan letak sepatu agar lurus dan tampak nyaman. Di kala kegiatan mampu menenggelamkan pikiran, roda takdir sang benang merah pun berjalan seiring langkah detik jam antik di sudut ruangan. Pertanda itu datang ketika terdengar suara yang akan mengubah seluruh hidupnya. Terikat bersama sang boneka.
"Benarkah?"
Mata Adela melebar mendengar suara seorang wanita yang bertanya padanya. Jelas sekali. Suaranya yang lirih, rendah dan halus terdengar begitu sedih. Apakah ia tidak salah dengar? Atau telinganya sedang sakit? Tidak mungkin.
Napasnya pun terhenti secara paksa. Sedangkan Adela yakin kalau tidak ada seorang pun di dalam kamar ini terkecuali dirinya dan boneka ini. Debaran jantungnya menjadi kacau, keras, dan berpacu cepat sebab prasangka sedang berkecamuk dalam benaknya. Ditelan ludahnya dengan susah payah, memberanikan diri untuk menengadahkan kepala, mencoba memastikan apakah ia sedang tidak berhalusinasi.
__ADS_1
Pandangannya perlahan naik, lehernya kaku saat menatap tegang pada kelopak mata boneka yang bergerak terangkat secara perlahan. Iris matanya yang sebiru langit sedang memandangi dirinya. Jatuh tepat ke dalam manik cokelatnya. Tatapan terkesan teduh itu malah membuat tubuhnya lebih kaku dari balok kayu. Jantungnya terasa sakit sebab seperti berhenti berdetak begitu saja kala bibir boneka itu terbuka dengan sendirinya.
"Benarkah aku beruntung?" tanyanya lirih.
Ia benar-benar bicara! Sontak Adela terjengkang ke belakang karena terkejut, matanya terbelalak, napasnya tertahan ketakutan. "Hi-hidup?!" Tubuhnya gemetaran melihat hal yang tidak masuk akal. Ia yakin, luar biasa yakin jika tadi wanita ini hanyalah sebuah benda yang tak bernapas, tidak memiliki tanda kehidupan. Bahkan ia telah menjamah seluruh tubuhnya yang terkulai tadi. Tetapi kenapa?!
Sang boneka menegakkan tubuhnya begitu anggun ketika pintu kamar terbuka di mana Ernest muncul dibaliknya seolah ia telah lama siap untuk peristiwa ini. Mata birunya menyipit seakan menilai pria yang telah menerobos kamarnya. "Kau-"
Adela menoleh ke belakang, menemukan majikannya memandang sendu pada bonekanya, namun senyum tipisnya menunjukkan rasa puas akan hasil pekerjaannya. Ini bukan waktunya bagi Adela untuk
berbangga hati. "Tu-tuan Hornest? Bo-bonekanya!" Ia berusaha memberi tahu apa yang terjadi, tetapi kata-katanya tersumbat seakan tercekik oleh ketakutannya sendiri.
Reaksi yang sudah diprediksi Ernest sejak awal. Hanya saja, masalahnya adalah apakah pelayan baru ini mampu menerima kenyataan atau malah memilih untuk lari dari sini. Iris hitamnya tajam menilai air muka sang pelayan. "Perkenalkan, Adela. Beliau adalah Selia Cloudivious," terangnya rendah seraya menunjuk sopan pada Eien, bonekanya yang telah hidup. Namun reaksi pelayan baru itu hanya merengut bingung.
Di lain sisi, tersirat getaran yang dalam ketika Ernest menyebut nama yang bukan milik sang boneka tadi. "Apakah aku tidak salah mendengar? Nama siapa yang engkau sebutkan?" Identitasnya telah diganti tanpa seizinnya. Itu perbuatan yang kasar dan egois. Terlebih Eien telah cukup lama menanti untuk berhadapan secara langsung dengan pria ini tanpa menjadikan badan pintu sebagai penghalang lagi. Hampir setiap malam ia habiskan waktu untuk memohon dan menangis demi bertemu dengan dirinya tetapi tak pernah ditanggapi. Kini adalah saat yang krusial demi mendapatkan jawaban yang ditahan darinya sebelum pria ini pergi dan menghindar lagi.
Sedangkan pria yang menyimpan jawaban tersebut hanya berjalan menuju pintu beranda lalu menyibak tirai hitam. Langit malam tanpa awan pun terbentang di balik pintu kaca, gemintang berkelip seolah tengah mengintip ke dalam isi ruangan ini. Pintu jernih itu berderak terbuka, sengaja membiarkan semilir angin dingin masuk yang kian membekukan suasana. Perlahan dihirup udaranya yang sejuk walau harus mengabaikan protes elegan itu, karena pada dasarnya ia tidak ingin membahas mengenai nama tawanannya.
Tidak butuh ratusan buku untuk menerjemahkan bahasa tubuhnya, dari perilakunya saja Eien sudah dapat mengerti bahwa ia tak akan mendapatkan tanggapan mengenai namanya. Perhatiannya beralih pada pelayan yang tengah ketakutan di lantai dekat kakinya. Diberinya seulas senyum hangat yang lembut demi mencairkan rasa takutnya. "Terima kasih. Perlakuanmu adalah hal terbaik yang kudapatkan sejak berada di sini. Tuhan masih memberkatiku dengan belas kasihmu. Sungguh, aku sangat menghargainya."
Suaranya begitu halus, berkesan tipis dan ringkih. Setidaknya tak ada monster bersuara seperti itu, pikir Adela.
Karenanya ia berusaha tersenyum meski tampak kaku, sebab masih tersisa banyak ketakutan yang tidak mungkin sirna begitu saja. Bagaimana tidak, peristiwa ini bukanlah hal lumrah seperti yang biasa ia temui di pasar atau di tiap sudut kota. Ini kejadian yang sangat mengejutkan, bahkan menurutnya mengerikan. Bagaimana mungkin sebuah boneka bisa hidup? Diangguk sedikit kepalanya, tak ingin bertingkah aneh sehingga orang-orang ini harus mengutuknya. "Sa-saya hanya menjalankan tugas, No-nonaaa!"
__ADS_1
Aroma ketakutan itu masih terendus tajam oleh Eien. Sebilah tangannya meraih ujung dagu Adela yang tampak kaku dan gemetar, lalu sedikit membungkukkan tubuh ke arahnya. Hidung mancungnya yang lurus dan kecil tertuju pada leher, menghirup pelan di sana seperti sedang membaui dirinya. Kedua matanya sampai membesar seolah menyadari sesuatu. "Kau ... manusia ...." Nadanya terdengar terkesan dan menggantung.
Terlambat bagi gadis berambut merah tersebut untuk menutupi keterkejutannya. Tubuhnya sudah membeku bersamaan dengan prasangka yang mulai bermain dalam benaknya. Manusia? Kenapa ia berkata seperti itu seakan dirinya tidak sama denganku? Benar! Benar juga! Bukankah tadi nona ini adalah sebuah boneka?! pekiknya dalam hati.