
Part 22
Hari berjalan meninggalkan kisah tanpa arti di belakang. Syahdu mawar yang tertiup angin menari berirama merebakkan aroma manis yang terbawa udara. Malam muram yang berganti tak banyak berubah laiknya hari di mana Adela pertama kali menjadi bagian dari kastil ini. Misteri belum jua terpecahkan demi membuka tabir kebenaran. Teka-teki sang nona memang tak mudah dipatahkan hanya dengan menduga dan mengamati.
Selama itu pula Eien menghabiskan malam hanya dengan duduk terdiam di kursi gantung halaman kastil. Berayun menikmati cahaya rembulan yang lembut mengintip dari balik awan tipis. Sesekali pelayannya mengisahkan sejarah London atau bangsawan-bangsawan dengan kisah terkenal, bahkan isu yang sedang beredar di kota pun tak luput ia ceritakan agar Eien tidak merasa bosan apalagi terasing.
Senyum hangat sang nona selalu merekah mendengar cerita Adela, entah kisah itu menyenangkan, sedih, atau bahkan menakutkan. Jujur saja, kisah itu sebenarnya tidak terlalu menarik didengar. Tetapi hanya itu yang mampu ia berikan agar kemurungan enggan merusak cahaya yang hampir redup itu.
Sejak percakapan terakhir antara kedua majikannya, Adela tiadalagi pernah melihat Ernest mengusik ketenangannya seolah nonanya bagai air danau yang dalam, sedikit saja ada percikan maka permukaannya akan beriak. Karenanya, tuannya terus saja mengurung diri di ruang kerja, entah apa yang sedang dilakukannya di sana, Adela tak berani mengusik. Dan malam ini, nonanya tidak memandang langit, melainkan terus terdiam, terpagut pada rerumputan seakan tenggelam dalam sebuah pemikiran yang pelik, walau sesekali terlihat ia melirik ke arah gerbang.
Adela terkesiap ketika tiba-tiba mata Eien menghujam langsung padanya.
"Esok malam adalah hari perjamuan. Aku harap para bangsawan tidak kesulitan mencapai kastil ini," bukanya.
"Eh? Te-tentu, Nona. Walaupun terpencil, ada jalan kasar yang dapat dilalui kereta kuda. Jalan itu membelah hutan sebelum mencapai bukit ini."
"Kereta kuda? Tak terbayangkan seberapa banyak kendaraan yang nantinya akan memenuhi halaman ini."
Eh? Adela tak mengerti mengapa nonanya mengkhawatirkan hal kecil yang menurutnya tak penting dipikirkan. Seharusnya ia memikirkan bagaimana debut pertamanya berlangsung esok malam. Jangankan memikirkan penampilan perdananya atau topik apa yang akan diperbincangkan, tanda-tanda kegugupan saja tak terdeteksi. Dan yang paling aneh adalah senyumnya yang tidak seperti biasanya. Senyum yang seakan menusuk penuh maksud. "Saya rasa halaman kastil ini cukup luas untuk menampung kereta kuda semua undangan," jawab Adela sekenanya.
"Benar, kau benar, Adela. Aku pun berharap begitu."
__ADS_1
***
Hari berikutnya Adela tak perlu lagi meminta izin William untuk keluar kastil setelah ia menceritakan mengenai ibunya yang sedang sakit dan kedua adiknya yang masih kecil selain mengingatkan untuk segera kembali. Setelah selesai mengurus keperluan keluarganya, siang ini juga Adela pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari gaun yang akan dikenakan saat malam perjamuan.
Ada berbagai macam pilihan dalam sebuah butik. Gaun-gaun itu sangat indah hingga membuat mata Adela berkaca-kaca karena takjub. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan berdiri dalam butik yang biasanya dikunjungi para lady, bukan sebagai pengiring yang nantinya membawakan barang belanjaan mereka tetapi melainkan menjadi seorang pelanggan. Ini bagai mimpi.
Sebaiknya ia tak terlalu lama terbuai dalam mimpi sesaat ini, karena mungkin ini yang pertama sekaligus yang terakhir ia berada di sini. Begitu menemukan yang sesuai seleranya, ia segera kembali ke kastil karena enggan ketinggalan membantu memasak serta menghias ruangan untuk pesta. Semangatnya berkobar karena berniat menjadikan nonanya terlihat sebagai wanita yang paling bersinar dalam perjamuan malam ini.
Sesampai di kastil ia agak terkejut sebab masih belum ada kegiatan persiapan yang terjadi. Biasanya saat dini hari para pelayan sudah ramai membersihkan ruangan sekaligus menghiasnya, para koki juga akan sangat sibuk berjibaku dengan berbagai macam makanan dan kudapan di dapur. Begitulah cerita yang didengar dari tetangganya ketika bekerja dalam kastil seorang bangsawan di ibukota. Lagi pula pesanan keperluan untuk keperluan pesta sudah diantarkan kemarin siang.
Adela bergegas menuju dapur, sedikit heran karena tidak ada kegiatan apa pun di sana. Dapur ini kosong. Bahkan para pelayan pria yang pernah dilihatnya seolah hanyalah khayalan belaka. Di mana mereka? Padahal senja sudah hampir berakhir ... dan undangan akan datang setelah matahari terusir. Apa perjamuannya dibatalkan? Ketika sedang termenung sendiri, dari belakang William datang menegurnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tentu saja tidak."
"Tetapi ballroom masih tampak suram dan tidak ada makanan apa pun yang kelihatannya akan tersaji." Gadis itu makin tidak mengerti, tetapi berusaha tersenyum untuk keanehan ini. "Aku bisa membantu memasak jika diizinkan." Yang didapatkannya adalah senyum kaku sang kepala pelayan.
"Sebaiknya kau kerjakan saja tugasmu. Riaslah nona seanggun mungkin. Gaunnya telah disiapkan di atas ranjang, Tuan Hornest sendiri yang memilihnya."
Sebuah perintah yang seakan ingin menjauhkannya dari dapur. Tetapi tak mengapa, tugasnya memang menjadi pelayan pribadi. Dianggukkan wajahnya isyarat tak membantah. "Baiklah," jawabnya sambil memohon diri.
__ADS_1
Jejak kepergian gadis itu disusul helaan napas lega William. Sifatnya yang selalu ingin tahu dan banyak bertanya ternyata cukup merepotkan.
Di kamar nonanya, Adela melihat tubuh boneka masih terbaring di ranjang. Tak jauh darinya tersampir gaun berwarna merah layaknya darah yang bertebaran di atas ranjang, mengingatkan akan kejadian malam itu. Namun rimbunan hiasan payet bunga mawar melekat menutupi seluruh rok gaun menyingkirkan segala kenangan buruk. "Astaga! Gaun yang sangat indah!" serunya takjub. Dilirik iras nonanya yang masih terpejam lantas terbayang bagaimana perjamuan malam ini akan berlangsung. Dada Adela menggebu luar biasa, tak sabar untuk segera menjadikan sang boneka menjadi bintang utama daripara bangsawan ibukota. "Oh, Tuhan! Aku jadi bersemangat!"
Seiring waktu langit telah menjadi gelap, dan matahari berkelana ke wilayah lain, tugas Adela telah rampung sepenuhnya. Sang boneka menjelma menjadi wanita cantik, bayangan wajahnya terpantul dalam cermin.
Dari posisi terkulai Eien menegapkan tubuh. Kala mencermati dirinya dalam cermin ia dibuat terkesan oleh gaun merah yang dikenakannya begitu serasi dengan batu ruby yang terkalung di leher, ditambah riasan mengagumkan yang dilakukan Adela. "Merah ... warna ini akan membuatku menjadi pusat perhatian."
"Tentu, Nona. Ini adalah debut pertama Nona Selia di London sebagai seorang lady, tidak boleh ada tamu lain yang mencuri malam istimewa Nona. Oleh sebab itu, gaun ini dipilih sendiri oleh Tuan Hornest."
Wajah dalam cermin itu tersenyum penuh arti. Debut pertama? Eien teringat debut pertamanya di istana saat usianya genap seratus tahun, dan pria pertama yang berdansa dengannya adalah gurunya, Leon. Kenapa guru masih belum menjemputku di sini? Apakah Hornest memasang pentagram berupa tabir yang menghalangi penglihatan guru? Bila demikian maka aku memang tidak memiliki pilihan lain. Aku harus keluar dari kastil ini dengan usahaku sendiri. Air muka pelayanannya berubah dengan senyum bak dalam masalah, sepertinya ia terlalu lama memandangnya tanpa ada kata. "Warna pemerah bibirnya serasi dengan gaun ini. Dan kau sangat pandai merias, Adela," pujinya.
Adela senang mendapat pujian itu, hanya saja keresahan tadi belum menyingkir. Ekspresi nonanya tidak seperti biasanya. "Saya hanya melakukan apa yang saya bisa, Nona. Tidak banyak karena pada dasarnya Nona sudah terlampau … cantik! Dan tujuan saya telah tercapai malam ini. Saya yakin Nona akan menjadi wanita paling mempesona serta menawan hati seluruh tamu," serunya berapi-api.
Eien tertawa kecil. "Oh, kalau begitu selamat Adela. Kau berhasil. Hanya saja, kenapa harus seperti itu?"
"Tentu saja agar perhatian Tuan Hornest tidak beralih pada lady yang lain," jawabnya polos.
Tawa kecil Eien jadi terhenti beriringan dengan wajahnya yang berpaling merah. "Mungkin kau benar," desisnya gugup. Teringat akan pria itu, mata birunya kembali memandang begitu dalam pada Adela yang terkesiap. "Adela, dapatkah kau menolongku?"
Kata demi kata mengalir walau kadang tersendat karena ragu, Adela sampai memiringkan wajah, dahinya berkerut semakin dalam ketika mendengar permintaannya yang agak tidak masuk akal. Tidak terasa sisir dalam genggamannya jatuh ke lantai. Kalimat yang terucap oleh bibir kecil itu sanggup menggoyah kewarasannya. "Nonaaaa!"
__ADS_1
"Kau harus membantuku. Kumohoooon!" pinta Eien seraya meraih jemari Adela.
"Ta-tapi, Nona?!"