Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
28. Merayu Umpan


__ADS_3

Part 28


Sulit bagi Elena untuk mengalihkan perhatian dari sosok yang berdiri di sisinya kini. Semua mata tertuju padanya, mengamati kenggunan geriknya, seolah terdapat sihir yang menghisap kesadaran yang bertumpuk dalam dirinya. Pesonanya yang luar biasa sedikitnya telah memberikan rasa takut yang entah bagaimana perasaan itu dapat


muncul. Sebab, sejak dahulu kala sejarah selalu membuktikan bahwa kecantikan akan mengundang bencana. Apa yang baru saja ia pikirkan? Wanita ini tak melakukan kesalahan apa pun. Ditarik napasnya dalam-dalam demi mengendalikan prasangka, lebih memilih berharap kalau keindahan yang terjadi kali ini akan membawa keberkahan. Dikumpulkan keberanian untuk memulai percakapan, walau ia sendiri merasa bingung mengapa


bisa bertingkah segan seperti ini. Padahal ia yakin kalau dirinya cukup supel dalam bergaul. "Lalu, bagaimana Lady?" Kedua alis Eien terangkat. "Maksudku, kota ini. Bagaimana pendapatmu mengenai London? Kuharap London tidak terlalu membosankan, sebab kudengar dari berbagai buku dan kisah bangsawan lain kalau Romania adalah negara yang sangat indah."


London? Bagaimana mungkin Eien mampu memberikan jawaban yang menyenangkan hatinya? Andaikan ada kesempatan untuk berlenggang sejengkal keluar darigerbang kastil, tentunya ia pasti bisa menjawab sedikit saja dari pertanyaan itu. Dunianya saja hanya seluas kastil ini. Benar-benar sebuah ketidakberuntungan. Kristal biru itu mengerling ke lantai sejenak. "Bagaimana aku harus mengatakannya, Lady? Kondisi kesehatanku sungguh tak memungkinkan bagiku untuk keluar kastil. Terlebih bila memiliki saudara yang terlalu ketat menjaga, bahkan korset yang kukenakan ini masih lebih longgar dibandingkan pengawasannya."


Elena tercekat, kemudian tertawa kecil ketika Eien tersenyum simpul. "Oh, astaga. Maafkan atas ketidakpekaanku. Aku sungguh malu. Mungkin dilain waktu aku akan memberanikan diri meminta izin pada Duke Cloudivious untuk membawamu berkeliling kota. Aku harap tidak terlalu sulit mendapatkan izinnya."


Mata Eien membesar senang. "Itu akan menjadi sebuah kemewahan untukku, Lady Radringham. Pastilah menyenangkan menikmati langit biru di kota ini bersamamu." Bibirnya berbicara begitu lancar, akan tetapi sesekali matanya mengekor pada Adela yang memberikan pertanda di mana raut cemas bercampur kerisauannya mudah sekali terbaca. Bahkan kemahirannya dalam merias tak dapat menolong untuk menutupi mimik bingungnya. Eien balas tersenyum penuh arti, karena sepertinya Adela telah mengerjakan apa yang dimintanya tadi. Sekarang tinggallah bagian akhir dari rencana, sebab targetnya telah ditemukan. "Bagaimana jika sebagai permulaan, Anda


menemaniku berkeliling kastil ini? Selama ini melakukannya sendirian tanpa seorang kawan sungguhlah membosankan. Bila berkenan, bersediakah Lady memenuhi keinginan gadismalang ini?"


Walau agak tercengang, namun Elena cepat-cepat tersenyum. "Berkeliling kastil?"


"Ya. Tidak akan memakan banyak waktu. Anggaplah sebagai sebuah perjalanan menjelajahi duniaku. Apakah engkau tertarik?"

__ADS_1


Sejujurnya Elena senang mendapatkan ajakan itu, sebab kemungkinan persentase kedekatan mereka akan semakin besar. "Tentu. Rasanya terdengar menyenangkan. Terus terang saja, sebenarnya aku sudah lama dibuat penasaran oleh kastil ini karena suatu alasan. Hanya saja bagaimana dengan perjamuannya? Bagaimana bila Duke Cloudivious mencarimu?"


"Jangan khawatirkan hal itu sebab kita masih berada di area kastil. Nanti pelayanku sendiri yang akan memberitahukannya pada Hornest."


Suara yang begitu halus, menggelitik sanubari yang seolah menggoyah kesadaran. Elena tak mampu menopang pendirian hingga dayanya untuk menolak bagai uap yang terbakar matahari. Apa yang sedang menyelubungi wanita ini adalah suatu hal mistis yang sulit dinalar. Ini bukan sesuatu yang menyeramkan, melainkan keajaiban yang terlampau berlebih. Mengecewakannya rasanya akan menjadi hal yang menyakitkan. "Emm." Dan sekarang gadis misterius itu menunjukkan wajah memohon, mau tidak mau senyum Elena mengembang tanpa daya. "Ouh, baiklah, Lady."


Ingin sekali Eien bersorak gembira dikarenakan umpan yang ia lempar disambut tanpa pertimbangan lagi. Kedua


matanya menyipit demi menahan senyum kemenangan. "Itu merupakan kabar bagus. Terima kasih. Mari, Lady." Tanpa ragu ia menuntun Elena untuk meninggalkan ballroom secara diam-diam di antara kerumunan para bangsawan.


Jauh di belakangnya, Adela mengikuti dari jarak aman. Kekalutan yang luar biasa menyesakkan membungkus ketat benak si pelayan. Ketakutan yang tak terbayangkan mencekik lehernya hingga ia sendiri kesulitan bernapas disebabkan masalah ini dibanding karena korset yang dikenakan. Oh, Tuhan! Kuharap, aku tidak melakukan kesalahan besar. Ah, bagaimana mungkin ini bukanlah kesalahan? Kenapa aku berjanji pada nona sedangkan karena itu aku akan mengkhianati Tuan Hornest?! Kumohon, tuaaaan. Maafkan aku! jeritnya dalam hati.


Ya, memang masih belum ada yang ingin dikatakan sang boneka hidup, karena dirinya masih tenggelam dalam pencarian, yaitu menyelami jiwa gadis pirang tersebut melalui kedua mata ambernya yang indah hingga ke palung terdalam. Namun ternyata tindakan ini malah membuat Sang Lady dari istana menjadi canggung sebab pipinya telah merona. Tertunduk dengan gaya anggun, tidak mengherankan bila mata lelaki akan terjatuh dalam pesona itu.


"Kau luar biasa cantik, Lady," pujinya.


Sekejap Elena tersentak akan pujian tetiba tersebut. "Benarkah? Terima kasih," jawabnya tersipu. “Ta-tapi kau


jauh melebihi itu, Lady,” balasnya kikuk.

__ADS_1


Eien tersenyum lembut. “Aku sedang tidak membicarakan apa yang terlihat oleh mata.”


Kali ini Elena tercekat lalu memalingkan wajahnya yang merah padam. “Ah, maafkan aku. Tetapi aku tidak sebaik yang engkau sangka.” Itu benar. Alasannya mendekati gadis cantik ini dikarenakan nafsunya semata. Mengingat kenyataan itu sungguh membuatnya tertunduk malu. Ia merasa menjadi manusia yang tidak tulus, hipokrit! Padahal dengan sangat percaya dirinya ia menawarkan persahabatan pada wanita ini di hadapan kakak laki-lakinya yang ia incar. Bila dipikirkan ia bahkan tak lebih baik dari para lady yang sering digosipkan di istana.


“Engkau terlalu banyak berpikir, Lady. Semua orang pasti pernah jahat di dalam pikiran mereka sendiri. Tetapi memutuskan untuk menjelma menjadi kejahatan itu sendiri adalah sebuah pilihan.”


“Pilihan?”


“Ya. Apakah engkau akan menahannya menjadi niatan semata atau justru merealisasikannya menjadi sebuah tindakan.”


Sejenak Elena memikirkan makna dari kalimat itu, lalu tawa kecilnya pun terdengar lepas. “Kata-kata Anda sungguh telah membesarkan hatiku kembali.”


“Ah, syukurlah.” Selain dari hal tadi, ternyata Eien juga menemukan sesuatu. Mungkin pertanyaan ini akan terdengar lancang, hanya saja ia tak dapat berhenti demi memuaskan rasa ingin tahunya. “Bagaimana pendapat Anda mengenai saudaraku?"


Pertanyan yang sangat menjurus dan terlalu mendadak. “Eh? Ah, menurutku … be-beliau adalah seorang pria terhormat," jawabnya gugup tetapi juga merasa resah sekaligus.


"Hanya itu?" Elena terperanjat malu, tertunduk bingung seperti gadis remaja yang ketahuan menyembunyikan


sesuatu. Sepantasnya Eien tak perlu lagi melanjutkan permainan kecilnya, maka diraih pipi wanita itu. Gerakan ujung jari yang meluncur lembut di kulit Elena sanggup mengikat pikiran, menahannya dalam buaian yang meredupkan pandangan. Perlahan namun pasti, iris amber itu kian tertutup. "Kau akan baik-baik saja," bisiknya diiringi tubuh Elena yang terkulai lemah menuju rerumputan.

__ADS_1


__ADS_2