Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
20. Korban Pembunuhan


__ADS_3

Part 20


Langit telah menghitam, dan kehidupan seperti biasanya kembali ke dalam kastil. William tengah berada di dapur, menyiapkan dua cangkir teh bunga rosela bersama Adela. Aroma manis yang terbawa uap panas memberi ketenangan yang tersamar. Sudah pasti Adela jatuh hati oleh harumnya, hanya saja warna merah teh ini sedikit mengganggu lantaran gelas-gelas darah yang terus saja memenuhi mimpi buruknya. "Antarkan cangkir ini ke kamar Nona Selia, lalu temui tuan di ruangannya," perintah William yang meletakkan satu cangkir ke atas nampan, sisanya akan diantar sendirikepada tuannya.


"Baik," jawabnya yang tahu untuk apa majikannya ingin menemuinya. Setelah menyelesaikan tugas ia segera menuju ruangan Ernest. Dan William pun telah berada di sana, di ruangan yang temaram seperti biasanya. Mereka seolah menunggu kedatangannya, dan jujur saja, hal itu agak membuatnya gugup. "Tuan?"


"Sudah kau kirimkan?" tanya Ernest dari kursinya.


"Sudah, Tuan."


"Terima kasih." Lengkung tipis yang menyiratkan kepuasan merekah di wajah Ernest. Surat itu sangat penting dan semoga cepat sampai ke tangan yang ditujukan. Ia pun mengambil berkas keuangan rumah tangga di atas meja.


Well, senyum langka milik tuannya berhasil memerahkan wajah si gadis pelayan. Baginya tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat rona tuannya yangterlihat cerah. "Itu tugas mudah, Tuan," jawabnya merendah.


"Kau melakukannya dengan baik. Tanpa bantuanmu, surat itu tidak mungkin terbang dengan sendirinya. Aku harap jasa pengiriman tidak memiliki masalah hubungan kenegaraan dengan Spanyol." Ernest membuka berkas tadi karena William memintanya untuk memeriksanya.


Pujian itu berhasil membuat Adela tersipu malu. "Saya rasa jasa pengiriman akan baik-baik saja. Tetapi, hanya kota ini saja yang keadaannya tidak membaik."


Sebelah alis Ernest terangkat tanpa beralih dari isi deretan angka. "Kota ini sakit?"


"Ya, Tuan. Kota ini seperti jatuh ke dalam teror. Sebuah peristiwa mengerikan telah terjadi semalam."

__ADS_1


"Peristiwa?"


Rasa cemas di raut gadis itu seolah mengisyaratkan kalau matahari tak akan terbit esok hari. "Ya, Tuan. Telah terjadi peristiwa pembunuhan di kota. Korbannya adalah seorang wanita. Jasadnya ditemukan di pinggiran sungai. Menurut saksi mata, tubuhnya yang dibuang ke Sungai Thames tersangkut. Dan lagi, wanita itu tewas dengan cara yang – luar biasa mengenaskan," terangnya dengan nada mendramatisir diakhir kalimat.


Tak pelak garis bibir merah di sana mendatar, iris hitamnya tertuju langsung pada sang pelayan meninggalkan isi berkas tadi. "Mengenaskan?"


Pertanyaan yang menimbulkan rasa tidak nyaman, karena Adela teringat akan petualangannya tadi siang di halaman belakang kastil. Agak canggung diusap lengannya demi mengurangi kegugupan. "Ya, Tuan. Wanita itu ... tewas disebabkan oleh darahnya yang habis terkuras."


Sejenak ruangan menjadi senyap, hembusan angin dari jendela yang terbuka menggoyang api lilin di meja. Ruangan ini tidak terasa hangat, tetapi dingin yang  berkesan aneh, semacam ketika kau masuk ke dalam rumah yang angker, hawa dingin itu sanggup meremangkan bulu roma. Terlebih ketika William menatap Adela dengan begitu intens.


Berkas tadi pun tersingkir sebab berita yang dibawa pelayannya menarik untuk disimak. Ernest memiringkan wajah kemudian bertanya, "Benarkah?"


Susah payah ditelan air liurnya sebab kedua pria itu menatapnya lekatkini. "Y-ya. Walaupun petugas keamanan belum memberi keterangan pasti disurat kabar, tetapi saya melihat sendiri jasad itu ... kondisinya mengerikan." Raut majikannya yang tampak datar meresahkan Adela. Terus terang, reaksi itu membuatnya merasa aneh. Dilanjutkan kalimatnya perlahan. "Saya berharap pembunuhnya segera tertangkap. Sangat rawan berjalan di kota sendirian bila pembunuhnya masih berkeliaran. Terus terang, saya ... mengkhawatirkan keluarga saya di ibukota."


Kata-kata itu terdengar lembut dan sanggup meringankan beban dalam hati Adela, akan tetapi perasaan aneh tadi justru semakin bertambah. "Terima kasih, Tuan."


Jangan katakan Ernest tidak mengamati sikap kikuk Adela, debaran jantungnya yang meningkat serta kedua matanya yang terbuka lebar menandakan tengah menilai. Ernest tahu libasan benih kecurigaan mulai tumbuh dalam benaknya. Inilah mengapa ia sempat ragu untuk menerima Adela menjadi pekerjanya, gadis ini terlalu cerdas. Jika prediksi Ernest benar, cepat atau lambat rahasia kastil ini akan terbongkar olehnya. Tetapi untuk saat ini ia ingin meredam kobaran api yang sedang bermain dalam benak gadis kecil itu. Mungkin dengan menunjukkan sedikit empati akan membuatnya mirip seperti manusia. "Sungguh malang nasib wanita itu."


Adela agak tersentak karena simpati yang tiba-tiba, namun ia lekas menggeleng menandakan ketidaksetujuan. "Menurut saya, Tuan tidak perlu bersimpati pada wanita seperti itu."


"Wanita seperti itu?" ulang Ernest dengan nada bertanya.

__ADS_1


"Be-benar, Tuan. Wanita itu tidak layak mendapatkan simpati setelah menyakiti hati banyak istri dan meresahkan moral untuk anak-anak. Kejadian itu mungkin karma bagi wanita pendosa seperti dirinya, walau demikian saya pun mengutuk bagaimana cara pembunuh itu menewaskannya." Lipitan tipis yang sedikit tertutup rambut terbentuk samar di kening majikannya, namun Adela dapat menangkap isyarat pandangan bertanya mengapa ia dapat berkata menghakimi seperti itu. Maka ia lantas meneruskan kalimatnya. "Dia adalah seorang wanita tuna susila."


Kedua mata Ernest dan William saling beradu sesaat, ada isyarat tertentu yang berkelebat sekilas. Namun Ernest memilih menarik diri dari pembahasan sang korban. "Baiklah jika itu pendapatmu." Ia yang tidak ingin berkomentar mengenai moralitas dan status si korban memutuskan untuk mengganti topik. "Oh, ya. Penting untuk kau ketahui, Adela. Akhir pekan ini, aku akan mengadakan sebuah perjamuan besar di mana para bangsawan akan hadir menikmati makan malam di kastil ini. Dan yang mulia ratu akan datang berkunjung walau menurutku kecil kemungkinannya beliau hadir dikarenakan kesibukan kenegaraan."


"Oh, itu kabar yang bagus, Tuan!" sambut Adela yang tampak gembira dan antusias. Inilah hal yangdisukainya dari sebuah kastil, acara sosialita para bangsawan berpengaruh. Akan ada banyak hidangan lezat, pakaian indah yang mekar dan mewah, bisik-bisik dan tawa kecil dari para lady di balik kipas mereka serta dansa yang diiringi musik klasik. Itu romantis sekali. Walau ia hanya akan menjadi pengamat di luar lingkaran itu, ia tetap akan bergembira, terutama untuk nonanya nanti.


"Benar. Oleh sebab itu, aku ingin Selia dalam keadaan sehat untuk jamuan perkenalan keluarga kami kepada seluruh bangsawan kota ini. Jadi siapkan minumannya, karena kemarin ia hanya meminum sedikit."


Wajah Adela memerah mengingat bagaimana nonanya dapat menelan darah itu. "Ba-baik, Tuan. Segera saya siapkan."


Untuk sejenak Ernest jadi terdiam dan itu cukup lama, seolah tenggelam dalam sebuah pemikiran. William berdeham karena Adela masih menunggu majikannya berbicara atau setidaknya mengizinkannya pergi. "Ehem, Tuan?"


Iris kelam itu tertutup sesaat seperti telah mengambil keputusan berat. "Tidak, Adela. Aku sendiri yang akan memastikan Selia meminumnya. Sebentar lagi aku akan datang ke kamarnya." Nada suaranya bergetar dan syarat keraguan.


Adela terkesiap. "Baik, Tuan," jawabnya yang melihat Ernest membuka laci meja dan memberinya sekantung uang.


"Gunakan untuk membeli gaun yang menurutmu pantas untuk perjamuan. Aku ingin kau mendampingi Selia dengan pakaian yang layak. Tidak ada seorang pun yang boleh merendahkan pelayan yang bekerja padaku."


Setelah mengangguk mengerti diambil kantung uang yang tergeletak di atas meja. Ia tahu kalau tuannya ingin dirinya selalu berada di sisi nonanya. "Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


Begitu dirasa Adela telah menjauh dari koridor, William mendekati Ernest. "Bagaimana ini, Tuan?" tanyanya gelisah.

__ADS_1


Ernest menarik napas dalam seraya berdiri dari duduknya. "Aku sungguh tidak mengetahui mengenai hal itu ... hanya wanita itu yang dapat kutemui semalam. Apakah sekarang kita memiliki pilihan lain?" Kebimbangan yang tak diinginkannya kembali pulang. Sejak kapan hatinya menjadi rumah untuk perasaan seperti itu? Ah, sebaiknya ia segera pergi ke kamar tawanannya.


__ADS_2