
Part 37
“Apakah anggur yang kutawarkan terlalu pahit, Adela?” Eien merunduk laiknya bunga yang layu. Hal semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi, seperti halnya yang dialami Lyonis kala itu. Kedua matanya pun tertutup mencoba merelakan gadis ini. “Aku dapat melihat engkau yang berdiri di atas lapisan es tipis di danau dalam yang gelap. Satu-satunya jalan adalah di mana jalur kau datang. Hanya itu cara yang ada agar terselamatkan. Bila terus maju, mungkin lapisan itu akan retak di mana engkau pasti tenggelam dalam air danau yang gelap dan dingin. Pergolakan dalam dirimu begitu nyata, karenanya akan sangat kejam bila aku memaksamu untuk tetap berada di sisiku. Hornest pasti akan mengerti dan bersedia membiarkanmu pergi.” Tak pernah ia sangka jika waktu bersama si pelayan mungil akan sesingkat ini, meski begitu wajahnya kembali tegak demi memberinya senyum yang tulus. “Terima kasih atas semua perhatian yang telah kau berikan, Adela.”
Lapisan es di bawah kaki Adela memang sudah retak, hanya menunggu kapan ia melangkah dan melakukan kesalahan. Walau sudah menoleh ke belakang, tempat di mana ia seharusnya kembali, nyatanya ia masih berdiri seolah sepatu lusuhnya terbuat dari batu. Ia ingin lari, akan tetapi perih dalam hatinya terus membuncah tak mereda karena ucapan perpisahan penuh lara. Air matanya mengalir memikirkan apakah semuanya telah berakhir di sini? Setelah jatuh hati pada kedua makhluk itu, kini ia akan terlempar keluar dari pusaran danau misterius ini. Mereka akan lenyap di balik benteng yang mungkin semakin tinggi. Tak ada lagi kesempatan untuk berbincang ringan dengan tuannya, melayani dan merias wajah cantik sang nona, atau diajarkan beberapa keterampilan oleh William. Apa yang akan terjadi bila mereka hilang dan tak jadi bagian dari hidupnya? Apakah akan terasa lega karena terbebas dari marabahaya? Bila memang begitu adanya, lalu mengapa dadanya terasa sesak. Yang dirisaukan justru malah hal yang mengabaikan keselamatannya sendiri. Bukankah sudah jelas kalau ia enggan berbalik ke belakang tanpa peduli lapisan es itu akan pecah atau tidak. “Be-benar,” lirihnya.
Mendengarnya Eien makin sedih. “Maaf, Adela, bila kami ternyata telah mengecewakanmu.”
Gadis itu menggeleng pelan, lalu merahap di lantai kereta, wajahnya menengadah menemukan iras yang terkejut bingung. “Bukan begitu maksud saya, Nona.” Raut Eien berubah bertanya. “Tak mengapa bila es itu pecah, tak masalah jika saya harus tenggelam dalam danau beracun sekalipun asalkan saya menemukan nona di dasarnya.”
Kedua mata Eien membesar. “Adelaaaa?”
“Itu benar, Nona. Mungkin saat ini saya tidak paham dengan apa yang saya sendiri katakan. Tetapi pada kenyataannya hal yang tidak saya inginkan adalah berpisah dengan Anda. Jikalau memang apa yang Nona katakan benar adanya, mengapa sampai detik ini saya masih hidup? Saya menyaksikan sendiri apa yang terjadi tadi, dan apa yang menjadi percakapan dua pria asing itu. Sejujurnya, sejak tadi saya terus bertanya dalam hati, apakah saya harus lompat saat ini juga dari kereta? Jika keberadaaan saya memang membahayakan, seharusnya tuan juga sudah telah membunuh saya di tengah hutan. Tidak ada seorang pun yang tahu bahkan peduli jika pelayan rendah seperti saya tewas terbunuh. Tapi pada kenyataannya, tuan masih memberi saya kesempatan menaiki kereta ini bersama Anda. Itu artinya saya tidak dalam bahaya, bukan?”
Eien meraih jemari Adela. “Aku sendiri yang akan melindungimu bahkan dari Hornest sekalipun.”
__ADS_1
“Saya percaya itu, Nona.” Adela balas merenggut kuat jemarinya. “Karena itu, izinkan saya untuk terus berada di sisi Anda. Sa-saya yang manusia rendah ini akan melakukan apa pun untuk Anda.” Itu benar. Seperti gambaran mitosnya, vampir dianggap sebagai monster atau bahkan iblis yang ganas dan jahat, tetapi bagi dirinya makhluk di hadapannya ini merupakan sebuah cahaya terang, yang menariknya masuk ke dalam danau yang mungkin tanpa dasar. Apakah itu yang menjadi kengerian yang sebenarnya?
“Aku percaya itu. Kau telah membuktikannya saat nyawa kita terancam. Tetapi aku mohon, janganlah kau mengulanginya lagi. Aku tidak akan sanggup menanggungnya.”
Sekejap Adela terpana, namun kemudian ekspresinya melunak lantas tersenyum hingga kedua matanya menyipit. “Saya tidak bisa berjanji, tapi akan saya berusaha agar Nona tidak bersedih hanya karena saya.” Begitu pula Eien yang membalas dengan senyum tulus yang indah. Senyum itu …. Bagaimana mungkin Adela sanggup merelakannya. Sosok nonanya telah menjadi cinta dalam hidupnya. Apakah ini yang disebut ikatan khusus yang terhubung dengan majikan? Adela sering mendengar kisah tetangga atau sahabatnya yang menjadi pelayan pribadi seorang bangsawan. Entah bagaimana mereka merasakan keterikatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata pada majikan mereka sendiri, laiknya seekor anjing yang telah tunduk dan pasrah pada pemiliknya.
Kereta kuda Elena telah kembali ke kastil, Eien hanya bisa menarik napas dalam saat pintu kereta terbuka dan menampilkan Ernest di baliknya. Tanpa banyak bicara ia turun sembari dibantu pria itu. Di sisinya berdiri William yang turut menyambut dengan ucapan selamat datang. Walau hanya sebuah kalimat sederhana yang biasa dikatakan para pelayan, namun bagi Eien barisan kata itu memiliki makna yang sanggup merenggut kemerdekaan. “Aku sungguh menyesal atas tingkahku kali ini, William. Maafkan aku yang telah merusak acara perjamuan.”
Alis William terangkat tanda bertanya. "Sungguh hamba tidak mengerti mengenai apa yang Nona bicarakan. Sejauh pengamatan hamba, acara berjalan meriah dan lancar. Musik, dentingan peralatan makan serta kegembiraan memenuhi isi kastil, bahkan Nona menjadi topik utama dalam setiap perbincangan."
Eien agak terpana. Apakah ia harus menyesalkan ketiadaannya dalam acara yang tampak menyenangkan itu? Atau ia lebih menyesalkan kegagalannya dalam melarikan diri. Seandainya saja tidak ada kejadian penghadangan oleh dua makhluk terkutuk itu, mungkin kini ia telah sampai di pelabuhan. “Kalau begitu aku akan bersyukur atas suka cita itu, William.” Ia menoleh ke belakang, pada Adela yang akan turun dari kereta. Setidaknya, ia telah mendapatkan seorang manusia yang mencintai dirinya. Aku akan bersyukur untuk itu.
"Sebaiknya kita ke dalam," ajak Ernest.
Isi ruang kastil yang telah kembali seperti semula mengejutkan Adela. Semua hiasan telah lenyap, cahaya ruangan menjadi temaram, dan suara merdunya musik berganti senyap. Kemana semua itu pergi? Selain dirinya yang terheran-heran, yang lain justru tampak biasa saja. "Tu-tuan, bagaimana dengan perjamuannya?"
__ADS_1
"Tentu mereka sudah kembali setelah jamuan makan malam berakhir."
Jawaban itu terlalu sederhana. "Ma-maksud saya, bagaimana bisa semua ini terjadi? Sekejap semua berhias indah, kemudian tiba-tiba saja semua kembali seperti semula. Sungguh tidak masuk diakal. Apalagi kita tidak berpapasan dengan satu pun kereta kuda para undangan saat kembali."
"Ilusi," jawab Eien.Dibelainya pipi gadis mungil itu yang tampak kebingungan. “Mata manusiamu tidak akan bisa membedakannya. Dan jalur itu, pasti Hornest enggan mengungkapkannya. Terlalu rumit untuk kau mengerti.”
"Dari mana Nona tahu?"
"Seseorang pernah mengajarkannya padaku," jawabnya lagi. Ernest melebarkan mata memandangnya sehingga kedua mata mereka saling bertaut.
"Siapakah dia, Nona?"
"Tentu saja guruku." Bila dicermati, memang ada sesuatu yang janggal pada perawakan penculiknya. Saat di hutan ia bahkan salah mengenali pria ini sebagai gurunya. Alhasil, rasa malu pun hinggap di benaknya karena telah bertingkah seperti wanita tak waras. “Ya, tapi entah mengapa engkau memiliki sosok guruku,” sambungnya namun tertuju pada Ernest.
“Guru?” ulang Adela yang turut mengamati wajah Ernest yang menurunkan pandangan demi menyembunyikan seberkas kesedihan.
__ADS_1
“Benar. Beliau adalah seorang pria terhormat.”
Sontak tatapan Ernest kembali terangkat di mana seberkas sinar harapan berbinar terang. "Apakah kau mengingat sesuatu?"