Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Kenapa jadi begini


__ADS_3

"Cantik banget...." puji Ozza dalam hati.


Merasa di perhatikan secara berlebih, pipi Hasna memerah.


"Kenapa lihatnya seperti itu? aneh ya?" tanya Hasna.


"Eng...nggak ..cuma kaget aja kan biasanya pake masker terus.." jawab Ozza tanpa mengedipkan mata.


"Udah jangan lihat terus, ayo kita mulai belajar.." Hasna berniat mengalihkan pembicaraan.


Tujuan utama Ozza hanya mendekati Hasna dengan modus belajar, tapi yang ada dia malah kebawa suasana dan nyaman belajar beneran dengan Hasna.


Perlahan Ozza mulai menyukai jendela dunia tersebut. Lembar demi lembar dia telusuri dengan seksama , apalagi Hasna sangat pandai memandu Ozza dalam belajar.


Kata kata yang lembut serta sesekali di iringi dengan senyuman itu yang membuat otak Ozza mendadak encer, berbeda jika sedang berhadapan dengan para dosen killer yang selalu membekukan otak dan aliran darahnya.


Tak terasa sudah satu jam mereka belajar bersama. Padahal lima menit saja biasanya Ozza sudah tidak betah lama lama memandangi sebuah cover buku. Baru cover nya saja, belum isinya.


Tapi kali ini dia bertahan hingga satu jam, sungguh sebuah pencapaian kedua setelah kemaren berhasil masuk perpustakaan.


"Hasna, ajak nak Ozza istirahat dulu gih...tuh udah bunda buatin minum" tutur bu Farida.

__ADS_1


"Makasih tante, nggak perlu repot repot" sahut Ozza.


"Ah tidak repot kok, kalau ada tamu memang harusnya di kasih jamuan" ucap bu Farida kemudian.


Entah kenapa Ozza merasakan hal yang berbeda selama satu jam berada di rumah Hasna. Kehangatan keluarga begitu terasa di sana. Satu hal yang tidak pernah Ozza rasakan selama ini di keluarganya.


Kehangatan itu semakin terasa ketika ayah dan bunda Hasna sejenak menemani mereka meminum teh hangat yang di sajikan oleh bu Farida.


"Kenapa jadi begini sih? kenapa aku malah nyaman?" tanya Ozza dalam hati.


Selain merasa nyaman dengan kehangatan keluarga Hasna, Ozza juga mengenal sisi lain dari gadis tersebut yang tidak dia lihat selama di kampus. Mungkin benar istilah, tak kenal maka tak sayang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ayah Hasna memberikan petuahnya kepada Ozza.


Ozza mengerti akan maksud ucapan pak Budi, walaupun dalam hatinya sempat menggerutu.


"Jam sembilan istirahat? udah kayak anak SD aja...biasanya juga aku jam segini malah baru berangkat dugem"


"Iya om, saya mau pamit dulu.. terima kasih atas jamuannya tante" tutur Ozza dengan sopan meski sebenarnya sedikit kesal.


Dia berpamitan juga kepada Hasna. Gadis itu bersama kedua orang tuanya mengantar Ozza sampai ke depan pintu.

__ADS_1


Hingga Ozza sudah berlalu, pak Budi belum mengetahui seperti apa Ozza sebenarnya.


"Bunda.." panggil Hasna ketika berada di dapur usai membereskan gelas di meja.


"Iya nak...ada apa?" tanya bu Farida.


"Kenapa tadi bunda berbohong pada ayah?" tanya Hasna lirih.


Bu Farida tersenyum,


"Biar ayah mengizinkan Ozza belajar bersama kamu... lagian ucapan itu doa..siapa tahu dengan ucapan bunda tadi, Ozza menjadi seperti yang bunda katakan..." tutur bu Farida.


" Amiin bun, semoga aja ya..." sahut Hasna.


Di lain tempat, Ozza tersenyum sendiri sambil menyetir mobil.


Dia masih tidak percaya dengan yang dia alami dan rasakan malam itu.


"Ozza ... Ozza.... kamu emang gila..." pria itu ngomong sendiri sambil tersenyum senyum.


Terlalu larut dalam lamunan konyolnya, hingga tanpa sengaja mobil Ozza membentur sesuatu,

__ADS_1


Braaaaagh....


__ADS_2