
"Bun, apa dulu kakak kakak Hasna pernah merasa keberatan dengan keputusan ayah?" tanya Hasna.
"Pernah, kedua kakak kamu awalnya keberatan tapi mereka tidak bisa membantah kemauan ayah kalian. Namun pada akhirnya kehidupan rumah tangga mereka baik baik saja. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan ayah untuk menjodohkan kamu" ujar bu Farida.
Hasna terdiam.
"Hasna, kamu tenangkan hati dan pikiran kamu agar bisa berpikir jernih. Bunda selalu dukung apapun yang menjadi pilihan kamu, tapi sebelumnya istikharah lah untuk mencari petunjuk" bunda Hasna menasehati putrinya yang sedang berada di ambang kegelisahan.
Malam hari.
"Hasna " panggil pak Budi usai makan malam.
"Iya yah" sahut Hasna.
"Malam ini keluarga Ali akan datang untuk ta'aruf " kata ayah Hasna .
"Ali? Ta'aruf?" tanya Hasna.
"Iya, Ali adalah nama calon suamimu. Dia akan ke sini bersama kakaknya" jawab pak Budi.
Raut wajah Hasna tiba tiba meredup, pertemuan itu di rasa terlalu cepat.
Mau menolak pun percuma karena orang yang mereka bicarakan sudah berada di depan rumah.
"Assalamualaikum" terdengar seseorang mengucap salam.
"Waalaikumsalam, mari mari masuk" sapa pak Budi yang begitu gembira menerima tamunya malam itu.
__ADS_1
Setelah semuanya duduk, pak Budi memperkenalkan Hasna kepada Ali dan kakaknya.
Dalam ajaran Islam memang tidak ada istilah pacaran, jadi perkenalan serta pertemuan mereka selanjutnya selalu di dampingi pihak keluarga hingga akhirnya mereka menjadi halal untuk berdua.
Satu jam duduk di kursi panasnya, Hasna merasa berada di sebuah ruang sidang dengan di hadapkan oleh jaksa dan penuntut umum.
Tidak ada ruang gerak untuk berdalih, dan hanya bisa menerima keputusan pak Budi selaku hakim dalam sebuah persidangan.
Usai memperbincangkan banyak hal, akhirnya mereka berpamitan. Hasna bernafas lega ketika dirinya bisa berdiri dari kursinya dan segera masuk ke dalam kamar.
Malam itu pikirannya sangat kalut, masih belum bisa bayangkan bahwa dirinya akan menikah di usia dini. Walaupun dalam pertemuan tadi sempat di bicarakan jika Hasna sudah menikah tetap di perbolehkan kuliah hingga mendapat gelar sarjana.
Tapi tetap saja tidak nyaman rasanya jika kuliah terikat rumah tangga.
Mata Hasna perlahan mulai terpejam, dan dalam mimpinya dia melihat sosok seseorang.
"Jangan pergi!" teriaknya.
"Astaghfirullah aku bermimpi? "
Hasna meraih botol minum yang dia taruh di meja dekat kasurnya.
Hasna menghembuskan nafas kasar , baru tiga puluh menit lalu dia terlelap, namun mimpi sudah mendatanginya.
"Ozza?" ternyata sosok yang muncul dalam mimpi Hasna adalah Ozza.
Ingin rasanya dia meminta bantuan Ozza untuk membantu menggagalkan rencana perjodohan itu, namun dia teringat pertengkaran mereka siang tadi.
__ADS_1
"Mana mungkin dia mau membantuku" gumamnya.
Hasna mencoba menghapus keinginan untuk meminta bantuan Ozza, tapi bayangan Ozza semakin menghantui.
"Bismillahirrahmanirrahim" , Hasna mengklik tombol pesan dan mengirimnya kepada Ozza.
Di lain tempat,
Mantan playboy cap kadal itu sedang memainkan gitar di tepian kolam renang di belakang rumahnya.
Nyanyiannya terhenti ketika ponselnya berbunyi.
"Ozza, jika memang kamu benar benar mencintaiku, berjuanglah untuk kita. Karena ayahku menjodohkan ku dengan laki laki pilihannya"
Deeggggh,
Ozza terkejut setelah membaca pesan dari Hasna.
"Aku pasti akan berjuang. Akan aku buktikan jika aku benar benar serius. Tapi bagaimana caranya?"
balas Ozza.
" Jadilah sosok lelaki idaman ayah" balas Hasna.
"Lelaki idaman ayah?" Ozza bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku harus menjadi..."
__ADS_1