Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Hidayah


__ADS_3

"Waalaikumsalam, mari masuk nak. Ajak papa kamu masuk juga" sapa bu Farida.


"Iya tante, terima kasih" jawab Ozza sambil memberikan sebuah kursi untuk papanya. Sementara dirinya berdiri di belakangnya.


Pak Budi bisa saja bersikap acuh pada Ozza , tapi tidak mungkin akan bersikap acuh pada papanya.


"Terima kasih bapak sudah menyempatkan diri menjenguk putri saya" ucap ayah Hasna dengan sopan.


"Iya pak, sama sama. Kami sangat berhutang budi pada kalian yang dulu pernah menolong Ozza waktu kecelakaan" jawab Dimas.


"Ah, tidak perlu menganggapnya hutang. Sesama manusia memang kewajiban kita saling tolong menolong" sahut pak Budi kemudian.


"Tapi memang lebih dari itu pak kebaikan yang anda sekeluarga berikan kepada kami, terutama Hasna" jawaban Dimas kali ini membuat kedua orang tua Hasna penasaran dengan maksudnya.


"Maksud bapak?" tanya bu Farida.


"Kehadiran Hasna dalam hidup Ozza membawa dampak yang sangat positif bagi putra kami. Dulu dia susah di atur, pembangkang dan suka, .... "


pak Budi hampir saja mau menyebutkan kebiasaan Ozza yang suka ganti ganti perempuan. Tapi dia hentikan ucapannya walaupun hal itu sudah tertebak di pikiran pak Budi.


Setelah memberi sedikit jeda, papa Ozza kembali bersuara,


"Sudahlah tidak perlu saya ungkapkan semua, yang jelas dulu Ozza banyak melakukan hal yang kurang positif. Dan sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan dia rajin mendatangi ulama untuk menuntut ilmu agama . Dan hal itu juga mampu menyeret kami ke arah positif tersebut, sehingga kami sekeluarga sering mengaji bersama ke rumah ulama dan itu semua karena Hasna"


"Bukan, bukan Hasna yang melakukannya om. Tapi Allah yang memberi hidayah" entah ada angin apa tiba tiba Hasna menyela.


"Benar pak, itu hidayah dari Allah yang mungkin datangnya lantaran dari Hasna. Betul kan yah?" bu Farida malah melempar pertanyaan kepada suaminya.


" Oh, ii..iii.iiya betul" jawab suami bu Farida gelagapan karena dia sempat melamun dan berpikir bahwa Ozza sengaja menyuruh papanya menceritakan kebaikannya di depannya.


Usai membahas perubahan Ozza, mereka fokus beralih membicarakan keadaan Zahra.

__ADS_1


"Kakak Hasna sakit apa pak, kok sampai pingsan?" tanya papa Ozza.


"Menurut pemeriksaan Dokter, asam lambungnya tinggi sementara tekanan darahnya rendah. Sehingga tubuhnya lemas lalu pingsan" jawab bu Farida.


"Oh , harus hati hati pola makan nya jika terkena asam lambung"


Mereka masih saja berbincang seputar keadaan Zahra, hingga akhirnya perbincangan mereka terhenti setelah ada dua orang berbadan tegap masuk ke ruangan itu.


"Permisi, apa ini ruangan nyonya Zahra?"


Melihat kehadiran kedua orang itu Zahra segera menarik lengan bundanya seolah minta perlindungan,


"Bunda, Zahra takut" lirihnya dengan gemetar.


"Tenang nak, tenang. Ada kami di sini" bu Farida berusaha menenangkan meski beliau tidak tahu apa masalah mereka.


Merasa putrinya dalam bahaya, pak Budi segera bertindak.


"Baiklah, segera lunasi hutangnya. Atau kami akan lapor polisi sebagai kasus penipuan!" jawab dua orang dua orang tersebut yang rupanya berprofesi sebagai debkolektor.


"Hutang? berapa hutangnya?" tanya pak Budi, sementara tangis Zahra tiba tiba semakin menjadi.


"Tenang nak, tenang. Semua baik baik saja" lagi lagi bu Farida berusaha memberi ketenangan.


"Dua ratus juta!"


Satu nominal yang cukup membuat jantung pak Budi sejenak berhenti berdetak.


"Dua ratus juta? hutang apa itu Zahra? benarkah hutangnya sebanyak itu?" tanya pak Budi kepada putrinya.


Dengan sangat berat Zahra mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana? anda bisa melunasinya sekarang juga? karena kami sudah terlanjur sering memberi waktu tapi tidak ada bukti untuk membayar!" bentak kedua debkolektor itu.


Tubuh pak Budi tiba tiba lemas dan jatuh ke kursi. Tidak bisa dia bayangkan dari mana mendapat uang sebanyak itu ? tapi jika tidak di lunasi, maka malam itu juga Zahra akan di bawa ke kantor polisi.


"Beri kami waktu" tukas pak Budi lirih karena kehabisan tenaga.


"Tidak bisa! Lunasi sekarang atau kami akan membawa nyonya Zahra ke kantor polisi!" tegas dua pria itu.


"Kami akan lunasi sekarang!"


tiba tiba muncul suara yang mengejutkan semuanya.


"Anda siapa?" tanya salah satu pria itu.


"Saya paman Zahra!" jawab Dimas papa Ozza yang mengaku sebagai paman Zahra.


"Pak Dimas, jangan!" ucap bu Farida.


"Tidak apa apa bu, dari pada Zahra harus di bawa ke kantor polisi. Dia kan sedang sakit" sahut Dimas.


Sementara pak Budi sudah tak berdaya lagi untuk melarang atau pun sekedar membela putrinya.


"Baik, cepat keluarkan uangnya sekarang juga" desak kedua pria itu.


Pak Dimas mengeluarkan sebuah cek berisi nominal angka dua ratus juta dan segera memberikan kepada kedua penagih hutang tersebut.


Setelah berhasil menerimanya, mereka berdua meninggalkan tempat.


"Kami tidak tahu apa yang harus kami katakan, karena rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup . Dan bahkan kami juga belum bisa memikirkan bagaimana caranya mengembalikan uang sebanyak itu" kata pak Dimas dengan raut wajah lesu yang tertunduk.


"Sudahlah pak, jangan bicara seperti itu. Uang bisa di cari. Tapi putra putri kita adalah harta yang paling berharga untuk kita lindungi. Saya doakan semoga keluarga pak Budi lekas di beri kelancaran rizki agar bisa mengembalikan uang tersebut. Tapi jika memang belum ada, saya tidak memaksa"

__ADS_1


Satu jawaban yang menusuk hati ayah Hasna yang selalu menyudutkan Ozza, namun ternyata dua kali sudah Ozza telah menjadi dewa penolongnya.


__ADS_2