
"Kamu masih di sini?" tanya Najwa.
"Iya kak, maaf barang kali om Budi masih perlu di antar" ucap Ozza dengan senyum ramah.
"Oh gitu? tuh yah mau di anterin lagi sama Ozza. Udah naik aja yah, mumpung belum jadi pesan ojol" kata Najwa.
Pak Budi terpaksa kembali menuruti kemauan putri sulungnya.
Mereka berdua pun naik ke mobil dan kembali ke Rumah Sakit.
Sama halnya waktu berangkat, suasana hening menyelimuti perjalanan mereka hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Makasih" satu kata yang sempat ayah Hasna lontarkan pada Ozza dengan nada datar tanpa senyum di bibir.
"Sama sama om" jawab Ozza tetap dengan senyum ramah.
Setelah pak Budi masuk ke dalam, Ozza memutar balik mobilnya lalu pulang.
"Ayah sudah datang bun" ucap Hasna yang melihat ayahnya dari kejauhan.
"Tadi ke sini naik apa yah?" tanya bu Farida.
"Ya sama kayak berangkatnya tadi " jawab pak Budi yang enggan menyebutkan nama Ozza.
__ADS_1
"Di antar Ozza lagi yah? sekarang Ozza nya mana yah?" tanya Hasna.
"Udah pulang. Udah kamu jangan nanya terus soal dia, nggak baik perempuan tanya tanya keberadaan laki laki!" tegas pak Budi pada putri bungsunya
"Iya yah," jawab Hasna dengan menyembunyikan senyumnya.
Dalam hatinya berkata bahwa ayahnya sudah mulai goyah pendiriannya, dan Hasna berharap akan semakin akrab hubungan ayahnya dengan Ozza.
-------
Di rumah Ozza.
"Za, dari mana aja kamu ? jam segini baru pulang?" tanya Dimas papa Ozza yang masih terjaga di depan televisi menonton piala dunia.
"Ozza habis dari Rumah Sakit pa" jawab Ozza sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk sebelah papanya.
"Bukan pa, aku mengantar keluarga Hasna" jawab Ozza singkat.
"Hasna? dia sakit ya?" tanya pak Budi lagi.
"Enggak pa, kakaknya pingsan. Dan ketika aku ke rumah Hasna, mereka sedang kebingungan mencari kendaraan untuk membawa kakak Hasna ke Rumah Sakit karena mobil om Budi berada di bengkel. Jadi akhirnya aku yang ngantar mereka sampai larut begini" jawab Ozza apa adanya.
"Kamu hebat nak, kamu tetap berjuang meski
__ADS_1
di pandang sebelah mata" ucap Dimas sambil menepuk pundak putranya.
"Makasih pa . Bagi Ozza yang penting adalah bagaimana caranya kita menanam kebaikan, tanpa perlu kita bingung bingung memikirkan bagaimana caranya kita memanen hasil kebaikan tersebut" ucapan Ozza bagaikan tetesan embun yang menyejukkan hati sang ayah.
" Papa bangga sama cara berpikir kamu Za, dan lebih bangga lagi pada Hasna yang mampu merubah cara berpikir kamu. Jangan pernah kamu sia siakan perempuan itu" petuah dari papa Ozza.
"Pasti pa" Ozza nampak begitu yakin.
"Baiklah kamu istirahat saja sana, besok kita jenguk mereka di Rumah Sakit" ucap ayah Ozza.
Pria beranjak dewasa itu menganggukkan kepala lalu pergi menuju kamarnya.
Keesokkan hari .
Ozza pulang dari kuliah dan segera ganti baju. Siang itu dia punya janji dengan papanya untuk pergi menjenguk Zahra.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di Rumah Sakit.
Ozza mengetuk pintu,
Tok..tok...tok...
Ozza membuka pintu ketika melihat pintu setengah terbuka.
__ADS_1
"Kamu la..." ucapan pak Bud terhenti ketika melihat ada papa Ozza di belakang pria itu.
"Assalamualaikum" salam dari Ozza membuat pak Budi berhenti berbicara.