
"Jika apa Hasna? katakan!" ucap Ozza.
"Jika kamu menjauhiku!" jawab Hasna datar.
"Aku tidak bisa! Aku akan terus mengejar mu, hingga kamu yakin bahwa aku sangat mencintaimu bahkan tanpa taruhan apapun!" tegas Ozza
"Turunkan aku di sini!" tegas Hasna.
"No! " balas Ozza.
"Aku akan lompat!" tutur wanita berhijab itu.
Cccttttt.
Mobil Ozza akhirnya menepi. Dia turuti kemauan Hasna hingga akhirnya wanita itu turun.
Tidak mau di anggap sepele, Ozza menemani Hasna yang berjalan menyusuri tepian jalan.
"Kenapa mengikuti ku? masuklah ke mobilmu dan pulang lah!" perintah Hasna.
"Sudah aku bilang aku akan buktikan bahwa aku benar benar mencintaimu!" sangkal Ozza.
Hasna berhenti dari langkahnya lalu menghembuskan nafas kasar.
"Untuk apa kamu mengejar ku? Jangan keras kepala!" tutur Hasna.
__ADS_1
"Dan untuk apa kamu menghindar? Jangan keras kepala !" Ozza tak ingin kalah.
"Baiklah, ayo kembali ke mobil. Aku hanya tidak ingin kamu melakukan hal bodoh dengan meninggalkan mobilmu di tepian jalan hanya untuk mengejar ku !" ucap Hasna sambil berjalan berbalik arah.
Senyum terukir di bibir Ozza yang berhasil menggoyahkan benteng pertahanan Hasna.
Keduanya kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke rumah Hasna.
Selama di perjalanan tidak terjadi percakapan, keduanya sama sama diam.
Lima belas menit kemudian Hasna telah sampai di rumahnya, berusaha menutupi masalah mereka di depan sang ayah dan ibu Hasna masuk ke dalam rumah dengan salam dan senyum ramah. Sementara Ozza hanya mengantar Hasna hingga ke depan pintu.
"Hasna tunggu!" panggil sang ayah.
"Ada apa ayah?" tanya Hasna dengan sopan.
Bu Farida dan putrinya saling memandang karena kurang paham dengan isi pikiran sang kepala keluarga.
"Hasna, kamu sudah dewasa. Ayah mau menjodohkan kamu dengan putra seorang ulama, beliau adalah sahabat ayah waktu dulu di pondok pesantren"
Deggggh,
Hasna terkejut.
"Tapi yah, Hasna masih kuliah?" gadis itu ingin menolak.
__ADS_1
"Ayah tidak melarang mu kuliah, bahkan calon suami dan calon mertuamu juga menyetujuinya. Ayah hanya melindungi kamu nak, pergaulan jaman sekarang sangat menakutkan. Apalagi ayah lihat sekarang kamu nampak dekat dengan laki laki yang kurang baik" tukas sang ayah.
"Kurang baik?" tanya Hasna.
"Iya, mungkin kamu tidak tahu atau menutupinya dari ayah. Ozza adalah laki laki yang suka ganti ganti pacar, mau jadi apa kamu dekat sama dia?" tutur pak Budi.
Hasna menunduk.
Dalam hati mengiyakan ucapan ayahnya, apalagi mengingat bahwa niat Ozza mendekatinya hanya karena sebuah pertaruhan.
Tentu sang ayah akan semakin membencinya jika tahu akan hal itu.
"Baiklah, ayah rasa kamu sudah mengerti maksud ayah. Kamu segera sholat, makan lalu istirahat" ujar ayah Hasna kepada putrinya.
Hasna pun menurut, dia seger menuju ke dalam kamar.
Melihat ada yang mengganjal di hati putrinya, bu Farida mengikuti langkah Hasna menuju kamar.
"Bunda, bagaimana ini? apa aku harus menerima perjodohan ini? kenapa bunda tidak memberi tahu Hasna tentang hal ini?" tanya Hasna kepada sang ibu.
" Maafkan bunda nak, bunda juga nggak tahu tentang rencana ayah kamu" jawab bu Farida.
"Coba lah bunda kasih tahu ayah untuk menunda perjodohan ini, Hasna belum siap bunda" pinta Hasna kepada sang ibu.
"Sepertinya susah nak, kamu tahu sendiri bagaimana dulu ayah mu menjodohkan kedua kakakmu?"
__ADS_1