
"Bunda juga nggak tahu nak, ayo kita lihat" ajak bu Farida sambil menggandeng Zahra.
Sesampainya di dalam rumah mereka di hadapkan dengan perdebatan antara Najwa dan Abdul suami Zahra.
"Kakak jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, karena kakak tidak tahu awal masalahnya !" bentak Abdul.
"Apapun masalah kamu, tidak ada benarnya menyelesaikan masalah dengan kekerasan!" Najwa tak mau kalah.
"Sudah lah kak, urus saja rumah tangga kakak sendiri yang mungkin juga sedang bermasalah" sahut Abdul mencoba menerka.
"Apa maksud kamu? kamu tidak perlu menggurui ku" Najwa tak kalah tegang.
"Chhhhh, jika rumah tangga kakak baik baik saja, mengapa kakak tinggal di sini sendiri? mana suami dan anak kakak? tidak ada, atau jangan jangan suami kakak sudah menceraikan kakak karena tidak betah punya istri yang banyak bicara?"
Plakkkkk,
Satu tamparan mendarat di pipi Abdul.
__ADS_1
Bukan dari tangan Najwa, melainkan dari tangan mertuanya.
"Cukup ! Cukup satu putriku yang kamu buat sakit, jangan kamu tambah dengan menyakiti hati putriku yang lain" bentak pak Budi dengan amarah.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Zahra dengan mata berkaca kaca.
"Aku mau ambil Zein tapi di larang oleh kakak mu !" jawab Abdul dengan membuang muka.
"Bukan hanya kakakku, tapi aku dan kami semua tidak mengizinkan kamu mengambil Zein !" tegas Zahra.
"Apa? aku seenaknya sendiri? kamu kira siapa yang melunasi hutang dua ratus juta atas nama kamu itu? siapa yang menanggung luka dari pukulanmu setiap hari? dimana letak enak nya aku?" Zahra meluapkan semua emosi yang selama ini dia pendam.
"Pintar sekali kamu bertanya seperti itu dan menjelekkan aku di hadapan orang tuamu? aku memukulmu karena sebuah alasan, bukan sekedar menyiksamu mentah mentah. Karena aku menjadi orang yang paling bertanggung jawab sebagai suamimu, jadi wajar jika aku mendidik mu meski dengan sedikit keras. Kamu nya saja yang cengeng dan suka ngadu!"
"Apa kamu bilang?" tangan pak Budi sudah bersiap untuk kembali mendarat di wajah Abdul ,namun dengan sigap pria itu menangkisnya.
Abdul tersenyum sinis kepada mertuanya sambil berkata,
__ADS_1
"Anda mengatakan saya menyakiti putri anda , tapi cara anda memberi sambutan kepada menantu juga dengan kekerasan. Lalu apa bedanya anda dan saya?"
Seketika emosi pak Budi memuncak dan ingin sekali memberi bogem mentah kepada menantunya, namun sang istri berusaha menenangkan.
"Sabar yah , sabar. Kita jangan terpancing oleh ucapan dia. Kekerasan yang di balas dengan kekerasan tidak pernah ada habisny, mari kita duduk dan bicara dengan kepala dingin" tutur bu Farida sambil mengelus pundak sang suami.
"Zahra, harusnya kamu mewarisi sifat lembut bundamu, bukannya meniru sifat anarkis ayah dan kakakmu. Assalamualaikum !" tanpa menunggu tanggapan pemilik rumah, Abdul berlalu begitu saja.
"Waalaikumsalam" meski lirih mereka semua tetap menjawab salam Abdul.
Pria tersebut berhenti ketika berada di depan pintu, tubuhnya berbalik dan kembali bersuara.
"Mungkin kepulanganku kali ini dengan tangan kosong, tapi kalian lihat saja . Aku pastikan jika aku kembali nanti aku akan berhasil membawa Zein pulang bersamaku. Ingat itu !" satu kalimat dari Abdul menjadi ancaman besar bagi Zahra dan keluarganya
Hai hai... 😍😍makasih ya buat yang setia sampai episode saat ini. Sambil nungguin kelanjutannya, mampir yuk ke karya sobatku. Ceritanya juga menarik loooh🤩
__ADS_1