Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Menjadi Tawanan


__ADS_3

"Permisi om, saya....." ucapan Ozza terpotong.


"Eh ada nak Ozza, ini lho yah teman kuliah Hasna, dia mau belajar bareng"


tiba tiba bu Farida menyela dan memberitahukan kepada suaminya siapa yang datang.


"Bunda kenal?" tanya ayah Hasna.


"Iya ayah. Hasna sering cerita ke bunda, Ozza ini anaknya baik loh yah, nggak macam macam dan suka membaca juga kayak si Hasna. Mereka aja kenalnya di perpus, iya kan Hasna?"


bu Farida melemparkan pertanyaan kepada putrinya.


"Iiii...iiiyaa bun" jawab Hasna dengan senyum lebar, walaupun hatinya bertanya tanya mengapa bunda harus berkata seperti itu?


"Ozza ini anaknya baik loh yah, nggak macam macam dan suka membaca juga seperti Hasna,"


Ozza hampir tersedak mendengar ucapan bu Farida.


Sementara ayah Hasna sedikit melunak hatinya dan memberi izin Ozza untuk masuk.


Namun sebelum melangkah sempurna ke dalam rumah Hasna, ayah gadis itu memperhatikan penampilan Ozza dari atas sampai bawah.


Berjalan mengelilingi tubuh Ozza sudah seperti tawanan yang akan di introgasi.

__ADS_1


"Sepertinya berbeda dengan yang bunda ucapkan?" gumam pak Budi.


"Eh, ayah ini apa apaan? kok nak Ozza seperti menjadi tawanan gitu? dia kan datang ke sini untuk belajar, kecuali kalau ke sini mau ngajak Hasna kencan, baru deh ayah mengajukan banyak pertanyaan ini itu " tukas bu Farida.


"Sumpah, ni emak emak dari tadi bikin tegang. Tau aja kalau ntar lama lama aku ajak anaknya kencan demi taruhan" ucap Ozza dalam hati.


"Iya ya bun, kenapa ayah jadi posesif begini ya? maaf ya nak Ozza, mungkin saya terlalu menyayangi putri bungsu kami. Dia itu paling manja, paling rame, paling banyak bicara. Jadi kalau nggak ada dia itu rasanya sepi. Sementara kakak kakaknya semua pendiam dan suka menyendiri" ujar pak Budi dengan melempar senyum bersahabat.


"Paling manja, paling rame dan paling banyak bicara, sementara kakaknya pendiam dan suka menyendiri?" kalimat itu membuat Ozza berpikir dan bertanya tanya dalam hati.


" Sebenarnya seperti apa kepribadian Hasna, sementara yang dia tahu di kampus Hasna itu perempuan kutu buku , nggak modis dan suka menyendiri, nggak ada rame ramenya, apalagi manja." rupanya Hasna berhasil menduduki kursi penasaran di hati Ozza.


"Ayo masuk, kok malah ngelamun?" tukas bu Farida.


Sesampainya di ruang tamu, orang tua Hasna meninggalkan mereka berdua untuk belajar.


"Kamu bawa buku apa aja?" ucap Hasna berusaha bersikap sopan kepada tamunya.


"Semua aku bawa, karena aku nggak bisa semua" jawab Ozza asal asalan.


"Semua? nggak bisa? kok bisa?" tanya Hasna.


"Bisa aja, nyatanya begitu " Ozza menjawab dengan asal nyeplos.

__ADS_1


Hasna menggeleng kepala.


"Kita mulai dari mana dulu Ozza?" tanya Hasna kemudian.


"Eemmmm... terserah kamu aja. Aku ikut..." sahut Ozza.


"Baik lah, yang ini aja ya " kata Hasna sambil menunjuk salah satu buku.


Baru saja Hasna hendak memulai belajarnya, bu Farida memanggil.


"Hasna, sepertinya kurang sopan jika ada tamu di dalam rumah tapi kamu tetap mengenakan masker. Ozza kan bukan pasien covid " tukas bu Farida.


"Iya bun, tapi ? " Hasna terlihat berat untuk melepas maskernya.


"Buka saja nak, kita aman kok di dalam rumah " bu Farida masih berusaha membujuk putrinya, hingga akhirnya dia menurut.


"Baik bun" ucap Hasna dengan terpaksa.


Perlahan dia lepas kain segiempat yang menutup bagian mulut dan hidungnya.


Ada sedikit sara penasaran di hati Ozza dengan wajah Hasna yang selama ini kurang jelas.


Dan benar saja, one...two...three...

__ADS_1


"Haaaaah....dia...." mulut Ozza menganga...


__ADS_2