
Ucapan Ozza segera di bantah oleh pak Budi.
"Tidak perlu, kami bisa menyelesaikannya sendiri!"
"Sudah lah ayah, jangan keras kepala. Nak Ozza hanya ingin membantu kita. Apa salah nya menerima kebaikannya? kalau ayah tidak mau di bantu, lalu apa yang akan ayah lakukan? pulang naik ojek? apa ayah bawa uang? minta Hasna ambil dompet? toh juga akhirnya minta bantuan nak Ozza untuk mengantarnya?" tukas bu Farida dengan raut wajah penuh kekesalan kepada sang suami.
Pak Budi menghembuskan nafas kasar hingga akhirnya menerima tawaran Ozza.
Ketiganya akhirnya menuju ke ruang pendaftaran dan membayar sejumlah uang dari dompet Ozza.
"Aku pasti akan mengganti uang itu. Aku juga akan membayar uang sewa mobil kamu yang kami bawa ke Rumah Sakit" ujar pak Budi tanpa memandang ke arah Ozza.
"Ayah, bilang terima kasih dulu dong. Nggak baik bersikap seperti itu" bu Farida tak habis pikir dengan sikap suaminya.
"Iya terima kasih!" ucap pak Budi datar.
"Sama sama om, uangnya nggak usah di ganti om dan om juga nggak perlu membayar sewa mobil" jawab Ozza dengan sopan meski tidak mendapat tanggapan baik dari ayah Hasna.
"Nggak usah cari muka, aku tahu pasti ada maksud lain dari semua ini!" sahut pak Budi.
"Astaghfirullah ayah, kenapa bicara seperti itu?" Hasna ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Diam kamu Hasna, ayah hanya berusaha menyelamatkan kamu dari seorang penipu" pak Budi masih tetap pada pendiriannya dan tetap mengecap Ozza sebagai playboy.
"Ayah," mata Hasna sempat berkaca kaca.
"Maaf kan ucapan ayah ya Za, aku tahu kamu tulus" lirih Hasna yang masih terdengar di telinga pak Budi.
"Untuk apa kamu meminta maaf padanya Hasna? " seru sang ayah.
"Sudah, sudah. Cukup ayah, kita sedang berada di Rumah Sakit. Tolong jaga sikap dan ucapan!" bu Farida nampak geram dengan sikap suaminya.
"Keluarga nyonya Zahra" panggil salah seorang perawat.
"Iya sus, bagaimana keadaan putri saya?" tanya bunda Zahra.
"Alhamdulillah," semua bersyukur atas kabar yang di dengar tentang Zahra.
Sepuluh menit kemudian mereka semua sudah berada di ruang perawatan.
"Zahra, bagaimana keadaanmu? apa yang sekarang kamu rasakan?" tanya bi Farida sambil mengelus puncak tangan putrinya.
"Pusing bun" jawab Zahra dengan parau.
__ADS_1
"Di buat tidur aja nak, istirahat yang cukup. Kami di sini selalu menemani kamu" ucap bu Farida.
"Dimana Zein?" tanya Zahra sambil mencari keberadaan Zein.
"Dia di rumah di jagain sama kak Najwa" jawab Hasna.
"Syukurlah.Bunda, ayah, Zahra minta jangan pernah berikan Zein kepada siapapun jika aku sedang tidak bersamanya,termasuk juga pada abinya" pesan Zahra.
"Iya nak, kami akan menjaga Zein sebaik mungkin dan melindunginya dari orang yang berniat jahat padanya" sahut bu Farida yang membuat hati Zahra sedikit lega.
"Bunda, siapa dia?" tanya Zahra yang mengarah ke Ozza.
"Dia Ozza,dia temen Hasna sekaligus orang yang mengantar kita ke Rumah Sakit" jawab bu Farida.
" Oh" sahut Zahra.
"Sudah malam, baiknya kamu pulang saja" titah pak Budi dengan nada sinis.
"Ayah, kenapa kesannya ayah ngusir Ozza? " tanya Hasna.
Pak Budi diam tidak menjawab. Dia tahu bahwa pemikirannya pasti akan di salahkan banyak orang.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu aku akan pulang!"