
Seperti sebuah telepati, jemari Ozza tiba tiba bergerak dan perlahan matanya terbuka.
"Ozza....kamu udah siuman?" tanya Hasna.
Kesadaran Ozza belum terkumpul sempurna, sehingga dia masih mengedipkan kelopak matanya untuk memahami situasi sekitar.
"Aku dimana ..? Aaawwww.... kepalaku sakit sekali..." ucap Ozza dengan suara serak.
"Jangan benyak gerak, nanti tambah sakit. Kamu sekarang di Rumah Sakit, kamu habis kecelakaan" tukas Hasna.
Ozza berusaha mengingat kejadian itu.
"Iya aku ingat, ada sebuah mobil yang tiba tiba menabrak ku dari arah berlawanan, tapi kamu? bagaimana kamu bisa berada di sini?"
tanya Ozza keheranan.
" Dompet kamu ketinggalan di rumah ku Ozza, dan waktu aku telpon kamu, yang ngangkat warga yang nolongin kamu di TKP... jadinya aku dan ayah bunda datang ke sini..." jawab gadis berhijab itu.
"Oh...terima kasih atas kepeduliannya.. lalu dimana ayah dan bunda kamu..?" tanya Ozza kemudian.
"Mereka mencari alamat rumah kamu, tadi kan kamu pingsa..jadi ayah bunda mau kasih kabar ke orang tua kamu dari alamat yang ada di kartu identitas" Hasna menjelaskan.
"Percuma..." satu kata dari bibir Ozza dengan raut wajah lesu.
__ADS_1
"Percuma?" tanya Hasna.
"Iya ...kedatangan ayah dan bunda kamu ke rumah ku akan sia sia saja.." jawab Ozza.
"Emang nya ke ..ke...kenapa Ozza? apa orang tuamu tidak tinggal bersamamu? maaf kalau pertanyaanku lancang.." tanya Hasna dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Nggak apa apa... nggak usah merasa tidak enak hati, justru aku yang nggak enak hati karena udah ngerepotin kamu sekeluarga..." tutur Ozza.
"Nggak kok Za, nggak repot..." secepatnya Hasna menjawab.
"Kamu beruntung Hasna, punya orang tua yang perhatian" ucap Ozza dengan memasang wajah masam.
"Iya ..alhamdulillah... memangnya kamu..." ucapan Hasna terpotong oleh kata kata Ozza.
Nampak sebuah amarah terpancar di mata Ozza.
Hasna memegang bahu Ozza dengan pelan lalu mengusapnya.
"Sabar Za, mereka pasti punya alasan..." tutur Hasna.
"Harta dan kesenangan ,itu alasan mereka..tanpa mereka pikirkan bahwa aku juga butuh mereka..." jawab Ozza dengan nafas menggebu gebu.
Tak ingin membuat Ozza makin terpuruk, Hasna memilih untuk diam.
__ADS_1
Dia tunggu hingga Ozza sendiri yang membuka suara.
"Aku tidak percaya dengan namanya cinta, karena yang sudah menikah dan punya anak saja masih semaunya sendiri...apalagi yang masih pacaran? " tiba tiba Ozza mengungkapkan isi hatinya setelah beberapa menit sempat terjadi keheningan.
Hasna masih senantiasa menjadi pendengar setia dengan tujuan agar Ozza bisa meluapkan isi hatinya.
"Aku benci dengan sifat kedua orang tuaku, mamaku suka wanita karir dan gaya hidupnya selalu glamour. Sosialita yang utama tanpa memikirkan keluarga, sementara papa juga seorang pebisnis. Suka foya foya dan selalu mementingkan kepentingan teman temannya dari pada keluarga. Bagi dia , uang bisa menjawab semua...." Ozza tidak bisa menutupi beban batin yang selama ini dia pikul.
Seorang pria dengan predikat playboy dan suka foya foya, ternyata menyimpan beban batin yang berat.
.
Benar benar satu hal di luar dugaan Hasna.
"Kamu yang kuat ya Za, kamu hebat..."
tukas Hasna.
"Hebat? hebat apanya Hasna..?" Ozza bertanya dengan sedikit tertawa.
"Hebat lah..karena Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan dari umatnya...mungkin kalau aku yang di posisi kamu, aku pasti sudah down ..tapi kamu?? kamu mampu menyembunyikan bebanmu dari pandangan publik...kamu tetap tersenyum, tertawa layaknya hidupmu baik baik saja..." sedikit petuah namun menyanjung dan berhasil membuat Ozza memperhatikan.
"Kamu berlebihan Hasna, justru aku ini sial dan tak seberuntung kamu yang punya keluarga harmonis"
__ADS_1
"Ozza...sayang...kamu nggak apa apa nak?" tiba tiba seorang wanita berusia 45 tahun datang memeluk Ozza.