Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Menjauhlah


__ADS_3

" Katanya udah jadian? kok nggak mungkin ?Pasti bohong ya?" tanya Mario.


" Suer.... aku nggak bohong...dia nerima aku tapi nggak mau pacaran, maunya langsung di nikah.."


"What? Nikah? Boleh tuh ... boleh..." Mario membalas dengan di sertai emoji ketawa.


Pesan singkat mereka berdua berakhir hingga Ozza sampai di rumahnya.


 


Tiga minggu telah berlalu, Ozza dan Hasna semakin akrab. Namun mereka tetap menjaga batasan batasan, dan ketika mereka berduaan bukan bermesraan yang mereka lakukan melainkan belajar.


Satu pemandangan unik bagi mata yang memandang melihat Ozza menjadi rajin belajar, dan semua itu berkat hubungannya dengan Hasna.


Ozza juga sudah tidak menggoda perempuan perempuan di kampus, dia juga sudah memutuskan hubungan dengan mantan mantan pacarnya yang tidak cukup di hitung dengan jari.


Di sini ada dua, di sana ada dua, di situ ada dua, di gang juga ada dua, dan di sono yang jauh banget dari keramaian ada empat.


(Udah kayak buka kantor cabang aja yah.....🤭)


"Eh lihat tuh ... si playboy udah kena karma... Dulu sukanya ganti ganti pacar, dan nyarinya yang cantik cantik serta modis,, nah ini? si Hasna yang enggak banget lah buat Ozza...."


cerocos teman teman Ozza yang memperhatikan dari jauh.


Waktu istirahat.

__ADS_1


Seperti biasa Hasna dan Ozza biasa pesan dua bangku berdekatan di kantin.


Kali itu Ozza datang lebih dulu karena Hasna masih ke toilet.


Melihat sahabatnya duduk sendiri, Mario segera mendekati.


"Hei sendirian aja..." tanya mario.


" Iya ... Hasna masih di kamar mandi" jawab Ozza sambil menghisap sedotan yang terpasang di minumannya.


"Bro...gimana taruhan lima jutanya... ini kan udah genap satu bulan kamu deketin Hasna?"


Deegggghhhh,


Tanpa di sadari oleh Ozza dan Mario, Hasna ternyata sudah kembali dari kamar mandi.


Enggan mendengar percakapan selanjutnya, Hasna memilih kembali ke kamar mandi untuk menangis.


" Aku mundur bro dari taruhan ini... aku akan merasa sangat bersalah jika menerima uang itu. Hasna bukan wanita taruhan...." jawab Ozza.


"Serius? Makasih bro...kamu emang beneran sahabat yang mengerti isi dompetku...." jawab Mario sambil menepuk nepuk lengan sahabatnya.


Namun sayang, pernyataan terakhir dari Ozza tadi sudah tidak di dengar oleh Hasna karena dia keburu menangis di kamar mandi.


"Eh ngomong ngomong dimana si Hasna ya? Tumben nggak nongol nongol? Lima belas menit lagi habis loh waktu istirahatnya..."

__ADS_1


Ozza agak panik melihat Hasna yang tak kunjung datang.


"Coba aja kamu telepon..." saran Mario.


"Oke...bener juga..." sahut Ozza.


Tuuut...tuuuut...tuuut...


Panggilan tersambung namun tidak mendapat jawaban.


Ozza melakukan panggilan keuda, dan tetap sama.


Hingga akhirnya pada panggilan ketiga, barulah Hasna menjawab.


"Assalamualaikum Hasna... kamu di mana kok nggak datang ke kantin...aku udah nungguin..." kata Ozza seketika melihat panggilan tersambung.


Sementara yang terjadi pada Hasna adalah, dia menarik nafas panjang untuk menahan kekecewaannya. Dengan lirih dia hanya menjawab salam dari Ozza namun pria itu tak mendengarnya.


Bagi Hasna kecewa dan marah itu manusiawi, yang paling penting berusaha untuk mengendalikannya. Jangan sampai dua perasaan itu mendominasi hati dan pikiran.


Dengan beristighfar dan mengumpulkan semua tenaga, Hasna menjawab


"Menjauh lah dariku, kamu tidak benar benar mencintaiku... aku bukan wanita taruhan ...aku punya perasaan! "


Hasna menangis sambil mengakhiri panggilan dari Ozza.

__ADS_1


"Hasna... halo Hasna... aku bisa jelaskan... semua tidak seperti yang kamu kira...Hasna .. halo..." panggilan terputus.


__ADS_2