
"Terserah ayah saja," tiba tiba suara Hasna memecah keheningan.
Namun meski terdengar kata "terserah", tetapi raut wajah Hasna terlihat kesal.
"Maafkan ayah nak, ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian. Padahal yang selalu ayah harapkan adalah kebahagiaan kalian," ucap pak Budi dengan mata berkaca kaca.
"Jangan bicara seperti itu yah, ayah adalah ayah yang terbaik untuk kami. Kami tidak tahu bagaimana nasib kami jika tidak ada ayah," tubuh Hasna menghambur ke pelukan pak Budi.
Suasana haru pun kembali melintas hingga pelukan mereka terlerai ketika terdengar seorang perawat datang untuk mengecek tekanan darah pak Budi.
Ponsel Hasna bergetar.
Drrt.. drrrt..
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Pulang jam berapa? boleh aku jemput?"
Hasna tersenyum sendiri membaca pesan yang dia terima, yang ternyata dari Ozza.
"Insya Allah pulang pukul empat sore, sekalian nunggu ibu datang ke Rumah Sakit" balas Hasna.
"Baiklah, pukul empat sore akan aku tunggu di depan Rumah Sakit" balas Ozza.
"Iya," balasan terakhir dari Hasna mengakhiri percakapan singkat mereka.
__ADS_1
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga bu Farida sudah kembali lagi ke Rumah Sakit tepat pukul empat sore.
"Hasna pamit pulang dulu ya yah, bun. Assalamualaikum." gadis berkerudung mencium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsakam. Iya nak, hati hati di jalan ya" jawab ayah dan bunda Hasna.
Dengan sedikit berlari Hasna menyusuri lantai Rumah Sakit agar segera menemui pujaan hati.
Dan benar saja, tepat saat dia memijakkan kaki di depan pintu gerbang, saat itu juga mobil Ozza datang.
Mantan playboy itu menepikan mobilnya lalu turun dari kursi kemudi dan membukakan pintu untuk Hasna.
"Silahkan masuk Tuan Putri," ucap Ozza sembari membungkukkan badan dan tentu saja perlakuan gombal nya tersebut seketika memerahkan pipi Hasna yang baru pertama kalinya di Tuan Putrikan oleh seorang pria.
"Apa sih Ozza?" ucap Hasna lirih namun terdengar oleh pria yang masih setia berdiri di sebelah pintu menunggu Hasna masuk dengan sempurna.
Namun sayangnya kali ini Hasna tidak terbuai, yang ada malah mengerutkan dahi.
"Kira kira aku wanita ke berapa yang sudah kamu jadikan kandidat calon Ratu mu?" tanya Hasna.
"Yang pertama dan yang terakhir" jawab Ozza sambil menutup pintu lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Kenapa tersenyum sendiri?" tanya Ozza setelah kembali menduduki kursi kemudi yang bersebelahan dengan Hasna.
"Heran aja sama kamu, jelas jelas banyak mantannya tapi bilang aku yang pertama dan terakhir?" jawab Hasna sambil menggelengkan kepala.
"Itu yang salah kamu," sahut Ozza.
__ADS_1
"Aku? Kenapa aku yang salah?" tanya Hasna heran.
"Iya kamu yang salah bertanya. Kalau kamu tanya berapa wanita yang sudah aku jadikan kandidat sebagai calon Ratuku di Istanaku? Jelas itu hanya kamu yang pertama dan terakhir. Tapi, mungkin jika kamu bertanya sudah berapa wanita yang pernah menjadi Tuan Putri ku ? Pasti aku akan jawab , kamu mungkin bukan yang pertama tapi pasti yang terakhir. Sebab banyak sekali Tuan Putri di Istana mereka sendiri, tapi belum tantu aku berniat menjadikannya Ratu di Istanaku!" jawab Ozza.
Hasna lagi lagi menggelengkan kepala sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.
"Hasna, sore ini kita jangan langsung pulang ya," Ozza mengalihkan pembicaraan.
"Kita mau kemana?" tanya Hasna.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, kamu maunya kita ngobrol dimana?" Ozza bertanya balik.
"Di rumah ku aja," jawab Hasna.
"Nggak enak, ada kak Zahra dan kak Najwa." tolak Ozza.
"Atau di sini aja, kita kan bisa ngobrol?" tukas Hasna.
"Nggak nyaman," Ozza kembali menolak.
"Apanya? kan tinggal bicara lalu aku dengarkan?" sahut Hasna.
"Nggak, aku ada tempat yang nyaman untuk kita ngobrol," jawab Ozza.
"Dimana?" Hasna balik bertanya.
"Udah, nanti kamu pasti tahu sendiri," Ozza lebih mempercepat laju kendaraan agar segera sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1