
Ozza sangat marah kepada Cintya karena dirinya merasa di jebak. Saat itu juga dia memutar arah untuk kembali ke rumah sekretarisnya itu.
Setibanya di sana, dia berbicara dengan Cintya dengan nada kasar.
"Cintya, katakan apa maksud kamu mengambil foto kita lalu kamu kirim ke tunanganku?" tanya Ozza dengan tatapan penuh amarah.
"Foto? Foto apa? Aku tidak mengerti maksud kamu Tuan Ozza." sangkal Cintya.
"Berhenti bersandiwara. Lihat ini!" jawab Ozza sambil menunjukkan beberapa foto vulgarnya bersama Cintya. Gadis itu pura pura terkejut dan tidak tahu apa apa.
"Astaga, bagaimana Tuan bisa memiliki foto saya dengan pose seperti itu?" tanya Cintya membalikkan keadaan.
"Harusnya saya yang tanya ke kamu! Apa kamu memang sengaja menjebak ku dengan minuman memabukkan hingga aku tidak sadar diri!" tanya Ozza masih dengan amarah yang menggebu gebu.
"Tuan tidak bisa menuduh saya sembarangan. Saya di sini juga korban. Apalagi foto itu sudah tersebar ke tunangan Tuan." Cintya pandai bersilat lidah.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa?" tanya Ozza menekan.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu!" Cintya tak mau kalah keras dalam bersuara.
Pesta ulang tahun itu menjadi kacau, dan para tamu undangan mulai bubar sendirinya melihat perseteruan antara pemilik rumah dan atasannya. Tidak ada yang berani melerai karena kebanyakan yang hadir adalah karyawan di mana Ozza memimpin perusahaan.
Hanya orang tua Cintya yang berani bersuara, tentu saja dia berpihak kepada putrinya. Mereka ingin mengetahui foto apa yang mereka ributkan, dan setelah ayah Cintya melihatnya, beliau malah meminta Ozza bertanggung jawab jika benar putrinya sudah Ozza tiduri.
"Apa maksud anda? Dia sudah memfitnah saya dan berusaha merusak hubungan saya dengan tunangan saya, tapi mengapa malah saya yang harus bertanggung jawab? Jangan jangan kalian semua memang bersekongkol untuk menjebak saya?" jawab Ozza setelah di sudutkan oleh ayah Cintya.
"Jaga bicara kamu ! Jangan bicara semena mena meski kamu adalah seorang bos. Akan saya bawa kasus ini ke kantor polisi!" gertak ayah Cintya.
"Silahkan ! Jika anda memang sudah sanggup melihat putri anda yang akan mendekam di penjara akibat ulahnya yang sudah mencemarkan nama baik saya!" jawab Ozza sambil meninggalkan rumah Cintya.
"Sudah ayah, jangan bawa kasus ini ke kantor polisi." pinta Cintya.
"Kenapa? Laki laki macam itu perlu di beri pelajaran. Kamu jangan lemah hanya gara gara dia atasan kamu. Katakan pada ayah, apakah dia sudah merenggut kesucian kamu?" tanya ayah Cintya yang rupanya tidak mengetahui rencana buruk putrinya.
"Tidak ayah, aku masih suci. Ayah jangan memperpanjang kasus ini ya, Cintya sangat mencintai bos Ozza." kata Cintya.
__ADS_1
"Cintya, apa maksud kamu? Jika kamu masih suci, bagaimana dengan foto itu? Siapa pelaku sebenarnya? Foto itu sangat vulgar, dari mana kamu yakin dia tidak menyentuhmu?" tanya ayah Cintya menyelidiki permasalahan itu.
Dengan sangat berat hati Cintya mengakui semuanya. Dia tidak mengira bahwa kejadiannya akan seperti itu.
Ayah Cintya sangat terkejut mendengar pengakuan putrinya, beliau merasa malu kepada Ozza karena telah menuduhnya yang tidak tidak. Beliau juga sangat kecewa karena putrinya sudah melakukan tindakan yang sangat rendah hanya karena cinta.
"Ikut ayah!" ucap ayah Cintya kepada putrinya.
"Kemana ayah?" tanya Cintya.
"Ke rumah Tuan Ozza!" jawab ayah Cintya.
"Untuk apa ayah?" tanya Cintya sambil berusaha melepas tangan ayahnya yang tengah menarik lengannya.
"Kita harus meminta maaf!" tukas ayah Cintya.
"Tidak ayah. Cintya tidak mau!" bantah gadis itu dengan terus meronta meminta untuk di lepaskan.
__ADS_1
"Lepaskan ayah, aku tidak mau!"