Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Di pandang sebelah mata


__ADS_3

Satu pekan sudah Ozza belajar mengaji di rumah Gus Ahmad. Karena kemauan yang keras, usaha yang baru dalam hitungan hari tersebut sudah membuahkan hasil.


Hal tersebut tentu menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari kepribadian Ozza sebelumnya,


"Wiiih, ada playboy insaf nih?" sindir Mario.


"Apaan sih? gara gara kamu, aku hampir saja kehilangan Hasna" sahut Ozza.


"Widih, ada yang cinta mati ni kayaknya?" Mario kembali menggoda kawannya.


"Udah deh jangan ngeledek. Ada temen berubah jadi baik di dukung kek, malah di ledek," tukas Ozza dengan raut wajah masam.


"Iya deh, sory sory. Ngomong ngomong kamu belajar ngaji dimana Za?" tanya Mario serius.


"Kenapa? mau ikut?" sahut Ozza.


"Wah nggak tau ni anak, gini gini aku udah pernah khatam Alqur'an tiga kali loh" ucap Mario.


"Oh ya? Khatamnya sambil melek apa merem?ha..ha..ha.." Ozza balik menggoda sahabatnya.


"Assalamualaikum Ozza" salam dari Hasna membuat Mario undur diri dari keduanya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, eh Hasna. Ya udah deh aku masuk kelas dulu ya. Bye.." kata Mario sambil berlalu.


"Gimana Za? apa kamu sudah bisa mengaji?" tanya Hasna.


"Alhamdulillah udah Na, tapi belum lancar sih" jawab Ozza.


"Alhamdulillah, Za kamu nggak mau main ke rumah buat nemuin ayah?" tanya Hasna kemudian.


"Aku mau, tapi aku belum siap. Aku masih perlu banyak belajar. Kamu kasih aku kesempatan lagi ya," pinta Ozza.


Hasna tersenyum,


"Aku akan berusaha keras Na, supaya kamu tidak jatuh ke tangan orang lain" jawaban Ozza membuat Hasna terharu.


Lain halnya dengan teman teman Ozza dan para mantan pacarnya.


Mereka melihat perubahan Ozza sebagai kebodohan atau hanya pelarian aja.


"Eh lihat tuh, si Ozza deket sama cewek kutu buku, berkerudung pula. Apa nggak salah? mungkin tuh cewek pakai pelet kali?" kata salah seorang teman Ozza.


"Hush, kalau ngomong hati hati. Ozza kan banyak pacarnya, ngapain tuh cewek melet Ozza? emang siap di selingkuhin? yang ada malah tuh cewek mungkin cuma di jadiin pelarian sama Ozza karena udah nggak laku, hahaha..." mereka menertawakan Ozza.

__ADS_1


Dua minggu kemudian.


"Hasna, kok bunda nggak pernah lihat Ozza nganter kamu?" tanya bu Farida ketika sedang memasak.


"Iya bun, Ozza sekarang sedang sibuk. Dia mengaji di rumah salah seorang ulama bareng sama papa mamanya juga" jawab Hasna.


"Subhanallah, mulia sekali. Kapan kapan boleh kita undang dia main kesini, kita bisa ngaji bareng bareng" timpal bu Farida.


"Boleh bun, entar aku tanyain dulu sama anaknya" sahut Hasna dengan raut wajah bahagia.


"Kamu sudah ta'aruf sama nak Ali Hasna, jadi tidak boleh dekat dengan laki laki lain. Apalagi sama anak ingusan macam Ozza. Ibu ini juga gimana sih? bukannya bantu nasehatin malah nyuruh Ozza main" tiba tiba pak Budi ikut menyela karena ternyata beliau mendengar percakapan Hasna dan bundanya.


"Ayah, tapi Ozza sudah belajar mengaji .Dan Hasna sama Ali kan baru taaruf, jadi belum ada ikatan" Hasna menyangkal.


"Belajar ngaji? seperti anak TK aja. Paling pengetahuannya juga masih sekitar belajar wudhu dan hafalan surat pendek. Beda sama nak Ali yang sudah belajar agama sejak kecil, tentu pemahamannya lebih dalam dan luas" pak Budi nampak memandang sebelah mata pada usaha Ozza.


"Ayah nggak bisa gitu dong, namanya juga orang lagi usaha yah" Hasna berusaha membela Ozza.


"Sudah diam Hasna, ayah nggak suka kalau putri ayah berani membantah. Kamu lihat saja kakak kakak kamu, mereka semua bahagia rumah tangganya bersama laki laki pilihan ayah. Begitupun kamu kelak, jadi ayah harap kamu tidak membantah ucapan ayah lagi"


Hasna dan bu Farida memang selalu kehabisan kata kata jika berdebat dengan pak Budi.

__ADS_1


__ADS_2