Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Tawaran


__ADS_3

"Dia menawarkan untuk membantu menyelesaikan masalah kak Zahra dan mas Abdul" jawab Hasna.


"Bagaimana caranya ?" tanya pak Budi .


"Aku juga belum tau yah, dia hanya bilang seperti itu" tukas Hasna.


Pak Budi diam dan berusaha menebak apa yang mungkin akan di lakukan oleh Ozza, namun berkali kali mencoba menebak ,tetap saja tidak ada jawaban atas teka tekinya.


Di rumah Hasna.


"Kedatangan saya ke sini mau menawarkan sesuatu " kata Ozza.


"Menawarkan apa nak?" sahut bu Farida.


"Seorang pengacara yang bisa membantu kak Zahra mempertahankan hak asuhnya dan agar kak Zahra tidak lama lama di gantung serta mengalami kecemasan yang berlebihan tentang Zein" jawab Ozza.


"Benarkah? tapi, " pertanyaan Najwa terputus karena mempertimbangkan biaya.


"Benar kak, beliau om saya. Adiknya papa" tukas Ozza selanjutnya.


"Lalu ? Masalah biayanya bagaimana? Pasti sangat mahal menyewa seorang pengacara" tanya bu Farida tanpa basa basi.


"Jangan pikirkan masalah itu tante, yang penting selesaikan saja masalah kak Zahra terlebih dahulu" jawab Ozza.

__ADS_1


"Jangan nak, kami sudah banyak berhutang kepada keluarga kamu . Jadi tidak enak kalau harus merepotkan lagi" sahut bu Farida yang terlihat begitu sungkan.


" Nggak apa apa lah bun ,kita terima saja tawaran Ozza. Nanti kalau masalahku selesai, aku akan cari kerja untuk bayar pengacara. Tapi apa boleh di bayarnya di belakang Ozza?" tanya Zahra yang mendadak ikut menyela.


"Iya kak, tidak apa apa. Yang penting kasusnya beres" jawab Ozza.


Lagi lagi Ozza membawa kabar bahagia untuk keluarga Hasna.


" Zahra ajukan gugatan atau menunggu mas Abdul ya bun ?" tanya Zahra bingung.


"Nak, sebenarnya tidak pernah terlintas di pikiran bunda melihat putri putri bunda harus kandas pernikahannya dengan sebuah perceraian. Tapi jika bertahan justru membuat kamu terluka, bunda tidak bisa melarang mu memilih jalan yang menurut kamu baik" ucap bu Farida dengan hati yang nelangsa melihat rumah tangga kedua putrinya.


"Maafkan Zahra bun," Zahra memeluk bundanya, begitu pun Najwa.


Setelah sempat larut dalam suasana haru, mereka akhirnya sadar bahwa tamu mereka masih menunggu.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, kasihan nak Ozza menunggu" tukas bu Farida.


"Iya bun" jawab Najwa yang mulai melepas pelukannya sambil menyeka air mata.


"Maaf nak Ozza, kami membuat kamu menunggu" kata bu Farida kepada Ozza lalu duduk di sebelahnya.


"Nggak apa apa tante" jawab Ozza sopan.

__ADS_1


"Baiklah, kami terima tawaran kamu. Tapi kami perlu bermusyawarah dulu dengan ayah Zahra, jadi nanti biar kami hubungi nak Ozza lagi bagaimana perkembangannya lewat Hasna ya," tutur bu Farida.


"Oh begitu ya tante? Baiklah, kalau begitu Ozza pamit dulu" mantan play boy itu berpamitan.


"Iya nak , hati hati. Sekali lagi kami banyak mengucapkan terima kasih," kata bu Farida sambil mengantar Ozza hingga ke depan pintu.


"Sama sama tante, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Usai mengucapkan salam, Ozza menenggelamkan tubuhnya ke dalam mobil.


Siang itu bu Farida dan Najwa tidak kembali ke rumah sakit dulu karena khawatir akan keselamatan Zahra dan Zein.


Sementara di tempat lain rupanya masih juga ada sedikit keraguan keraguan yang tersimpan di hati seseorang.


"Ayah takut jika semua kebaikan yang dia tawarkan itu akan berimbas buruk padamu " kata pak Budi yang masih belum bisa menerima Ozza sepenuh hati.


"Ayah kenapa selalu berprasangka buruk kepada Ozza?" sangkal Hasna.


"Ayah hanya waspada nak, ayah tidak mau kamu akan mengalami nasib sama seperti kakak kakak kamu!" jawab pak Budi.


Keduanya lalu terdiam dengan pemikirannya masing masing.

__ADS_1


__ADS_2