
Ozza beranjak dari tempatnya sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Ozza terima kasih sekali lagi. Aku minta maat ya atas sikap ayah, dia sebenarnya baik kok. Hanya saja dia perlu bukti bahwa kamu sudah benar benar berubah" tukas Hasna sambil mengejar Ozza keluar ruangan.
" Iya, nggak apa apa. Ini gimana? kamu nggak mau nebeng aku? barang kali buat ngambil dompet ayah kamu?" Ozza sekali lagi menawarkan bantuan.
"Astaghfirullah, kenapa aku jadi lupa. Tunggu Ozza, biar aku tanyakan dulu pada ayah" sahut Hasna sambi melangkah masuk kembali.
"Ayah, apa ayah tidak mengambil dompet ayah yang ketinggalan di rumah? biar Hasna ambilin bareng Ozza , sekalian Hasna bawain baju ganti buat kak Zahra" tanya Hasna sedikit mendekat ke arah Ozza.
Melihat hari yang sudah gelap tentu pak Budi khawatir melepaskan putrinya berduaan dengan seorang pria seperti Ozza.
Sehingga beliau akhirnya memutuskan untuk mengambil inisiatif lain.
"Tidak perlu, kamu di sini aja nemenin ibu dan kakakmu. Biar ayah sendiri yang pulang ngambil dompet dan baju ganti, nanti biar kakakmu Najwa yang menyiapkannya" ujar pak Budi.
"Ayah pulang sama siapa?" tanya Hasna kemudian.
"Katanya bareng temen kamu?" pak Budi menyahuti.
Hasna ingin tersenyum namun dia tahan karena takut jika sang ayah akan berubah pikiran.
__ADS_1
"Baik yah, biar aku kasih tahu Ozza" Hasna kembali keluar dan memberi tahu apa yang sudah di katakan sang ayah.
"Apa? benarkah?" mata Ozza membelalak mendengar jika pak Budi akan ikut di mobilnya dan hanya berdua saja dengannya.
"Iya Ozza, kamu tidak keberatan kan? semoga setelah ini ayah bisa lebih dekat sama kamu" ucap Hasna sambil mengulas senyum.
Ozza mengangguk ragu, yang dia bayangkan pria paruh baya itu akan ceramah sepanjang jalan.
Sepuluh menit kemudian mobil Ozza mulai melaju yang di dalamnya hanya ada empat mata. Dua bibir yang sama sama diam. Tentunya bibir Ozza terasa berat untuk bicara karena takut lancang dan takut salah.
Sementara bibir pak Budi juga enggan bersuara karena takut Ozza ke PEDE an.
( iiih ayah Hasna udah kayak cewek cewek SMA ajaš¤)
"Jika memang kamu punya niat serius, buktikan pada kami !"
Satu kalimat yang berhasil membuat Ozza mengulas senyum, namun segera dia sembunyikan senyum itu lalu menjawab ucapan calon mertuanya.
"Insya Allah pak, semoga di mudahkan oleh Allah"
satu jawaban yang membuat pak Budi tercengang karena lawan bicaranya membawa asma Allah. Tentu tidak mungkin beliau akan membalas dengan ucapan buruk.
__ADS_1
Dan alhasil beliau memilih diam tidak menjawab lalu segera masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di rumah.
"Bagaimana yah? apa Zahra sudah siuman?" tanya Najwa panik.
"Alhamdulillah sudah, tolong siapkan baju adikmu karena dia harus di rawat inap. Setelah ini ayah kembali ke Rumah Sakit" tukas pak Budi.
"Baik yah" jawab Najwa sambil bergegas melaksanakan perintah sang ayah.
Lima belas menit Najwa selesai berkemas,
"Ini yah, ayah pulang sama siapa?" tanya Najwa.
"Temennya Hasna" jawab pak Budi dengan singkat.
"Oh, sekarang anaknya berarti nungguin ayah di luar?" tanya Najwa kemudian.
"Mungkin dia sudah pulang. Ayah mau kembali ke Rumah Sakit naik ojol aja" sahut pak Budi yang terlihat cuek.
Keduanya akhirnya melangkah keluar rumah dan terkejut karena mendapati sesuatu.
__ADS_1
"Ayah lihat itu,..."