
Mobil Ozza berhenti di sebuah kafe.
"Diam di situ," titah Ozza lalu segera turun dari mobilnya.
Dia bukakan pintu untuk sang kekasih yang sempat memerah pipinya karena perlakukan Ozza yang di anggapnya berlebihan.
"Aku bisa sendiri," ucap Hasna.
"Tapi aku suka jika memperlakukan kamu dengan spesial." jawab Ozza.
Lea tidak bisa menolak dan terus berdebat dengan pria itu sehingga dia memilih untuk diam dan menurut.
Ozza berjalan masuk ke dalam kafe beriringan dengan Hasna. Pria itu sebenarnya sangat ingin menggandeng tangan pujaan hatinya hingga mereka tiba di kursi mereka, namun Ozza yakin Hasna pasti akan menolaknya.
Setelah berjalan sekitar empat meter mereka menemukan meja kosong dan segera menempatinya.
"Mau minum apa?" tanya Ozza.
"Jus jeruk aja," jawab Hasna.
"Oke," jawab Ozza lalu memanggil pegawai kafe itu.
__ADS_1
Usai memesan minuman mereka menunggu pesanan tersebut sambil bercakap cakap seputar kesehatan pak Budi.
Tak lama kemudian minuman yang mereka pesan telah datang.
"Ozza, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hasna.
Pria itu menelan jus jeruk yang baru saja dia hisap dari sedotannya,
"Usai wisuda nanti aku akan bekerja di luar kota , di perusahaan milik papa." ucap Ozza.
"Oh ya? Selamat ya, setelah ini kamu akan masuk ke dunia kerja yang akan mengajarkanmu tentang tanggung jawab," jawab Hasna.
"Kamu tidak sedih melepaskan aku?" tanya Ozza konyol.
"Kamu tidak takut kalau aku menyukai wanita lain di sana?" tanya Ozza.
"Memangnya jika kamu tetap tinggal di sini bisa menjamin kamu pasti setia? " tanya Hasna balik.
Ozza terdiam mendengar jawaban Hasna yang malah menjebaknya.
"Iya, tapi kan kita tidak akan sering bertemu? aku juga takut jika kamu akan menerima lamaran laki laki lain yang sesuai dengan keinginan ayah kamu," jawab Ozza dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Ozza, selagi cinta kamu kamu tanam di hati , maka dia akan tetap di sana walau mata tidak berjumpa. Namun jika cinta kamu hanya bertahan di mata, maka kamu akan melupakannya jika tidak pernah berjumpa." jawab Hasna.
Mantan playboy itu di buat mematung dengan jawaban Hasna, santai namun serius.
"Kamu pinginnya aku harus gimana? Apa aku harus menangis dan merengek memohon mu untuk tetap tinggal?" tanya Hasna selanjutnya.
Lidah Ozza masih membeku untuk bergerak, niatnya mengajak Hasna ketemu untuk berpamitan justru menjadikan dirinya sendiri seperti patung hidup.
Sempat terlintas dalam benak Ozza bahwa Hasna mungkin memang belum benar benar menyukainya , sehingga tidak ada sedikit pun raut kesedihan di wajah Hasna ketika dirinya berpamitan.
Namun ternyata dugaan Ozza salah, hati Hasna sempat bergetar ketika mendengar Ozza akan pergi, namun dia tidak ingin menghalangi niat Ozza sekaligus ingin melihat seberapa besar kesetiaan Ozza padanya ketika mereka berjauhan.
Keduanya sempat saling terdiam dengan ambigu nya masing masing. Hingga akhirnya Hasna kembali bersuara.
"Sudah mau maghrib, ayo kita pulang." ucap Hasna.
"Oh , iya. Maaf kita terlalu lama di sini." jawab Ozza lalu segera berdiri dan menuju meja kasir untuk membayar minumannya.
Selama perjalanan hingga tiba di rumah Hasna, keduanya tidak banyak bicara.
"Assalamualaikum," Hasna mengucapkan salam ketika turun dari mobil.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ," jawab Ozza dari kursi kemudi tanpa turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Hasna seperti sebelumnya.