Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Kabar baik


__ADS_3

"Ozza"


satu nama yang di sebutkan oleh Hasna mampu membuat pak Budi mendongakkan kepala.


"Ozza? Hasna apa kamu sadar dengan pilihan kamu? dia itu pria yang..." ucapan pak Budi terputus karena Najwa menyela.


"Ayah, Najwa mohon yah. Beri kesempatan Hasna memilih masa depannya" ucap kakak tertua Hasna.


"Tapi kamu belum mengenal Ozza Najwa, dia itu suka ganti ganti pasangan. Ayah tahu sendiri dari teman sekampus Hasna" jawab pak Budi.


"Astaghfirullah, benarkah apa yang di katakan ayah?" tanya Najwa.


Dengan berat Hasna mengangguk namun segera memberi penjelasan.


"Tapi itu dulu kak, sekarang dia sudah berubah. Dia juga sudah rajin mengaji dan meninggalkan kebiasaan buruknya" jawab Hasna berusaha meyakinkan.


"Dari mana bisa kamu pastikan dia sudah berubah dan meninggalkan kebiasaan buruknya?" pak Budi masih menyangkal.


Sementara Najwa lebih memilih diam memberi kesempatan sang adik untuk bicara.


"Hasna sendiri yang melihat perubahan itu yah, bahkan teman teman di kampus Hasna juga melihat perubahan Ozza. Wanita wanita yang pernah menjadi kekasih Ozza juga mengakui bahwa mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Ozza" jawaban Hasna kali ini berhasil memberi jeda agar pak Budi tidak kembali bertanya.

__ADS_1


Semua diam, berargumen dengan isi otak masing masing.


Hingga kemudian pak Budi berkata,


"Ayah akan beri waktu hingga kamu lulus kuliah. Jika dia tetap menunggu , dan selama waktu itu tidak menjalin hubungan dengan wanita lain. Maka ayah akan merestui hubungan kalian" satu pernyataan dari pak Budi yang seketika membuat Hasna dan kakak kakaknya mengulas senyum. Begitupun sang bunda.


--------


Di kampus.


"Ozza, Ozza ada kabar baik yang akan aku sampaikan sama kamu" Hasna sedikit berteriak memanggil Ozza.


"Astaghfirullah, waalaikumsalam. Maaf Ozza , aku sampai lupa mengucapkan salam karena terlalu berantusias menyampaikan berita bahagia ini" sahut Hasna dengan mengatupkan kedua tangan.


"Iya, lain kali jangan lupa lupa lagi ya biar nggak jadi kebiasaan" Ozza sekarang jadi lebih pintar menasehati. Lebih tepatnya lebih sering mengingatkan.


"Iya, insya allah. Terima kasih ya sudah mengingatkan" jawab Hasna.


"Iya, memangnya kamu mau menyampaikan kabar gembira apa?" tanya Ozza kemudian.


"Ayah, ayah memberi kesempatan pada kamu sampai aku lulus kuliah. Jika sampai aku lulus kamu masih menunggu dan tidak menjalin hubungan dengan wanita lain, maka ayah akan merestui hubungan kita" jawab Hasna dengan penuh semangat.

__ADS_1


Namun senyum bahagia di wajah Hasna tersebut tiba tiba meredup ketika melihat reaksi Ozza yang kurang bersemangat.


"Kenapa? kamu nggak suka?" tanya Hasna


"Suka, setidaknya memang ada harapan. Tapi bukankah itu hanya sebuah penolakan secara pelan Hasna?" tanya Ozza balik.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Hasna tidak mengerti isi pikiran Ozza.


"Maaf jika pemikiranku salah, tapi bukankah masih butuh waktu satu setengah tahun lagi untuk menunggu kamu lulus? Dan apakah ada jaminan dalam waktu selama itu ayah kamu tidak mencarikan jodoh untuk kamu?" tutur Ozza.


Mendengar kekhawatiran Ozza, Hasna justru tersenyum.


" Kenapa malah tersenyum ?" Ozza di buat bingung oleh senyum Hasna.


"Kamu jangan khawatir Ozza, sekarang ada kakak kakakku di rumah. Mereka sudah meminta ayah untuk tidak main jodoh jodohan lagi. Karena akibat perjodohan yang di lakukan ayah, kini nasib rumah tangga kakak kakakku di ambang kehancuran" wajah Hasna tiba tiba meredup.


"Kenapa bisa begitu?" Ozza penasaran.


Hasna kemudian bercerita tentang rumah tangga kedua kakaknya. Setelah mendengar cerita Hasna , Ozza bertanya.


"Apa kamu yakin jika kamu memilihku, kelak kamu akan lebih bahagia dari kakak kakak kamu?"

__ADS_1


__ADS_2