Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Batal


__ADS_3

Sore itu rumah pak Budi kedatangan tamu.


Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, Ali dan kakaknya main ke rumah Hasna.


"Assalamualaikum, apa bapak dan Hasna nya ada?" tanya kakak Ali.


"Waalaikumsalam, ada tapi ada perlu apa ya? sepertinya saya belum pernah bertemu dengan kalian" jawab Najwa yang lebih dahulu membukakan pintu.


"Oh maaf, apa boleh kami masuk dulu biar lebih sopan bicaranya" tukas kakak Ali yang menganggap cara Najwa menerima tamu itu kurang sopan.


"Oh, maaf jika saya kurang sopan. Tapi apa salahnya kalian menjawab pertanyaan saya terlebih dahu, karena kami tidak menerima tamu sembarangan" jawab Najwa dengan nada yang tidak bersahabat.


"Oh begitu kah? tapi kami bukan tamu sembarangan. Sepertinya anda bukan anggota keluarga pak Budi, sehingga tidak tahu siapa kami. Saya Husein dan ini Ali adik saya. Kami pernah melakukan taaruf dengan Hasna" jawab Husein.


"Oh jadi ini yang namanya Ali. Perkenalkan saya Najwa putri sulung pak Budi , kakak pertama Hasna. Dan saya adalah orang pertama yang akan menghalang perjodohan ini" tukas Najwa dengan tegas.


"Apa maksud anda? anda tidak bisa berbicara seenaknya. Abi sudah bersepakat dengan ayah kamu untuk menjodohkan Ali dan Hasna, kenapa dengan lancang anda menghalangi tanpa meminta pendapat pak Budi?" Husein nampak tidak terima dengan ucapan Najwa.

__ADS_1


"Silahkan tanya pada ayah saya, dia pasti juga akan memberi jawaban yang sama" jawab Najwa dengan yakin.


"Baiklah, izinkan kami bertemu dengan ayah anda" pinta Husein dengan wajah suram.


"Silahkan, beliau ada di dalam" sahut Najwa.


Sementara pak Budi yang dari tadi mendengar percakapan mereka dari ruang tamu, merasa pilu dan juga malu.


Entah bagaimana cara beliau nanti untuk menyampaikan pembatalan perjodohan Hasna dan Ali.


"Assalamualaikum " Husein dan Ali memberi salam tanpa mengulas senyum.


"Maaf pak, langsung saja ke inti tujuannya. Apakah benar pak Budi akan membatalkan perjodohan antara Hasna dan adik saya?" Husein nampak tidak sabaran.


Pak budi menarik nafas panjang menyiapkan diri menjawab pertanyaan tamunya.


"Dengan beribu maaf dan dengan tidak sedikitpun mengurangi rasa hormat, kami terpaksa membatalkan perjodohan ini" pak Budi berkata dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Tapi kenapa pak? tolong beri kami alasan yang bisa kami sampaikan kepada abi (abi artinya adalah ayah dalam bahasa arab)"


"Hasna belum siap untuk berumah tangga" jawab pak Budi dengan berat hati.


"Belum siap? bukankah kami juga pernah mengatakan bahwa adik saya mau menunggu" Husein masih tidak terima dengan alasan pak Budi.


"Iya, tapi saya tidak bisa memaksa putri saya karena dia takut jika akan mengalami hal yang sama dengan kakak kakaknya atas perjodohan yang saya lakukan dulu" pak Budi akhirnya mengakui alasan yang sebenarnya.


"Memangnya apa yang sudah terjadi dengan kakak kakak Hasna?" Husein masih saja bertanya.


"Kakak pertama Hasna mengalami poligami, dan kakak kedua mengalami KDRT" jawab pak Budi jujur.


"Lalu dengan kejadian itu apa anda pikir kami juga akan melakukan hal yang sama? secara tidak langsung kalian sudah suudzon kepada kami bahkan bisa di bilang menjatuhkan nama baik keluarga besar kami" ujar Husein sangat kecewa.


"Maaf, bukan seperti itu. Demi Allah bukan seperti itu. Ada rasa ketakutan berlebih di hati Hasna melihat rumah tangga kakak kakaknya. Itu saja," pak Budi masih berusaha meyakinkan Husein.


"Tidak semudah itu kami percaya, pasti ada alasan lain. Apa ada laki laki lain yang melamar? atau jangan jangan putri anda sudah..."

__ADS_1


"Cukup ! Kami tidak meminta kalian untuk percaya. Satu hal yang pasti tanpa di tawar adalah perjodohan ini batal !"


__ADS_2