
"Apa maksud bunda? Hasna tidak mengerti " tanya gadis lugu itu.
"Jika kamu ingin membawa nya ke arah kebaikan, maka yang lebih dulu kamu taklukkan adalah hatinya. Karena sesuatu yang dari hati itu akan lebih tulus, tapi...."
kalimat bu Farida terhenti.
"Tapi, apa bun?" Hasna kembali bertanya.
"Tapi kamu harus tetap bisa menjaga hatimu sendiri, karena kamu perempuan dan dia laki laki. Jangan sampai niat hatimu ingin membawa hatinya, tapi malah hatimu yang di bawa kabur sama dia" tukas bu Farida.
"Ya nggak lah bun, nggak mungkin dia bisa bawa kabur hati Hasna." jawab Hasna dengan cepat.
"Hati hati aja bermain hati, itu saran bunda. Kamu sudah beranjak dewasa, hal semacam itu tidak bisa bunda ajari, kamu harus belajar sendiri. Mengerti kan?" tutur bunda Hasna.
"Mengerti bun" jawab Hasna.
Keesokkan hari.
"Hasna, "panggil Ozza.
"Kapan kita mulai belajar bareng?" tanya nya kemudian.
"Emmmm, Hari minggu aja gimana?" jawab Hasna berusaha bersahabat.
"Cuma satu kali seminggu? mana cukup? Eh maksudku, belajar satu kali seminggu kapan pintarnya?" ucap Ozza berlaga pengen pintar beneran.
__ADS_1
"Iya ya, kamu benar . Tapi hari ini aku masih ada kegiatan sampai sore, nanti aja aku kabari lagi" sahut Hasna.
"Oke, berapa nomor ponselmu? biar kita gampang berkomunikasi." tanya Ozza yang berhasil menjebak Hasna.
Sedikit keraguan muncul ketika Ozza meminta nomor ponsel, namun tiba tiba Hasna teringat pesan bundanya hingga kemudian dia sebutkan nomor ponselnya kepada Ozza.
"Oke, udah aku save. Makasih ya, aku pergi ke kelas dulu." kata Ozza sambil berlalu meninggalkan Hasna yang masih terpaku seperti habis kerampokan.
Iya, bagi Hasna memberikan nomor ponsel kepada seorang laki laki adalah suatu kehilangan yang besar. Namun dia berharap hal itu tidak akan mendatangkan keburukan , dan bisa membawa Ozza ke arah yang lebih baik.
Bukan tanpa alasan pula Ozza berlalu ketika Hasna masih terdiam. Bukan berniat mengacuhkan, tapi itu adalah salah satu caranya agar dia tidak terlihat agresif di mata Hasna. Perlahan tapi pasti, itu trik yang di lakukan Ozza saat ini.
"Lima juta akan cair bro" ucap Ozza kepada sahabatnya Mario sambil menunjukkan nama Hasna yang sudah masuk di daftar kontak ponselnya.
"Gila, itu beneran nomornya Hasna?" tanya Mario tidak percaya.
"Ah, tapi itu kan baru nomor. Siapa tahu aja kamu dapat dari teman Hasna? Nggak susah kan nanya nomor doang? finishnya itu kencan !" tukas Mario.
"Nggak sabaran amat sih, tunggu aja tanggal mainnya ! Dan ini nomor beneran aku dapat langsung dari anaknya. Suer...." jawab Ozza sambil mengangkat kedua jarinya.
"Iya deh percaya sama kemampuan playboy cap kadal !" sindir Mario secara halus.
"Anjiirr, bukan kadal kali. Tapi buaya..."
keduanya tertawa lepas.
__ADS_1
Bukannya kesal karena di bilang playboy, tapi nampaknya Ozza bangga dengan prestasi itu.
Drrtt...drrrrttt...
Ponsel Hasna bergetar ketika dia sedang ada di kelas.
Hendak Hasna abaikan, namun ponselnya terus bergetar, karena beberapa pesan telah masuk bertubi tubi dari penggemar barunya Ozza.
Dengan sedikit menundukkan kepala, Hasna melirik ponsel dan berusaha membukanya.
Dua puluh pesan dari Ozza.
"Hasna aku mau tanya dong tentang ini"
Ozza bertanya lengkap dengan screenshort dari pertanyaannya.
"Yang ini juga dong , aku nggak paham"
Satu lagi di baca Hasna lengkap dengan screenshort juga.
"Terus ini gimana? aku beneran bingung"
Satu pesan lagi terbuka, dan benar benar membuat Hasna geleng kepala.
Dan begitulah inti pesan selanjutnya hingga Hasna menyelesaikan membuka dua puluh pesan tersebut.
__ADS_1
"Ini bertanya atau merampok?"