Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Gagal


__ADS_3

"Saya memang mengaku salah, tapi saya bukan pengecut. Dengan datangnya saya di rumah ini untuk menjemput Najwa, itu adalah satu bukti tanggung jawab saya pada keluarga.Harusnya anda bisa menghargai itu, bukan malah menghakimi saya rame rame" sangkal Saiful dengan wajah menggebu.


"Lalu kamu akan membawa putriku kembali ke rumahmu yang di sana juga ada istri muda mu? dimana perasaan dan otak kamu?" pak Budi masih belum juga menurunkan nada suaranya.


"Mereka bisa saling mengenal, jika sudah dekat pasti mereka bisa menjalin hubungan baik" jawab Saiful tanpa beban.


"Satu keputusan dari ku, jika memang kamu masih ingin melanjutkan rumah tangga dengan Najwa, tinggallah di sini bersama kami. Itu pun jika Najwa masih menerima mu!" tegas pak Budi.


"Tidak mungkin, jika saya tinggal di sini bagaimana dengan istri muda saya? " tanya Saiful yang membuat bu Farida semakin geram.


"Itu resiko dia karena menikah dengan istri orang. Harusnya dia bisa mengerti jika kamu bukan sepenuhnya miliknya" bunda Hasna tiba tiba ikut bersuara.


"Betul" sahut Najwa yang mendadak muncul dari dalam kamar.


"Biar adil, kamu empat hari di sini dan tiga hari di sana. Aku meminta empat hari karena aku yang lebih tua" tutur Najwa selanjutnya.


"Itu tidak mungkin, dia sedang mengandung. Jadi kita tidak mungkin terpisah. Kamu sendiri pernah merasakan bagaimana waktu hamil ketika ingin selalu di temani" Saiful malah membalikkan keadaan kepada Najwa.


"Jangan samakan aku dengan dia. Aku dulu ingin selalu di temani karena aku tahu aku adalah istri tunggal kamu, sementara dia? dia tahu jika kamu sudah beristri. Harus nya dia juga pikirkan bagaimana perasaanku!" Najwa tidak terima.

__ADS_1


"Tapi setidaknya kamu sedang tidak hamil , dan dia sedang hamil, tolonglah kamu mengerti" pinta Saiful.


"Mengerti? mudah saja, biar adil aku juga mau hamil lagi seperti dia . Lagian Faiz juga sudah besar. Sama kan? Jadi kamu harus selalu menemaniku !" permintaan Najwa membuat Saiful tak bisa berkelit.


"Kamu itu egois!" satu kalimat pelarian ketika Saiful sudah tidak bisa membela diri.


"Kamu yang mengajariku menjadi egois!" Najwa tak mau kalah.


"Sudah sudah, sekarang ambil saja kesimpulannya. Apa kamu mau melakukan permintaan Najwa untuk membagi waktu di sini dan di sana? Harusnya kamu bersyukur karena Najwa tidak langsung menggugat kamu!" tegas pak Budi.


"Maaf saya tidak bisa. Jika masih mau meneruskan rumah tangga denganku, dia harus ikut denganku!" jawab Saiful dengan lantang.


"Assalamualaikum" Saiful pergi tanpa meninggalkan salam.


"Waalaikumsalam" jawab seluruh penghuni rumah.


Najwa merobohkan tubuhnya ke sofa. Meski suaranya sering terdengar lantang, tapi sebagai wanita biasa hatinya juga tetap rapuh jika berada dalam posisi seperti itu.


"Bunda, maafkan Najwa. Najwa gagal menjadi seorang istri, hi... hi..." tangis Najwa pecah di pelukan sang bunda.

__ADS_1


"Sabar nak, sabar. Kamu harus kuat dan kamu pasti kuat" bu Farida berusaha menenangkan putrinya meski hatinya sendiri hancur.


Hasna dan Zahra juga ikut memberi dukungan kepada kakak sulungnya.


"Sabar kak, kata kakak kita nggak sendiri. Kita pasti mampu melewati ini semua kak" ucap Zahra sambil memeluk tubuh Najwa.


Mendengar tangis dari istri dan ketiga putrinya membuat hati pak Budi bagai tercabik cabik pisau tajam.


"Semua salah ayah, maafkan ayah putri putriku" air mata pak Budi pun juga ikut menetes dengan sendirinya.


*


*


*


Hai hai, gimana gaes? seru nggak? sambil nunggu kelanjutannya, othor punya karya baru yang mampu menghabiskan tissue karena ceritanya banyak bawangnya.


Nih karya baru milik othor, cus otw ke sana✈️🚀

__ADS_1



__ADS_2