
Silvia datang ketika Olla dan Lily sedang berdebat.
Seketika keduanya terbungkam melihat kedatangan mama Ozza.
"Eh tante...." Olla segera mendekat dan hendak mencium tangan Silvia.
Namun karena Lily berdiri lebih dekat dengan Silvia, maka dia berusaha mendahului Olla.
"Apaan sih? kan aku duluan yang nyamperin tante Silvia? " tukas Olla.
"Buktinya aku duluan yang berdiri di sini" sangkal Lily.
"Nggak bisa gitu dong, jelas jelas kamu cuma ngikut ngikut aku doang..." Olla nampak kesal.
"Iih...ke PEDE an...siapa juga yang ikut ikut kamu?" Lily membela diri.
"Sudah ...sudah ...jangan ribut kayak anak kecil aja...kalian ini jenguk orang sakit kok malah kayak gitu sikapnya...?" tegur Silvia.
"Maaf tante...semua ini gara gara dia" Olla segera membela diri.
"Iiiihh...kok aku yang di salahin?" Lily tidak terima.
"Tante aja yang pilih salah satu dari kami..." ucap Lily selanjutnya.
"Iya aku setuju...biar tante Silvia aja yang pilih..." sahut Olla dengan percaya diri.
"Baik , tante akan pilih..." ujar Silvia.
Olla dan Lily terlihat sangat antusias mendengar jawaban Silvia selanjutnya.
__ADS_1
"Tante pilih Hasna"
Glek,
Kedua perempuan itu di buat patah hati bersamaan.
"Loh kok dia? bukankah tadi dia bilang saudaranya Ozza?" Lily tidak terima.
"Bukan..dia bukan saudara nya Ozza..." jawab Silvia.
"Jadi dia pacarnya Ozza ?" tanya Olla nampak frustasi.
"Bukan juga...tapi dia ....calon menantu saya...!"
Glodak....duarrrrr.....
Tanpa banyak mengajukan pertanyaan lagi mereka berdua keluar dengan wajah berapi api.
Sementara Hasna masih mematung dan terpaku mendengar jawaban mama Ozza.
"Maafkan tante...nak Hasna...tante terpaksa mengatakan hal seperti itu agar mereka keluar dari ruangan ini. Nak Hasna tidak keberatan kan?" tanya Silvia.
Hasna menggeleng sambil tersenyum, walau hatinya sedikit keberatan.
Ozza ikut lega karena mamanya telah menyelamatkan dirinya dari dua macan betina yang liar.
"Ozza, sampai kapan kamu akan seperti itu? kamu semakin dewasa dan bertambah usia..kamu tidak boleh bermain main terus, apalagi bermain perempuan"
tegur Silvia kepada putranya.
__ADS_1
Ozza hanya nyengir sambil menggaruk pelan kepalanya tanpa mengeluarkan kata kata.
Dua hari kemudian.
Ozza sudah benar benar pulih. Dia di perbolehkan pulang dan di sarankan untuk berobat jalan.
Dimas dan Silvia lebih meluangkan banyak waktu untuk putranya, meski pekerjaan mereka menumpuk.
"Ozza... papa mau minta izin sama kamu, lusa papa ada kerjaan di luar kota..mungkin harus menginap satu pekan...kamu dan mama ngizinin papa kan?" tanya Dimas tertuju kepada putra dan istrinya.
"Iya pa..." jawab Ozza dengan senyum. Begitupun Silvia juga menjawab serupa.
"Terima kasih pa...Terima kasih ma.... sekarang kalian menjadi begitu perhatian padaku..." ucap si playboy kelas kadal itu.
"Hasna yang membuat kita bersatu, jadi papa harap jangan sampai kamu melepaskan dia... dia seorang gadis berhijab yang sangat sopan dan berhati mulia ..dia bisa mengajarimu kebaikan yang mungkin belum pernah papa dan mama ajarkan selama ini sama kamu..."
Dimas menasehati putra semata wayangnya.
Ozza terdiam. Dia berpikir jika orang tuanya tahu bahwa tujuan dia mendekati Hasna hanya karena sebuah taruhan, pasti papa dan mamanya sangat kecewa.
"Ozza ...mama mau tanya sesuatu sama kamu.." kata Silvia.
"Tanya apa ma?" balas Ozza.
"Apa kamu benar benar mencintai Hasna?"
satu pertanyaan yang sangat menyudutkan Ozza.
"Aku...aku......"
__ADS_1