
Tok...tok...tok..
Terdengar suara ketukan pintu. Keduanya terkejut dan segera Zahra raih masker di mejanya.
"Siapa dek?" tanya Zahra.
"Enggak tahu kak, Hasna lihat dulu ya?" ucap Hasna.
Ceklek, pintu terbuka.
"Bunda" sapa Hasna.
"Loh kamu lagi di sini Hasna?" tanya bu Farida.
"Iya bun, Hasna kangen sama kak Zahra" jawab Hasna menutupi.
"Zahra, ini bunda bawakan obat buat kamu. Kamu minum ya biar cepat sembuh" tutur bu Farida.
"Iya bun, makasih" jawab Zahra sambil menerima obat pemberian bundanya dan menyimpannya di tas.
"Kenapa tidak langsung di minum?" tanya bu Farida.
__ADS_1
"Emm, nggak apa apa bun . Tadi abis minum obat" Zahra beralasan.
"Oh gitu, tapi suara kamu nampak baik baik saja nak. Tidak seperti orang flu, kamu juga tidak batuk. Kenapa kamu harus mengenakan masker berlebihan?" tanya bu Farida yang sudah mulai curiga.
"Emm, itu bun. Masih belum, maksudnya baru gejala dan takutnya nular karena tenggorokanku mulai tidak nyaman" jawab Zahra sedikit gugup.
Sebagai wanita yang pernah mengandungnya selama sembilan bulan, bu Farida merasakan ada yang janggal pada putrinya.
"Zahra, ada apa? jangan berbohong" ucap bu Farida dengan lembut.
Dan sayangnya satu kalimat lembut itu justru memancing air mata Zahra, dan berhasil membongkar kebohongannya.
"Tidak, ayaah..!" teriakan bu Farida terdengar di telinga pak Budi.
"Putri kita, ada apa dengan kedua putri kita? kenapa semua menjadi seperti ini?" kata bu Farida sambil menangis.
Tak kalah pilunya hati pak Budi mendapati bibir Zahra yang terdapat luka lebam berwarna biru akibat kekerasan yang di lakukan sang menantu.
Mau menangis namun tak mampu mengeluarkan air mata, lutut pak Budi merasa lemas hingga tersungkur di lantai sebelah kasur.
"Ayah?" Hasna berusaha memapah tubuh ayahnya namun tak kuasa.
__ADS_1
"Maafkan ayah, maafkan ayah. Ayah telah gagal " ucap pak Budi dengan menunduk penuh penyesalan.
"Tidak yah, jangan berkat seperti itu. Ini bukan salah ayah, mungkin memang ini sudah menjadi takdir Zahra" wanita itu merangkul ayahnya begitu pula Hasna.
"Ada apa ini ? kenapa ayah terjatuh di lantai?" tanya Najwa yang baru saja mendengar kericuhan dari kamar Zahra.
"Astaghfirullah dek Zahra, bibir kamu kenapa?" belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Najwa, wanita itu sudah menemukan jawabannya.
"Ada apa bun? apa yang sudah terjadi pada dek Zahra? siapa yang melakukannya?" Najwa masih berusaha mencari tahu.
Tidak ada yang mampu bersuara di antara bu Farida , pak Budi dan juga Zahra. Hingga akhirnya Hasna yang angkat bicara.
"Kak Zahra mengalami KDRT kak"
"Astaghfirullah dek, kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus laporkan masalah ini ke polisi" sebagai kakak tertua Najwa mempunyai tingkat kekhawatiran yang berlebih pada kedua adiknya.
"Ayah, jangan diam saja. Kedua putrimu sedang tidak baik baik saja, kita harus melakukan sesuatu. Kita di dizolimi ayah, jangan pernah terapkan lagi perjodohan dalam keluarga kita agar tidak terulang kejadian yang sama. Terutama pada Hasna, satu satunya anak ayah yang belum berumah tangga" Najwa tidak bisa menahan segala isi hati yang dia pendam.
"Iya nak,iya. Ayah minta maaf. Ayah sangat menyesal dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama pada Hasna" sahut pak Budi dengan mulai menitikkan air mata.
"Sudah kak, jangan sudutkan ayah. Mungkin ini memang sudah takdir kita" Zahra berusaha membela sang ayah.
__ADS_1
"Tidak nak, apa yang di katakan kakakmu benar. Ini semua salah ayah"