Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Khilaf


__ADS_3

"Sudah dek, jangan terlalu di pikirin. Kamu adalah ibu kandungnya, pasti hak asuh ada di tangan kamu. Kita semua bersama kamu dek, kamu nggak sendiri " Najwa berusaha menguatkan sang adik.


"Iya nak, kamu jangan terlalu banyak pikiran . Kesehatan kamu juga belum pulih total. Lebih baik kamu banyak istirahat ya " ucap bu Farida sambil mengelus pundak putrinya.


"Iya kak, ayo Hasna antar kakak istirahat ke kamar " Hasna juga ikut menenangkan.


Zahra mengangguk lalu melangkah bersama bunda dan adiknya menuju kamar.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, kembali terdengar bel berbunyi.


Ting tung,


"Siapa kak? Jangan jangan mas Abdul kembali lagi?" tanya Zahra.


"Nggak tau dek, biar kakak saja yang lihat. Ini bun , tolong gendong Zein dulu" ucap Najwa sambil memberikan keponakan yang dari tadi dia gendong kepada bundanya.


Pak Budi hanya menjadi penonton pasif, beliau sudah tidak mampu bersuara mengingat dirinya lah yang menciptakan penderitaan putrinya.


Ceklek, pintu di buka.

__ADS_1


"Kamu? ngapain kamu ke sini?" seru Najwa.


"Assalamualaikum, apa begitu cara kamu menerima tamu?" sahut sang tamu.


"Waalaikumsalam , pergi dari sini !" usai menjawab salam, Najwa hendak menutup kembali pintunya namun tenaga tidak cukup kuat melawan pria di balik pintu yang tak lain adalah Syaiful suaminya.


Mendengar seperti ada keributan, bu Farida dan pak Budi berjalan mendekati pintu.


"Ada apa nak?" tanya bu Farida.


"Bunda temui saja dia !" sahut anak sulungnya kemudian berlari ke dalam.


"Masuklah, ada yang ingin saya bicarakan!" tutur pak Budi dengan wajah sangat geram.


Syaiful menurut dan bisa di tebak bahwa mertuanya akan memberikan wejangan.


"Kami tidak pernah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga kalian selama ini, yang kami tahu kalian baik baik saja. Dan betapa terkejutnya kami saat melihat Najwa pulang ke sini dengan membawa berita bahwa kamu telah menikah lagi, bahkan wanita yang kamu nikahi sudah mengandung. Apa itu benar?" tanya pak Budi dengan bersikap sebijak mungkin.


"Benar " satu jawaban singkat dari sang menantu membuat pak Budi ingin melempar bogem ke tubuhnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah" Hasna, Zahra dan bundanya yang ikut mendengar jawaban Saiful mengucapkan istighfar secara bersamaan.


"Kenapa kamu tega berbuat seperti itu kepada putri kami nak?" tanya bu Farida dengan tak mampu menahan air mata.


"Saya khilaf bu" jawab Saiful dengan menundukkan kepala.


"Khilaf? Begitu gampang kamu menjawab khilaf, sementara Najwa sudah mencium perselingkuhan kalian selama dua tahun. Khilaf macam apa yang terjadi selama itu?" pak Budi mulai tidak bisa mengendalikan amarahnya.


"Tidak, itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Tidak seperti itu ceritanya. Saya memang sudah mengenalnya lama, tapi kami tidak berselingkuh. Najwa memang selalu curiga pada saya sejak dulu" Saiful berusaha membela diri.


"Aku tidak peduli benar atau tidak tuduhan putriku selama itu, yang jelas kecurigaannya benar setelah melihat kamu menikahinya, bahkan setelah wanita itu hamil di luar nikah . Suami macam apa kamu , ha? Apa kamu lupa bagaimana ketika dulu kamu meminangnya? Jika kamu sudah tidak mencintainya , pulangkan dia secara baik baik tanpa harus menorehkan luka di hatinya !" pak Budi berkata dengan dada naik turun dan wajah yang memerah.


"Saya masih mencintainya, dan saya tidak ingin kehilangan dia. Itu sebabnya saya tidak akan menceraikan Najwa. Dia tetap menjadi istri saya, dan saya akan tetap menjalani kewajiban sebagai seorang suami yang menafkahi secara lahir dan batin"


Plakkk,


pak Budi sudah tak mampu menahan gerakan tangannya yang dari tadi ingin memberikan sedikit peringatan pada mulut Saiful.


"Begitu mudahnya kamu bicara seperti itu tanpa memikirkan perasaan putriku. Jika adik perempuan kamu mengalami hal serupa, apa yang akan kamu lakukan sebagai seorang kakak?"

__ADS_1


__ADS_2