
"Kamu harus pandai ilmu agama" satu balasan dari Hasna.
Hanya satu saja syaratnya, namun maknanya sangat luas.
Selama ini pendalaman ilmu agama Ozza memang terbatas karena kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya.
"Baiklah, aku akan berusaha" balas Ozza mencoba memberi harapan kepada Hasna.
Satu pesan dari Ozza tersebut berhasil mengukir sedikit harapan di hati Hasna.
Keesokkan pagi,
Ozza tidak masuk kuliah. Dia pergi ke suatu tempat , yakni rumah seorang ulama bernama Gus Ahmad. Ozza bertekad untuk belajar ilmu agama lebih dalam.
Sesampainya di kediaman Gus Ahmad, Ozza di sambut baik oleh tuan rumah dan para pengasuh pondok.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
seorang wanita paruh baya menyahuti, dan rupanya itu adalah umi Zaenab istri dari Gus Ahmad.
Ozza menyampaikan maksud kedatangannya,dan pagi itu juga dia di perkenankan untuk belajar di pondok itu via extra VIP.
(Ada ya, ngaji via VIP?🤔 )
Mengapa di bilang extra VIP, karena proses mengajinya langsung di bimbing oleh sang pemilik pondok pesantren serta kegiatan mengajinya di lakukan di kediaman Gus Ahmad sendiri. Tidak bercampur dengan santri santri lainnya.
__ADS_1
Bingung? Pasti, karena Ozza belum terbiasa.
"Jangan marah ya pak ustad, saya masih sangat awam" ucap Ozza dengan senyum nyengir.
"Nggak apa apa nak, dengan kamu berniat datang ke sini untuk menuntut ilmu itu sudah besar ganjarannya" jawab Gus Ahmad.
Hari itu satu jam Ozza belajar membaca Al qur'an dan satu jam belajar aqidah Islam.
"Ustad, kenapa hari ini tidak belajar membaca Al qur'an saja sampai pulang? biar cepat bisa," tanya Ozza.
Gus Ahmad tersenyum,
"Karena selain pandai membaca Alqur'an , aqidah juga sangat di perlukan untuk bisa menjadi pribadi yang baik" jawab Gus Ahmad.
---------
Ponsel Ozza bergetar ketika dia pulang dari rumah Gus Ahmad.
"Ozza ,kenapa kamu tidak masuk kuliah?"
satu pesan dari Hasna.
"Aku mencoba memenuhi syarat untuk menjadi menantu idaman untuk ayah kamu"
Hasna mengerutkan dahi,
"Maksud kamu?" balas gadis itu.
__ADS_1
"Hari ini aku belajar agama kepada salah seorang ulama, dan aku akan ke rumah ulama tersebut setiap hari"
Hasna terharu membaca balasan Ozza.
"Makasih ya Za, aku yakin kamu bisa menjadi laki laki yang baik dan sholeh"
Satu pesan penutup dari Hasna yang membuat Ozza semakin semangat belajar.
----------
Keesokkan hari.
Ozza mengatur jadwal kegiatannya, pagi kuliah dan sore belajar agama ke rumah Gus Ahmad.
Semangatnya begitu besar. Niat yang awalnya hanya untuk meluluhkan hati pak Budi, namun kini Ozza justru merasa nyaman dengan ajaran ajaran yang di sampaikan oleh guru barunya itu.
Bahkan di hari ke lima Ozza belajar, dia mampu mengajak kedua orang tuanya untuk belajar agama bersama sama.
"Subhanallah, kamu benar benar anak yang sholeh nak Ozza. Kamu mampu menuntun kedua orang tuamu untuk bersama sama mengkaji agama Allah" puji Gus Ahmad ketika melihat Ozza datang bersama kedua orang tuanya.
"Tidak pak ustad, itu berlebihan. Baca Alqur'an aja masih belepotan, gimana bisa di katakan sholeh?" sahut Ozza dengan menundukkan kepala.
Gus Ahmad tersenyum.
"Kamu tahu apa makna kata sholeh? Lancar membaca Alqur'an tidak bisa menjadi tolak ukur kesholehan seseorang, tapi hati dan akhlak yang menjadi kuncinya.
Secara ilmu agama mungkin kamu masih minim, tapi tindakan mu sekarang dengan menuntun kedua orang tuamu ke sini, itu akan menjadi ganjaran dunia akhirat yang tak ternilai harganya"
__ADS_1