
Ozza memegangi pinggangnya yang masih terasa panas akibat satu cubitan kuat mendarat di sana dari tangan Olla.
"Sakit tau "ucap Ozza kesal.
"Habisnya, kamu sih. Manggil macan, macan..." jawab Olla dengan bibir mencebik.
Ozza berdiri dari duduknya dan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Olla.
Si Ocan merasa gugup, karena biasanya jika sudah posisi seperti itu Ozza akan melayangkan sebuah ciuman atau sekedar kecupan.
"Jangan di sini, ada banyak orang, malu " ujar Olla.
"Malu? " Ozza mengerutkan dahi.
"Iya, kamu nggak malu apa kalau di lihatin orang?" tanya Olla kemudian.
"Kamu lah yang harusnya malu, kenapa jadi aku?" balas Ozza sambil mulai menjauhkan diri dari Olla.
"Aku?" tak kalah bingungnya dengan Ozza, Olla juga bingung mendengar jawaban pacarnya.
"Iya, kamu bawa kaca atau tidak ? kalau bawa buruan kamu ambil dan kamu pakai buat berkaca " tukas Ozza sambil mulai membalikkan badan untuk berpindah tempat.
Segera Olla mengambil kaca dari dalam tas dan mengarahkan ke wajahnya, dan benar saja rupanya lipstiknya belepotan ke luar bibir.
"O...M...G..."
Duh malu nggak tuh?? Udah kepedean mau di kecup ternyata lipstiknya belepot🙈🙈
Hari sudah mulai sore, sebentar lagi Hasna pulang.
Gadis itu memang rajin dan selalu mengisi waktunya dengan kegiatan positif apalagi yang bersifat sosial. Entah di dalam kampus atau di luar kampus.
Drrrttt...drrtttt...drrrttt
__ADS_1
Ponsel bergetar , dan lagi lagi Ozza yang mengirim pesan.
"Gimana?" tulis Ozza.
"Apanya?" balas Hasna.
"Itunya? rencana buat belajar bareng" Ozza kembali membalas.
Hasna tidak langsung menjawab, dia masih berpikir bagaimana menanggapi ajakan Ozza.
Hingga akhirnya dia tersenyum karena sudah mendapat cara.
Segera dia raih ponselnya lagi kemudian mulai mengetik untuk membalas pesan Ozza,
"Nanti sore , di rumahku."
Glek,
Seketika Ozza menelan saliva.
"Ayo lah Ozza, nyantai aja. Main ke rumah perempuan, itu bukan hal yang baru untuk kamu, jadi nggak perlu deg degan"
kata Ozza dalam hati.
Sore hari.
Hasna sedang membantu bundanya menyiapkan makan malam.
Sambil memasak Hasna bercerita,
"Bun nanti Ozza datang ke sini" katanya.
"Oh ya? ada kepentingan apa?" tanya bu Farida.
__ADS_1
"Mau belajar bareng bun, abisnya aku bingung mau belajar sama dia dimana? ya udah aku bilang aja di rumah " jawab Hasna.
"Terus, dianya mau?" bu Farida kembali bertanya.
Hasna mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Loh kok nggak tahu?" tanya bunda Hasna lagi.
"Iya bun, bilangnya sih ok. Tapi nggak tau jadi datang apa enggak?"
Ting tung...ting tung...
Belum sempat bunda Hasna kembali menyahuti, mereka mendengar bel berbunyi.
"Biar aku aja yang lihat bun " ucap Hasna dengan memungut lap untuk mengeringkan tangannya yang sedikit basah.
Ceklek
Daun pintu terbuka,
"Kamu?"
"Assalamualaikum Hasna"
"Wa...wa...waalaikum salam Ozza" pipi Hasna memerah ketika Ozza mengucapkan salam, karena biasanya dia yang terlebih dahulu melontarkan kalimat keselamatan itu.
"Aku kira kamu nggak jadi datang " tanya Hasna asal.
"Berarti benar dugaanku, dari tadi hati ku dag dig dug nggak jelas rupanya ada yang lagi nunggu kedatanganku." Ozza mulai mengeluarkan kata gombalannya.
"Iiih ..siapa juga yang nungguin?" bibir Hasna mencebik.
" Ehmmmm...hmmmm, siapa dia Hasna?" tanpa Hasna sadari ayahnya sudah berada di belakangnya dan memperhatikan percakapan singkat mereka.
__ADS_1
"Oh ini yah, dia.. dia...." entah kenapa Hasna mendadak gagap.
"Jangan terima tamu sembarangan!"