Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Menerima


__ADS_3

Siang hari di kantin kampus.


"Bro..ada yang mau aku omongin.." kata Ozza kepada Mario sahabatnya.


"Ada apa bro? kayaknya serius banget?" sahut Mario.


"Iya..ini soal Hasna.." jawab Ozza.


"Kenapa? jangan bilang kamu udah gitu gituan sama dia..terus dianya hamil...atau kamu mau nambah uang taruhan...aduh,, bisa tekor aku...!"


"Heeeeh....ngomong apaan sih? Ngelantur...dengerin dulu aku ngomong...!" bentak Ozza yang mendengar sahabatnya bicara nggak jelas.


"Lha terus ada apaan bro..kamu bilang mau ngomong soal Hasna..serius...ya aku pikir...."


"Hasna bukan perempuan gampangan kayak gitu kali....." ujar Ozza menyela ucapan sahabatnya.


"Aku mulai jatuh cinta beneran sama dia bro...."


"Apa? kamu jatuh cinta sama perempuan berhijab dan kutu buku? Nggak...nggak...nggak... kamu pasti bercanda kan demi dapetin taruhan....??" sahut Mario.


"Enggak bro...aku beneran..." jawab Ozza yakin.


"Terus ? gimana ceritanya bisa seperti itu? " Mario masih menelisik.


"Yaaah aku sendiri kurang tau... tapi yang jelas dia tuh beda .... bahkan dia sanggup balikin keharmonisan hubunganku sama mama papa" jelas Ozza.


"Woow ..sampai segitu hebatnya...nih kayaknya bakalan ada playboy insaf...." tukas Mario menggoda sahabatnya.

__ADS_1


" Apaan sih? " Ozza mengelak.


" Iya bener kan? Siapa tau kalau berhasil macarin dia , kamu jadi insaf...udah...gas pol aja mumpung belum di comot orang..."


kata Mario.


" Nggak semudah itu bro buat ngungkapin perasaan....udah aku bilang dia tuh beda sama perempuan lain, lidahku aja di buat kaku kalau mau ngerayu...aneh kan? Yang ada aku malah jadi patung hidup kalau ngobrol sama dia..." Ozza nampak frustasi.


" Gila...ternyata Hasna nggak seperti yang aku kira.." Mario heran mendengar ucapan Ozza tenang Hasna.


" Ada satu lagi nih yang bikin aku bingung, si Hasna nih beda banget karakternya kalau di rumah sama di waktu kuliah..." Ozza masih asyik bercerita.


Keduanya masih asyik mengobrol tentang Hasna , hingga tak terasa sudah waktunya mereka kembali ke kelas.


Pulang kuliah.


"Wa alaikum salam Ozza..." jawab Hasna dengan senyum manis.


"Mau aku antar pulangnya?" tanya Ozza.


"Eemmmm nggak usah...aku naik ojol aja.." jawab Hasna.


"Nggak apa apa... rumah kita kan jalannya searah..." Ozza masih menawarkan diri.


"Ya udah deh kalau nggak ngerepotin..." Hasna akhirnya menerima tawaran Ozza.


Di dalam mobil.

__ADS_1


" Na.. apa kamu udah punya jawaban dari ucapanku kemaren?" Ozza bertanya sambil mengemudi.


" Ozza ... semua orang berhak memiliki perasaan apapun karena cinta termasuk anugrah... tapi tidak berarti kita harus terikat hubungan kecuali pernikahan, karena agama juga melarang hal itu..."


ucapan Hasna terhenti.


"Jadi...." tanya Ozza lagi.


"Jika kamu menyukaiku silahkan ..boleh boleh aja itu hak kamu... aku sebenarnya juga suka sama kamu , tapi aku nggak bisa kalau di ajak pacaran...cukup kita saling tahu kalau kita saling suka aja..."


"Jadi ...kamu nerima aku?" Ozza sangat gembira.


"Nerima perasaaan kamu aja, tapi aku belum menerima dirimu jika kamu belum halal untukku..." jawab Hasna kemudian.


"Terima kasih Hasna, aku akan buktikan kalau rasa cinta dan suka ku ini beneran dari hati bukan hanya di mata...." sahut Ozza dengan mata hang berbinar.


Hasna tersipu malu dengan ucapan Ozza.


"Bro.. Hasna udah nerima aku..."


pesan singkat yang di kirim oleh Ozza kepada sahabatnya.


" Serius? " balas Mario.


" Dua rius...." yakin Ozza.


"Ah ..aku nggak percaya kalau aku nggak lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu kencan sama dia..." sangkal Mario.

__ADS_1


"Kencan? Ya nggak mungkin lah...."


__ADS_2