
"Terima kasih, berkat kamu Ozza menjadi...."
ucapan Dimas terpotong oleh Hasna.
"Jangan om...jangan.... berterima kasih padaku om, aku tidak melakukan apa apa...Ozza menjadi baik karena kedatangan om dan tante sendiri..."
sahut Hasna dengan cepat.
"Tapi jika tidak ada kamu ,kami akan kesulitan mengaturnya.."
lanjut Dimas.
Kali itu Hasna tidak menyahuti, dia diam dengan menunduk sebagai rasa hormat.
"Aku barterima kasih banyak atas apa yang kalian lakukan malam ini, Pak...Bu.... dan juga kamu Hasna"
Dimas kembali bersuara.
"Sama sama pak, memang sebagai sesama manusia kita harus tolong menolong... semoga Ozza lekas sembuh dan keluarga kalian kembali harmonis...."
Pak Budi mengutarakan pikirannya.
"Kami harus banyak belajar kepada kalian tentang arti keluarga ...saya harap persahabatan Hasna dan Ozza tetap terjalin, karena Hasna yang mampu mengendalikan sikap Ozza yang susah di atur.."
pinta Dimas, ayah Ozza.
"Tentu.. Hasna dan Ozza harus tetap bersahabat" Farida ikut menimpali.
Keesokkan pagi.
Ozza mulai membuka mata. Dia merasa ada yang menggenggam kedua tangannya.
Dan begitu dia terkejut setelah melihat siapa yang berada di sisi kanan dan kirinya.
"Papa.... Mama...."
__ADS_1
ucap Ozza ketika melihat kedua orang tua nya tidur sambil duduk dan menyandarkan kepalanya di ranjang yang dia tempati.
Sementara tangannya menggenggam tangannya erat.
Satu momen yang tidak pernah Ozza jumpai, dan mungkin terakhir dia mendapat kesempatan itu adalah ketika dia masih SD di waktu Ozza sedang sakit.
Merasa ada yang bergerak, mata Silvia juga terbuka.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Farida sambil mengangkat kepala yang dia sandarkan di ranjang Ozza.
"Sudah ma...kenapa tidur di situ? mama nggak pulang?" tanya Ozza.
Silvia menggeleng lalu berkata,
"Tidak, mama akan menemani kamu
di sini sampai sembuh"
"Seriusan ma?" tanya Ozza tak percaya.
Tak berselang lama, Dimas juga bangun.
"Ozza ..kamu sudah bangun nak?" tanya sang papa.
"Udah pa...papa nggak masuk kerja hari ini?" Ozza balik bertanya.
"Papa sengaja libur kerja buat nemenin kamu di sini..." jawab Dimas.
"Terima kasih pa, maafin sikap Ozza selama ini...." Ozza merasa bersalah.
"Papa juga minta maaf, karena kurang memperhatikan dirimu..." ucap Dimas.
"Mama juga minta maaf Ozza.."’
Mereka bertiga akhirnya berpelukan.
Hari sudah mulai siang, Ozza memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh.
__ADS_1
Terdengar pintu di ketuk.
Tok..tok...tok...
Ceklek
Pintu terbuka karena tidak terkunci
"Assalamu alaikum..." ada yang memberi salam.
"Waalaikum salam..." Ozza dan kedua orang tunya bersama sama menjawab salam yang ternyata dari Hasna.
"Eh ada nak Hasna, mari masuk ...sini duduknya..." Silvia mempersilahkan Hasna duduk.
"Makasih tante..." jawab Hasna dengan menundukkan kepala.
"Makasih ya Hasna ,kamu mau jengukin aku lagi..." ucap Ozza.
"Sama sama...gimana keadaan kamu?" sahut Hasna.
Ozza tidak tahu bahwa Hasna sudah memegang amanat besar untuk membimbing dirinya.
Tanpa Hasna ketahui juga bahwa Ozza mendekati dirinya hanya karena sebuah taruhan.
"Oh ya...berhubung ada nak Hasna di sini... boleh nggak kalau tante titip jaga Ozza sebentar, karena tante mau ambil baju ganti dulu"
tanya Silvia.
"Iya ...papa juga mau nemuin klien sebentar, tapi nanti sore papa balik lagi"
Dimas juga ikut menyela.
"Iya om..tante...nggak apa apa... biar aku yang jagain Ozza" jawab Hasna tulus.
Ada setitik rasa bersalah di hati pria playboy itu melihat sikap Hasna padanya.
"Ku rasa aku terlalu kejam jika hanya menjadikannya taruhan...."
__ADS_1