
Mobil Ozza di tabrak oleh mobil lain dari arah berlawanan. Al hasil terjadi benturan keras yang mengakibatkan kepala Ozza membentur setir yang dia kemudi.
Darah mulai mengalir di keningnya, dan dia pun tak sadarkan diri.
Para warga mulai berdatangan memberi pertolongan, dan berusaha mencari identitas korban.
Rupanya identitas diri Ozza yang dia taruh di dalam dompet tertinggal di rumah Hasna beserta dompetnya.
Para warga kesulitam untuk mengenali Ozza, sehingga mereka berusaha mencari ponsel Ozza barang kali menemukan petunjuk.
Selama menunggu informasi, Ozza sudah di larikan ke Rumah Sakit terdekat.
Sementara mobil Ozza kini di amankan pihak polisi.
Ponsel Ozza terkunci sehingga para warga tidak bisa mencari informasi, kecuali jika ada yang menelpon ponsel tersebut.
Dan benar saja, Hasna menghubungi ponsel Ozza.
Rupanya gadis itu baru menyadari jika dompet Ozza ketinggalan.
Kring ....kring....
Ponsel Ozza berdering
Di dalamnya tertulis panggilan dari Hasna..
Salah seorang warga itu mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo..."
Mendengar suara yang berbeda dari seberang telpon, Hasna hendak bertanya bertanya.
Dan belum sempat bertanya, dia di beri kabar bahwa sang pemilik ponsel mengalami kecelakaan.
"Katakan dimana kejadiannya?" tanya Hasna panik.
"Ada apa sayang?" tanya bunda Hasna.
"Ozza bun, Ozza kecelakaan...dan identitas dirinya tertinggal di sini, jadi tidak ada keluarga yang bisa di hubungi..."
jawab Hasna dengan mata berkaca.
Biar bagaimanapun Hasna adalah gadis yang berhati lembut dan mudah tersentuh hatinya. Dia merasa iba pada kejadian yang menimpa Ozza.
Tanpa menunggu lama ketiganya segera menuju Rumah Sakit yang sudah di informasikan oleh warga.
Niu...niu...niu...
Bersamaan dengan datangnya mereka bertiga, datang pula sebuah ambulance yang rupanya sedang membawa orang yang sudah menabrak Ozza.
Hati Hasna berdesir, dia termasuk tipikal lemah jika berada di Rumah Sakit dan melihat darah.
Namun malam itu dia berusaha melawan ketakutannya, demi Ozza.
Hasna berjalan menuju IGD tempat Ozza di tangani, sementara ayah dan bundanya senantiasa mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Ada luka robek di bagian kepala karena benturan keras, dan hal itu juga yang membuatnya tidak sadar diri. Namun tenang saja, tidak terjadi hal serius. Kami sudah melakukan CT Scan dan hasilnya bagus"
tutur sang Dokter.
"Alhamdulillah..." Hasna mengulum senyum sambil menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya sebagai tanda syukur.
"Kapan dia akan siuman Dok?" tanyanya kemudian.
"Mungkin setengah atau satu jam kemudian, namun jika tidak ada perubahan kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.." Dokter tersebut memberikan penjelasan panjang lebar.
"Ayah ..bunda..bagaimana cara menghubungi keluarga Ozza?" Hasna meminta pendapat kedua orang tuanya.
Pak Budi sejenak berpikir, hingga kemudian dia menemukan sebuah solusi.
"Kamu tunggu dia di sini, ayah dan bunda akan mendatangi alamat yang tertera pada kartu identitas Ozza" ujar ayah Hasna.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan Rumah Sakit tersebut untuk mencari rumah Ozza.
"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan" kata seorang perawat yang sedang mengurus pemindahan Ozza.
"Baik sus" Hasna berjalan mengiringi para tim medis itu menuju ruang perawatan.
Setelah para suster meninggalkan ruangan itu, kini hanya tinggal Hasna dan Ozza di dalamnya.
Sedikit rasa takut dan tidak nyaman bagi Hasna, karena ini kali pertamanya dia berada di ruangan Rumah Sakit sendirian menunggu pasien.
"Za...bangun dong, buka mata kamu.. aku takut sendirian...."
__ADS_1