Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Zahra


__ADS_3

Dua hari sudah Najwa menginap di rumah orang tuanya. Meski berusaha menghibur putrinya, namun hati bu Farida sendiri tak kalah hancur. Apalagi hati pak Budi yang selalu di liputi rasa bersalah melihat derita batin yang di alami Najwa.


"Hasna , gimana kuliah kamu?" tanya Najwa kepada adiknya ketika mereka sedang berada di kamar Hasna.


"Alhamdulillah baik kak, tiga semester lagi aku udah lulus" jawab Hasna.


"Na, kakak mau tanya sesuatu" kata Najwa.


"Tanya apa kak?" Hasna menyahuti.


"Apakah ayah pernah membicarakan tentang perjodohan sama kamu?" tanya Najwa tanpa basa basi.


Hasna menganggukkan kepala dengan pelan.


"Dengan siapa Na? Kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Najwa menyelidik.


"Sudah kak, dia pernah datang ke rumah bersama kakaknya" jawab Hasna serius.


"Sudah sejauh itu?" tanya Najwa kemudian.


Hasna mengangguk.


"Hasna, jika mampu jauhilah perjodohan. Carilah pendamping yang sudah benar benar cocok di hatimu" pesan Najwa kepada adiknya.

__ADS_1


Hasna mengiyakan pesan dari sang kakak, karena memang dia berniat untuk menolak perjodohan itu.


Bel berbunyi di sore hari.


Hasna berjalan menghampiri pintu tersebut dan melihat siapa yang datang. Rupanya telah berdiri di balik pintu kakak keduanya dan keponakan mungilnya.


"Siapa yang datang Hasna?" tanya bu Farida.


"Kak Zahra dan Zein bun" sahut Hasna lalu bergegas membuka pintu.


"Eh ada cucu omah datang, ayuk sini oma gendong" bu Farida menyambut kedatangan putri dan cucunya.


"Datang bersama siapa kamu nak? mana suamimu?" tanya pak Budi.


"Oh begitu, ya sudah kamu ajak Zein makan gih tadi bundamu masak makanan kesukaan kamu" kata pak Budi pada putri keduanya.


Zein adalah putri Zahra yang masih berusia satu tahun.


Merasa trauma dengan kedatangan putri pertamanya yang pulang membawa luka, pak Budi berharap kedatangan Zahra bukan karena hal yang sama.


"Loh ada kak Najwa juga di sini, Faiz mana kak?" tanya Zahra.


"Faiz nggak ikut Ra" jawab Najwa singkat.

__ADS_1


Zahra merasa ada yang aneh.


"Ada apa bun? sepertinya kak Najwa sedang ada masalah" tanya Zahra kepada bundanya.


"Iya nak, suami kakakmu menikah lagi dua hari lalu" lirih bu Farida dengan mata mulai berkaca.


"Astaghfirullah, kenapa bisa begitu bun?" tanya Zahra kemudian.


"Bunda juga nggak tahu nak, selama ini kakakmu terlihat baik baik saja dan tidak banyak bercerita. Ternyata dia menyimpan banyak luka"


Deeegh,


Hati Zahra bergetar mendengar bundanya berkata menyimpan banyak luka.


Karena sebenarnya kepulangannya kali ini juga dengan beberapa luka di hati juga di raga.


Namun melihat suasana hati keluarganya sedang tidak baik baik saja, Zahra mengurungkan niat untuk bercerita. Padahal tujuan utama dia pulang adalah untuk berbagi karena beban yang dia pikul sudah terasa begitu berat sehingga dia serasa tak mampu menopangnya.


"Zahra, bagaimana dengan rumah tangga kamu? semoga tidak ada masalah besar seperti rumah tangga kakak kamu. Ayah kamu akan menjadi orang yang paling bersalah jika rumah tangga kalian terkena masalah" tutur bu Farida.


Zahra tidak mengiyakan, juga tidak menyangkal. Dia hanya tersenyum, dan senyum itu penuh tanya bagi bu Farida.


"Zahra, kenapa dari tadi kamu tidak membuka masker yang kamu pakai?" tanya bu Farida merasa aneh putrinya tidak melepas masker meski sudah di dalam rumah.

__ADS_1


"Emm, itu bun aku lagi kena flu. Aku takut ntar nular ke Zein"


__ADS_2