Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Hasna sedikit berlari untuk keluar rumah mencari tahu tentang mobil siapa yang datang.


Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui sang pemilik mobil.


Senyumnya sejenak merekah lalu memanggilnya,


"Ozza, alhamdulillah kamu datang tepat waktu. Apa kamu bisa membantu kami membawa kak Zahra ke Rumah Sakit? dia sedang pingsan" ucap Hasna dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Baiklah, ayo segera bawa kakakmu masuk"


Ozza yang baru saja turun dari mobil, kini kembali menduduki kursi kemudi untuk kembali menancap gas ke Rumah Sakit.


Hasna lari terburu buru ke dalam rumah,


"Ayo kita bawa kak Zahra ke Rumah Sakit sekarang juga, ayo yah ayo bun kita angkat kak Zahra bareng bareng. Biar Zein di jagain sama kak Najwa" ucap Hasna mencoba mengatur keadaan.


"Iya, aku setuju. Zein di rumah saja, jangan ikut ke Rumah Sakit" rupanya Najwa sepemikiran dengan adik bungsunya.


"Mobil siapa di depan Hasna?" pak Budi sempat bertanya ketika sudah mulai mengangkat tubuh Zahra.

__ADS_1


"Mobil Ozza?"


satu jawaban dari Hasna membuat pak Budi sempat menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti yah? sekarang bukan waktu yang tepat untuk kebanyakan mikir apalagi berdebat karena yang paling penting dek Zahra dapat pertolongan" tukas Najwa yang mulai membaca isi pikiran sang ayah yang nampak keberatan menaiki mobil Ozza.


"Iya yah, bukankah tadi ayah bilang mobil siapa saja di depan agar di mintai tolong membawa kak Zahra ke Rumah Sakit?" Hasna membalikkan ucapan sang ayah.


"Sudah sudah, di saat seperti ini kalian masih bisa berdebat? kalau ayah nggak mau ikut, biar bunda dan Hasna saja yang ke Rumah Sakit" bu Farida berkata dengan nada tinggi.


Pak Budi akhirnya memilih untuk mengalah dan tidak banyak bicara sampai Zahra tiba di Rumah Sakit.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka telah tiba di tempat tujuan.


Para tim medis kemudian berbondong bondong memberi pertolongan.


Tak butuh waktu lama, tubuh Zahra pun sudah berada di ruang penanganan.


"Keluarga nyonya Zahra" panggil salah seorang perawat karena saat itu keluarga Zahra di minta untuk menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Kami sus" jawab bu Farida bersamaan dengan Hasna. Sementara pak Budi dan Ozza berdiri di belakang mereka.


"Silahkan urus registrasi karena pasien harus di rawat inap" titah sang perawat.


"Baik sus, terima kasih. Tapi bagaimana keadaan putri saya?" bu Farida tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Nanti biar Dokter sendiri yang menjelaskan nyonya, saya permisi" ucap perawat tersebut dan kembali menenggelamkan tubuhnya di ruang penanganan Zahra.


"Ayo yah kita ke ruang administrasi" ajak Hasna .


"Ayo " jawab pak Budi dan mereka segera beranjak dari tempatnya.


Namun baru beberapa langkah berjalan pak Budi berseru,


"Astaghfirullah" ujar pak Budi sambil memegang saku celana.


"Ada apa yah?" tanya Hasna.


"Dompet ayah ketinggalan Hasna, bagaimana ini? tadi ayah buru buru dan lupa kalau dompetnya ayah taruh di kamar" jawab pak Budi dengan wajah panik.

__ADS_1


"Ya Allah bagaimana ini? Hasna juga tidak membawa uang sepeser pun. Apa perlu Hasna pulang untuk mengambil dompet ayah ? biar di antar sama Ozza. Kamu mau kan Za?" Hasna mencoba memberi solusi.


"Tidak usah Hasna.Kamu tidak perlu pulang untuk mengambil dompet ayah, biar aku saja yang selesaikan biaya administrasinya"


__ADS_2