Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Berprasangka buruk


__ADS_3

Hari itu pak Budi merasa tidak punya muka setelah Ozza dan papanya berpamitan.


"Tuh kan ayah lihat sendiri, Ozza itu anak baik dan dari keluarga baik baik pula. Jadi dengan alasan apalagi bapak masih tidak menyukainya?" tukas bu Farida.


"Iya, tapi jika ayah sudah punya cukup uang pasti akan segera ayah lunasi. Ayah nggak mau anak itu semena mena mendekati Hasna karena hutang" jawab pak Budi yang masih nampak menjaga gengsi.


"Ozza tidak berpikir seperti itu yah" sahut Hasna.


"Dari mana kamu bisa membaca isi pikiran orang Hasna? Dua ratus juta itu tidak sedikit, kita harus tetap waspada, barang kali ini hanya jebakan" ujar pak Budi yang kemudian di sela oleh istrinya.


"Astaghfirullah ayah, kenapa selalu suudzon kepada nak Ozza? Mereka sudah berusaha berbuat baik dan nyata nyata menolong kita, tapi ayah malah berpikiran buruk pada mereka. Justru karena dua ratus tuja itu banyak, harusnya ayah bersyukur karena mereka tidak memberi syarat apapun untuk meminjamkannya" bu Farida geram dengan sang suami.


"Bunda ini dari awal kenapa selalu belain Ozza? sejak Hasna kenal sama anak itu , bunda sering marah marah sama ayah" pak Budi malah berbicara seperti anak remaja yang masih labil.


"Bukannya bunda memarahi, tapi mengingatkan. Ayah terlalu memandang dengan sebelah mata dan selalu berprasangka buruk, itu yang bunda nggak suka" sahut bu Farida.


"Sama saja bun" suaminya masih saja tidak mau mengalah.

__ADS_1


"Sudah bun , sudah yah. Jangan bertengkar. Jangan saling menyalahkan karena ini semua memang salah Zahra... hi..hi..hi .."


Zahra menangis karena membawa keluarganya dalam masalah.


"Maafin bunda nak, ini juga bukan semata mata salah kamu. Ini musibah, kita hadapi bersama ya nak. Bunda yakin penyebab hutang itu terjadi pasti bukan karena kamu" bunda Zahra berusaha menenangkan putrinya.


"Iya bun, hutang itu memang atas nama suami Zahra. Tapi dalam surat perjanjiannya, jika dia tidak bisa membayar jika jatuh tempo, maka di suruh mendatangi Zahra untuk membayarnya juga. Dan sudah sejak satu minggu yang lalu Zahra menghindar, entah dari mana mereka tahu Zahra ada di sini....hi_hi_hi_" Zahra kembali menangis di pelukan sang bunda.


"Sudah sayang, sudah. Jangan menangis. Hutang itu sudah terbayar, kamu sudah aman. Sekarang tinggal berpikir bagaimana mengembalikan uang milik papanya nak Ozza" lagi lagi bu Farida menjadi satu satunya orang yang paling memahami keadaan putrinya.


"Maafkan Zahra bun , nanti kalau sudah sembuh Zahra akan mencari pekerjaan dan Zahra nitip Zein pada bunda hi_hi_hi_"


"Jangan berpikir macam macam dulu nak, yang penting saat ini kamu segera sembuh"


pak Budi ikut menenangkan putrinya.


Di lain tempat.

__ADS_1


"Terima kasih ya pa, karena tadi papa bantuin om Budi bayar hutang. Ozza nggak ngira lho pa," ucap Ozza selama di perjalanan.


"Sama sama, kenapa kamu nggak ngira? emangnya bagi kamu ayah selalu buruk ya sampai nggak mau nolongin orang?" tanya pak Budi.


"Bu_bu_bukan gitu pa, tapi Ozza kagum aja karena uang itu sangat banyak sekali. Tapi , bagaimana jika om Budi belum bisa mengembalikan saat papa sedang membutuhkan uang itu? Apa papa juga akan menagih seperti debkolektor tadi?" Ozza balik bertanya.


"Kamu pikir muka papa ini sejahat itu ya Za?" Dimas merasa gemas dengan pertanyaan putranya.


"Ya maaf pa, Ozza cuma takut aja" jawab Ozza dengan mengangkat kedua alis.


Dua hari kemudian.


Zahra sudah membaik, sore itu di perbolehkan untuk pulang.


Bu Farida sudah mengemasi barang barang


dan setelah mendapat pemeriksaan terakhir sore itu dari sag Dokter, mereka segera meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Setibanya mereka di halaman rumah, ada sebuah mobil terparkir di sana. Dan sepertinya mobil itu pun tidak asing bagi mereka.


"Siapa tamu kita bun?"


__ADS_2