Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Berlaga bodoh


__ADS_3

Keluarga Hasna sedang di rundung pilu karena kejadian kejadian pahit yang bertubi tubi mendatangi.


Pak Budi yang merasa down sempat jatuh sakit, bahkan sampai di rawat di rumah sakit.


Dua masalah putrinya belum kelar, kini bu Farida di hadapkan ujian baru karena suaminya sakit.


Selama di rumah sakit bu Farida di temani kedua putrinya, kecuali Zahra. Karena Zahra harus merawat Zein di rumah.


Saat itu Zahra sedang bermain dengan Zein, terdengar ada seseorang yang datang bertamu. Saat Zahra lihat, ternyata Abdul yang ada di luar sana bersama seseorang.


Zahra panik, dia tidak membuka pintu dan segera menelpon Najwa . Berkali kaki melakukan panggilan tapi tidak ada jawaban, Zahra ganti menghubungi Hasna.


Panggilan juga tidak ada jawaban karena rupanya ponsel mereka di silent karena sedang berada di ruang Rontgen menemani pak Budi. Demi menjaga kenyamanan mereka atur ponsel mereka dalam mode silent.


Ketika di ujung kecemasan, Zahra tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat takut karena Abdul pasti datang untuk mengambil Zein.


Bel tak berhenti berbunyi, karena Abdul tahu jika Zahra ada di dalam. Dia juga mengetuk pintu dengan memanggil manggil nama Zahra berulang kali.


Namun tiba tiba terdengar suara mobil datang.

__ADS_1


"Ozza" kata Zahra yang mengintip dari celah jendela dapur.


Ozza melihat ada yang aneh pada kedua tamu yang berdiri di depan rumah Hasna.


Dia pun berinisiatif untuk mencari tau siapa mereka dan mau apa?


"Assalamualaikum , mau cari siapa mas dan bapak?" tanya Ozza kepada Abdul dan seorang di sampingnya yang sudah seumuran pak Budi.


"Waalaikumsalam, saya mencari istriku Zahra, kamu siapa?" sahut Abdul.


"Oh, suaminya kak Zahra? aku calon suaminya Hasna" dengan percaya diri Ozza memperkenalkan diri sebagai calon suami Hasna.


"Oh ya? apa benar seperti itu kak?" tanya Ozza berlaga bodoh.


"Iya, aku buktinya. Dulu pak Budi begitu menginginkan aku menikahi putrinya, tapi saat kami ada masalah , dia hanya bisa menyalahkan aku saja. Bahkan melarangku membawa putraku!" Abdul berkata dengan nada marah yang terpendam.


"Tapi kita beda kak, karena pak Budi nggak begitu suka sama aku. Tapi bunda dan kakak kakaknya merestui kami" jawab Ozza terlihat sangat serius.


"Pasti ilmu agamamu rendah, jadi pak Budi nggak mau menerimamu" sahut Abdul.

__ADS_1


"Iya benar, dari mana kakak tahu?" tanya Ozza.


"Karena memang pak Budi selalu mencari mantu yang tinggi ilmu agamanya seperti aku dan suaminya kak Najwa" dengan entengnya Abdul membanggakan diri.


"Tapi ternyata tidak jaminan juga ya kak, orang yang tinggi ilmu agama nya bisa menjadi pemimpin keluarga yang baik?" tanya Ozza asal.


"Itu juga tergantung istrinya, kalau susah di atur ya berantakan" jawab Abdul asal juga.


"Berarti kak Zahra itu susah di atur ya kak?" tanya Ozza kemudian. Ternyata Ozza memang sengaja terus bertanya agar mengulur waktu. Karena Ozza tahu kak Zahra pasti tidak mau menemui kedua pria itu.


"Ah sudahlah, ngapain juga aku meladeni pertanyaan kamu. Karena bukan itu tujuanku datan kemari" rupanya Abdul menyadari bahwa dirinya hanya di permainkan oleh pertanyaan Ozza.


"Karena aku akan menjadi calon adik ipar kakak " Ozza belum juga berhenti memberi pertanyaan.


"Tidak akan, karena setelah ini aku akan menceraikan Zahra!" jawab Abdul.


Dan mendadak ada seseorang yang menyahuti ucapan Abdul.


"Ceraikan saja sekarang agar Zahra mendapat kehidupan yang lebih baik!" semua menoleh ke asal suara .

__ADS_1


__ADS_2