
"Oh begitu, ya sudah kamu segera minum obat gih biar nggak sampai parah" ujar bu Farida.
"Iya bun" Zahra bernafas lega karena masalahnya tertutupi.
Dia tidak ingin menambah beban keluarga dengan menambahkan masalah rumah tangganya.
Malam hari di kamar tamu, di sana tempat Zahra dan Zein beristirahat.
Hasna mengetuk pintu ingin masuk menemui kakaknya, dan ketika melihat pintu sedikit terbuka, Hasna segera masuk karena dia pikir penghuni kamar juga sama sama wanita.
Dan betapa terkejutnya Hasna ketika dia lihat sang kakak yang sedang duduk di depan cermin dengan luka lebam di sekitar bibirnya.
"Astaghfirullah" Hasna tidak bisa menahan suara.
Merasa ada yang melihat lukanya, Zahra segera meraih masker dan segera mengenakannya.
"Kakak, bibir kakak kenapa?" tanya Hasna dengan mata mulai berkaca.
__ADS_1
"Husssssst, jangan keras keras" Zahra segera mengunci pintu dan mengajak sang adik masuk ke kamar.
"Kakak, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hasna mendesak.
Tak bisa menjawab pertanyaan sang adik, Zahra malah menangis.
"Kakak, maafin Hasna kak. Hasna tidak bermaksud membuat kakak bersedih. Hasna hanya terkejut dengan apa yang Hasna lihat"
gadis itu merasa serba salah.
Zahra memegang dadanya dan perlahan menarik nafas dalam agar lebih tenang.
"Iya kak" jawab adiknya.
"Kakak akan jujur sama kamu, tapi janji jangan kasih tau yang lain. Kakak tidak mau menambah beban ayah dan bunda setelah menerima kabar permasalahan rumah tangga kak Najwa. Jadi kamu jangan bilang siapa siapa ya, demi kakak" pinta Zahra.
Hasna mengangguk dengan pelan, meski sebenarnya dia paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sang bunda. Tapi kali ini dia berusaha untuk menjadi orang yang terpercaya menjaga sebuah rahasia sang kakak.
__ADS_1
" Baik kak, Hasna akan diam. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kak" tukas Hasna.
Perlahan Zahra mulai membuka suara. Dengan sesekali menyeka air mata, Zahra menceritakan kejadian demi kejadian kekerasan rumah tangga yang di lakukan suaminya Abdul pada dirinya.
Hasna kembali merasa pilu dengan keadaan yang di alami kakaknya Zahra, namun saat ini dia hanya cukup menjadi pendengar setia tampa bisa berbuat apa apa. Tapi setidaknya dia ingin mengurangi beban di hati kakaknya dengan berbagi cerita.
"Sejak kapan hal itu terjadi kak? kenapa kakak diam saja?" tanya Hasna kemudian.
"Sejak Zein berusia tiga bulan. Kakak tidak bisa berbuat apa apa, karena waktu itu mas Abdul selalu mengancam untuk menceraikan kakak dan meninggalkan kami begitu saja. Kakak tidak ada pilihan selain diam, karena kakak tidak ingin membebani ayah dan bunda ketika Zein masih bayi dan kakak belum bisa bekerja karena Zein masih menyusu" Zahra sejenak menarik nafas untuk mengatur perasaannya.
Beberapa detik kemudian dia melanjutkan ceritanya,
"Sekarang Zein sudah lebih besar. Dia sudah bisa mengkonsumsi makanan dan minuman lain selain asi. Niat kakak, kakak pulang kali ini ingin jujur pada ayah bunda dan minta izin untuk menitipkan Zein di sini karena kakak akan mencari kerja, tapi sayang keadaanya tidak seperti yang kakak duga. Kakak nggak mungkin menambahkan beban pada mereka" Zahra kembali meneteskan air mata.
" Sabar kak, kakak pasti kuat. Memangnya kakak sudah berniat untuk bercerai dengan mas Abdul?" tanya Hasna .
"Iya, kakak sudah membulatkan tekad dan menerima jika mas Abdul menceraikan kakak. Dan meski kakak tidak di ceraikan, kakak akan menggugat cerai dan melaporkannya ke polisi jika dia tetap bertindak kasar"
__ADS_1
Satu pernyataan pahit yang di dengar Hasna tentang sebuah rumah tangga, membuat dia semakin takut dan akan bersikeras menolak perjodohannya dengan Ali.