Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Perdebatan


__ADS_3

Suara Najwa tiba dengan lantang bergema.


"Baiklah, kami terima . Tapi ingat, kalian akan menyesal karena telah menolak kami. Ayo dek kita pulang, buat apa kita bicara dengan orang yang tidak menghargai kita" ucap Husein pada Ali.


"Tapi kak, Ali mau menunggu sampai Hasna menerima ku" tiba tiba Ali ikut bersuara.


"Ali, apa yang kamu katakan? Jangan merendahkan diri di depan orang yang menolak kamu. Masih banyak wanita yang bisa menerima lamaran kamu dengan lapang dada" Husein kurang setuju dengan keinginan adiknya.


" Iya, lebih baik kamu mencoba taaruf dengan wanita lain saja" dengan enteng Najwa ikut menyahuti.


"Ali ,kamu dengar . Berulang kali kamu sudah di tolak" Husein lagi lagi tidak terima dengan ucapan Najwa.


"Najwa, sudah nak. Jangan berdebat terus. Nggak enak sama tamu kita" pak Budi berusaha menasehati putri sulungnya yang dari tadi terlihat tidak bisa menahan emosi.


"Maaf yah, Najwa tidak bisa menahan diri saat mereka berpikir macam macam tentang Hasna" suara Najwa sedikit merendah.


"Ayo Ali kita pulang" Husein beranjak dari duduknya dengan menarik tangan adiknya.


"Tapi kak," Ali masih enggan.


"Ali, kakak tidak tahu jalan pikiran kamu. Terserah kamu saja. Kakak mau pulang saja!" Husein berlalu tanpa memperdulikan sang adik.


"Kakak, tunggu dulu" Ali berusaha menahan kakaknya.

__ADS_1


"Kak Ali, " suara Hasna tiba tiba muncul mengagetkan semua. Bahkan juga menghentikan langkah Husein.


Ali sedikit berbunga karena Hasna memanggilnya. Dengan seksama dia mendengarkan apa yang akan di ucapkan Hasna.


"Kak, lebih baik kakak ikut pulang bersama kak Husein" kata Hasna ternyata membuat Ali kecewa.


Pria itu menunduk, lalu berkata


"Baiklah aku akan pulang, tapi aku mau dengar dulu alasan dari bibirmu sendiri" jawab Ali.


"Aku, aku tidak bisa menerima perjodohan ini" tukas Hasna dengan kepala menunduk.


"Tapi kenapa?" tanya Ali kemudian


"Karena aku sudah punya pilihan"


satu kalimat yang terucap dari bibir Hasna semakin mematung kan seisi ruangan.


"Hasna , apa maksud kamu?" tanya pak Budi.


Hasna diam dan menunduk menerima pertanyaan sang ayah yang nampak penuh amarah.


"Biarkan saja yah, ayah tidak perlu memarahi Hasna. Biar dia memilih jalan masa depannya sendiri" Najwa ikut menyela.

__ADS_1


"Ali, kamu sudah dengar kan? mau menunggu apa lagi? ayo kita pulang!" bentak Husein kepada adiknya yang akhirnya menuruti ajakannya.


Mereka berdua akhirnya pulang tanpa lupa mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" pak Budi serasa kehilangan tenaga untuk bersuara.


"Hasna, siapa pria yang kamu maksud tadi. Coba perkenalkan kepada kami, biar lebih saling mengenal latar belakang kalian masing masing dan biar tidak ada penyesalan di akhir nanti" ucap Najwa mendukung adiknya.


"Iya nak, katakan saja nggak usah takut" timpal bu Farida yang sudah mengerti siapa yang Hasna maksud.


Bukan hanya bunda dan kakak pertamanya, ternyata Zahra juga ikut memberi dukungan.


"Iya dek, kamu berhak bersuara. Karena suara yang terucap di bibir itu masih ada kesempatan untuk di dengar dari pada suara yang hanya terpendam dalam hati"


Seketika hati pak Budi seperti teriris mendengar pernyataan Zahra yang menggambarkan siksa batin yang dia rasakan karena perjodohan yang beliau atur.


"Ayo dek, katakan" Najwa kembali bersuara.


Hasna melirik ke arah sang ayah yang masih tertunduk lesu. Dengan menarik nafas dalam dalam dia berusaha mengatakan sebuah kejujuran dari suara hatinya.


"Pria itu adalah ..."


.

__ADS_1


__ADS_2