
Ozza menangkis dua tangan yang hendak memeluknya.
"Sayang ..maafkan mama, mungkin memang selama ini mama salah sama kamu...kurang perhatian sama kamu juga..." Silvia menangis menyesali sikapnya kepada Ozza.
"Iya, memang semua ini salah kamu...!!" tiba tiba papa Ozza ikut angkat bicara dan melemparkan kesalahan itu kepada Silvia.
"Semua? bukan cuma salah ku, tapi juga salah kamu juga...kamu terlalu sibuk dengan teman temanmu, pekerjaan mu sampai kamu tidak ada waktu untuk kami...!!" Silvia tak mau kalah dengan suaminya.
"Aku bekerja untuk kalian, dan harusnya kamu yang punya tanggung jawab ngurus rumah, ngurus anak..dasar istri nggak berguna...!!" Dimas semakin menjadi tanpa berpikir dimana dia bicara.
Hasna sempat menepi untuk menjaga jarak dari dua insan yang bertengkar tepat di sebelah ranjang Ozza.
"Bun.." lirih Hasna kepada bundanya.
Bu Farida hanya mengisyaratkan untuk diam kepada putrinya, begitu pula pak Budi.
"Sudah cukup... jika ingin bertengkar jangan di sini, lebih baik kalian pulang saja..." teriak Ozza menghentikan pertengkaran kedua orang tuanya.
"Ozza benar Tuan..Nyonya... maaf bukannya lancang dan ingin ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi saat ini Ozza butuh perhatian dan kasih sayang" ayah Hasna tiba tiba menyahuti ucapan Ozza.
"Iya om...tante...Ozza sangat sayang dan rindu pada kasih sayang kalian.." Hasna pun juga ikut menimpali dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Sejenak orang tua Ozza diam merenungi kalimat yang baru saja dia dengar dari ayah Hasna.
Mama Ozza perlahan duduk di tepian ranjang tempat putranya berbaring.
"Mama minta maaf sayang..." ucap Silvia sambil menggenggam tangan Ozza.
Namun playboy itu memalingkan wajah.
"Papa juga minta maaf Ozza..." suami Silvia juga mendekat ke sisi putranya.
Namun hati Ozza masih keras dan tak mengindahkan permintaan maaf mereka.
Merasa di butuhkan, Hasna memberanikan diri untuk mendekat.
Ozza masih diam, begitu juga dengan kedua orang tuanya.
"Ozza ... berbaikanlah dengan orang tuamu, jika kamu masih ingin kita tetap bersahabat .. jika tidak, baiklah aku akan pulang dan kita tidak saling kenal lagi..."
Ucapan Hasna kali itu mengingatkan Ozza pada taruhan lima jutanya.
"Jangan ... jangan pulang, aku mau kita tetap bersahabat..." jawab Ozza dengan cepat.
__ADS_1
Hasna tersenyum mendengar jawaban Ozza. Kembali dia berkata kepada pria tersebut,
"Baiklah, aku tetap di sini...tapi tataplah wajah papa dan mamamu, mereka sangat menyayangimu..." ucap Hasna sambil mengelus lengan Ozza.
Dengan berat hati Ozza menuruti perintah Hasna, dan hal itu tentu saja mengejutkan papa dan mama Ozza.
"Siapa gadis ini? kenapa dia mampu mengendalikan sikap Ozza yang suka membantah dan susah di atur?" tanya Dimas dalam hati.
Hal yang sama juga muncul di hati Silvia.
"Jika bukan karena Hasna, aku tidak mau melakukannya..." ujar Ozza ketika menatap kedua orang tuanya.
Seisi ruangan itu seakan terhipnotis oleh ucapan Hasna yang membuat Ozza bertekuk lutut.
Hari sudah sangat larut, Hasna dan orang tuanya berpamitan kepada Silvia dan Dimas untuk pulang.
Sementara Ozza sudah terlelap karena pengaruh obat yang baru saja dia minum.
"Tunggu.. " panggil Dimas ketika Hasna hendak melangkah keluar.
Hasna menoleh dan menjawab,
__ADS_1
"Iya om...ada apa?"