Bukan Wanita Taruhan

Bukan Wanita Taruhan
Tamu


__ADS_3

Hari itu rumah Hasna kedatangan tamu di jam sembilan malam.


Ting.. tung... ting.. tung...ting..tung...


Bel berbunyi bertubi membuat penghuni rumah bertanya siapa tamunya di luar sana.


"Siapa yah yang tekan bel malam malam begini?" tanya Hasna keluar dari kamar karena mendengar suara bel.


"Ayah juga nggak tahu" jawab pak Budi yang sedang menonton televisi.


"Ayo kita lihat bareng bareng aja" sahut bu Farida.


Setelah mengintip dari balik tirai, nampak sosok yang tidak asing bagi mereka


Segera bu Farida membukakan pintu.


Ceklek,


"Bunda.." seseorang langsung memeluk bu Farida dengan di sertai isak tangis.


"Najwa, ada apa nak? kamu ke sini sama siapa? kenapa malam malam datang nggak bilang bilang? dan kenapa kamu menangis?" tanya bu Farida nampak begitu panik.

__ADS_1


Najwa adalah kakak Hasna yang nomor satu. Dia tinggal di luar kota bersama suami yang sudah menikahinya selama lima tahun.


"Sudah , sudah jangan di tanya macam macam bun. Kit ajak dulu putri kita masuk" ajak pak Budi.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


"Najwa, apa kamu sudah makan? jika belum makanlah dulu. Hasna, ambilkan minum untuk kakakmu" ucap bu Farida.


"Najwa nggak lapar bun" jawabnya dengan suara serak.


Pak Budi dan bu Farida mencium masalah yang serius pada rumah tangga putri sulungnya.


"Saiful yah, Saiful hi..hi ..hi.." Najwa memotong kalimatnya karena tak kuasa menahan tangis.


"Saiful kenapa nak? " bu Farida semakin penasaran.


"Saiful menikah lagi bun hari ini" tangis Najwa semakin pecah di pelukan sang bunda.


"Astaghfirullah, Najwa, kuatkan hatimu nak" bu Farida pun tak kuasa menahan air mata.


Sementara sang ayah hanya bisa menarik nafas dalam dalam dan melepaskannya pelan demi menjaga emosi yang bersarang di dada.

__ADS_1


Rumah tangga Najwa yang di kira baik baik saja, ternyata menyimpan sebongkah luka di hati putrinya.


"Bagaimana itu bisa terjadi Najwa, lalu bagaimana dengan Faiz putramu? dan kamu ke sini dengan siapa?" tanya pak Budi dengan berusaha menguatkan dada.


"Sebenarnya Najwa sudah mencium perselingkuhan itu sejak dua tahun lalu, tapi aku nggak menyangka kalau Saiful akan bertindak sejauh ini. Bahkan wanita yang dia nikahi hari ini sudah mengandung benihnya,hi..hi...hi..." Najwa kembali menangis.


Hasna yang belum mengerti lika liku rumah tangga juga ikut merasa pilu.


Dada pak Budi semakin sesak mengingat bahwa Saiful adalah laki laki yang dia pilih untuk putrinya.


"Najwa tidak di beri izin membawa Faiz, karena keluarga Saiful berharap aku mau di poligami. Tapi Najwa nggak sanggup bun, Najwa nggak sanggup yah. Najwa kesini melarikan diri dan naik kendaraan umum. Najwa juga di larang membawa apapun karena memang sebenarnya mereka melarang Najwa pergi" kakak Hasna itu kembali menangis tersedu sedu.


"Ajak Najwa istirahat bun, kasihan dia pasti capek habis perjalanan jauh" ujar pak Budi kepada istrinya.


Bu Farida pun kemudian mengajak Najwa beristirahat di kamarnya.


Kini tinggal ada Hasna dan ayahnya di ruang tamu.


"Yah, maafkan Hasna. Dengan melihat kejadian yang di alami oleh kak Najwa, Hasna takut untuk menikah di usia muda , apalagi dengan pria yang tidak Hasna kenal. Hasna takut jika akan mengalami hal yang sama seperti kak Najwa" Hasna memberanikan diri menyampaikan isi hatinya.


Pak Budi yang biasanya tidak suka melihat putrinya membantah, kini hanya bisa mematung mendengar isi hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2