
Merasa Akifa sudah terlalu lama didalam kamar mandi, lantas Dylan pun hendak mengetuk pintu. Namun belum sempat tangannya menyentuh pintu, Akifa sudah keluar dengan wajah yang basah
Akifa tersentak saat mendapati Dylan sudah ada di ambang pintu ”Ma.. mas..”
“Kenapa lama sekali?”
“Ma.. maaf..” Menunduk sembari meremaas-remaas ujung baju. ‘Aku sedang menyiapkan hatiku mas!!!’
Tanpa berkata apa-apa, Dylan menarik tangan Akifa membawanya ke atas ranjang. Akifa bergeming di atas ranjang. Ia gugup, jantung nya tak lagi bisa di kondisikan
Dylan menunduk mensejajarkan tingginya. Ia mendekatkan wajah ke wajah Akifa “Aku tidak ingin bernego lagi. Sesuai kesepakatan, aku akan mengambil hak ku kapan pun aku mau.” Ucapnya dengan wajah datar
Akifa memalingkan wajah, ia terlalu gugup untuk sekedar menatap wajah sang suami. Lantas, Akifa mengangguk tipis “Terserah mu mas.” Jawabnya. Ia sudah meyakinkan hati dan dirinya bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.
Semakin cepat maka semakin baik!
Dylan menarik dagu Akifa menoleh melihatnya. Pandangan mata mereka bertemu, perlahan tapi pasti Dylan mengecup kening sang istri setelah membaca doa.
Seolah tersihir dengan ucapan doa Dylan, Akifa memejamkan mata meresapi benda kenyal yang tengah tertempel di dahinya.
Kecupan Dylan turun ke kedua mata sang istri, semakin turun ke pucuk hidung dan kedua pipi Akifa. Terakhir, Dylan mencium bibir ranum sang istri. Melumaat nya sebentar lalu perlahan melepaskan nya.
Tatapan kedua orang tersebut terkunci, terlihat jelas wajah Dylan yang sangat mendambakan hal ini. Berbeda dengan Akifa yang nampak tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Tanpa berkata apa-apa, Dylan mendorong perlahan tubuh sang istri terlentang di atas ranjang.
Dan malam itu, malam yang bersejarah untuk kedua pasutri tersebut. Hal yang benar-benar tak mereka duga akhirnya terjadi.
Suara lenguhan dan desahaan serta teriakan Akifa dan Dylan bersahut-sahutan. Permainan ditandai dengan keluar nya darah dari dalam tubuh Akifa, memperlihatkan kebanggan yang selama ini ia simpan-simpan akhirnya berhasil direbut suaminya sendiri.
Tak ada penyesalan, biarkan semuanya seperti ini dahulu. Ia ingin meresapi semuanya, melihat bagaimana sang Suami yang selalu nampak memperlihatkan wajah dingin tengah tersenyum hangat kepadanya. Tatapan mata yang terlihat datar dan dingin itu kini terlihat sangat mendambakan dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Perlakuan yang lembut dari Dylan membuat Akifa terlena. Ia tak pernah menyangka akan merasakan hal senikmat ini.
Penegukan madu selesai ditandai dengan lenguhann panjang keduanya. Disertai dengan calon bibit-bibit dari Dylan yang masuk kedalam diri Akifa.
Langit berhias bintang malam menjadi saksi bisu pertanda awal baru dari hubungan keduanya.
.
.
Akifa mengerjapkan mata. Penglihatan nya terlihat buram sampai akhirnya ia bisa melihat dengan jelas.
Ia tersentak, membekap mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. “Ka.. kami benar-benar melakukannya.” Lirihnya memperhatikan wajah tampan sang suami yang sedang tertidur pulas di sebelahnya sembari memeluk pinggangnya
Menampar-nampar pelan pipi “Auchh i.. ini bukan mimpi.” Kembali melihat Dylan
menghembuskan nafas panjang “Biarlah semuanya sudah terjadi. Lagipula mas Dylan itu suamiku sendiri.”
__ADS_1
Ia kembali menatap lekat wajah Suaminya ‘Tampan. Semalam juga saat dia tersenyum semakin tampan. Semalam... Semalam..’
“Semalam.. semal.. ” Blushhh
Semburat merah memenuhi wajahnya. Ia menutup muka menggunakan kedua tangan nya “Ahhkkk kami benar-benar melakukan nya.” Pekik Akifa tertahan
Senang? Menyesal? Entahlah mungkin yang pertama. Ia tidak menyesal, malah ia senang? Tapi bagaimana bisa di senang?
“Ingat Ifa! Mas Dylan itu juga korban keegoisan mbak Indah.” Menghembuskan nafas kasar
Ia kembali menatap lekat wajah sang suami. Tanpa sadar tangannya mulai naik perlahan menyentuh rahang tegas Dylan. Tak ia sadari, senyum simpul terlampir di wajahnya
“Tampan..”
“Aku memang tampan.”
“Ah! Ma.. mas Dylan. Ka.. kamu udah bangun.” Akifa tersentak. Lantas, ia mencoba menarik tangannya kembali namum belum sempat ia bergerak, Dylan sudah mengunci tangannya yang ada di pipi
Akifa kembali tersentak “M.. mas..”
Dengan senyuman, Dylan menjawab “Apa, hmm?” suaranya terdengar sangat lembut membuat hati Akifa berdetak tak karuan. Apalagi melihat senyuman Dylan semakin membuat jantung Akifa tak terkendali
Akifa hanya diam, ia terpana melihat wajah sang suami yang begitu tampan saat tersenyum
“Ada apa, hmm? Kenapa? Ada yang sakit?” Tanya Dylan beruntun
“A.. ah.. enggak, ta.. tapi bisa lepasin tangan ku gak?”
Kening Akifa menyerngit saat ditanya “Menyesal karena?”
“Tidak rupanya.” Celetuk Dylan kembali tersenyum
“Apa sih mas? Menyesal karena apa?” masih tidak mengerti akan pembicaraan Dylan
Wajah Dylan yang tadi tersenyum kembali datar “Kau menyesal memberikan kesucian mu?” Suaranya juga kembali datar. Ia lantas melepas tangan sang istri yang sedari tadi ia genggam
Sontak melihat perubahan Dylan, membuat Akifa syok. Ia sangat suka melihat wajah Suaminya yang tersenyum dan juga suara lembut Dylan yang belum pernah ia dengar sekalipun.
Namun, pertanyaan Dylan bukannya lebih penting?
Akifa sontak menggeleng polos “Enggak, aku gak nyesal. Malah, aku sedikit senang. Setidaknya hal pertama untuk ku, ku berikan pada suamiku sendiri.” Jawabnya malu-malu
Senyum Dylan kembali mengembang. Lantas ia memeluk erat pinggang sang istri “Begitu yah.”
Akifa pun ikut tersenyum simpul melihat senyuman Dylan. Tanpa ia sadari, tangannya kembali bergerak menyentuh rahang tegas sang suami “Kamu lebih tampan kalau tersenyum seperti ini, mas.” Lirihnya tanpa sadar
“Benarkah?”
“E.. eh.. i.. itu.” Ia tak menyangka mengatakan apa yang ia pikirkan
__ADS_1
Namun, jawaban Dylan sungguh tak ia sangka “Baiklah, aku akan selalu tersenyum seperti ini.”
Akifa menatap wajah Suaminya lekat “Benarkah? Kamu gak bohong ‘kan mas?” Matanya nampak berbinar. Entahlah, Akifa sendiri tidak mengerti mengapa ia sangat senang akan hal ini.
Dylan semakin mengulas senyum lebar “Untuk apa aku berbohong. Apapun yang kamu suka, sebisa mungkin akana aku lakukan.”
Wajah Akifa seketika memerah mendengarnya. Ia tak menyangka akan mendapatkan gombalan manis dari seorang Dylan yang selama ini ia anggap sangat dingin dan tak tersentuh
“Kamu bisa ajah mas.” Memukul pelan dada Dylan
Dylan terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya. Ia membenamkan wajah sang istri di dada bidangnya
.........
Dikarenakan Akifa yang tidak bisa berjalan dengan lamcar, alhasil gadis yang beberapa jam lalu sudah menjadi wanita tersebut pun memilih untuk tidak pergi kuliah. Dan rupanya Dylan pun ikut-ikutan tidak berangkat bekerja.
Didalam kamar, Akifa sedang merenungkan apa yang terjadi semalam. Didalam hati, ada rasa sesal. Ia seperti mengkhianati kakaknya “Maafkan aku mbak.” Lirihnya
Ia melihat kontak Indah yang ada di ponsel. Sebenarnya sudah dari tadi ia ingin menghubungi sang kakak, namun ia belum berani melakukan nya apalagi memberi tahu yang sebenarnya.
Bagaimana jika Indah kesal dan mafah padanya? Atau bagaimana jika Indah malah membencinya? Pikiran-pikiran buruk mulai menghantam sanubarinya. Ia takut, sangat takut.
Apakah yang dilakukan nya semalam salah?
Sangking larutnya dalam lamunan, Akifa sampai tidak menyadari saat Dylan masik kedalaman kamar dan bahkan sekarang sudah duduk di sampingnya.
‘Kenapa dengan nya? Apa sekarang dia baru menyesal dengan apa yang sudah terjadi semalam?’ Batin Dylan. Ia sedikit menyesal karena sudah membuat istrinya termenung sampai tidak menyadari keberadaannya sendiri.
“Fa.. Ifa..” Dylan mulai membuka suara. Namun yang di panggil tetap bergeming
“Fa.. Ifa.. Akifa..” Sedikit meninggikan suara disertai dengan guncangan di lengan Akifa
Akifa tersentak “Ah.. i.. iya? Eh! Mas Dylan! Sejak kapan mas Dylan di sini?”
“Apa yang kau pikirkan sampai tidak menyadari keberadaan ku? Sudah dari tadi aku memanggil mu.”
“Ah.. maaf mas, bukan apa-apa kok. Oh yah, ada apa mas, tadi panggil?”
“Aku yang harusnya bertanya. Ada apa, hmm? Apa sekarang kau menyesali keputusan mu tadi malam?” Menekankan perkataan
Akifa kembali tersentak. Buru-buru ia menjawab “Ti.. tidak mas, aku gak menyesal kok. aku cuman... Merasa mengkhianati mbak Indah dengan apa yang sudah kita lakukan tadi malam,” Menunduk dalam sembari meremaas-remaas tangannya
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian like komen and vote ya 🙃
__ADS_1
...Penjet tombol Subscribe nya...