Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Terlalu Santai


__ADS_3

Satu Minggu kemudian..


Menurut dokter yang bertanggung jawab akan kandungan Akifa saat dia tinggal di kota mertuanya, kelahiran cucu pertama keluarga Sam akan lahir satu Minggu lagi


Sejak bangun dari tidur nya Akifa sudah merasakan kontraksi di rahim dan kontraksi nya sangat berbeda dengan kontraksi palsu yang selama ini ia alami.


“Mas, kok tiba-tiba perut ku agak mules yah. Padahal tadi udah ke kamar mandi tapi gak ada yang keluar.” Ucap Akifa yang baru saja keluar dari kamar mandi


Dylan langsung beranjak dari tidurnya “Apa jangan-jangan kamu sudah mau lahiran sayang?” Tanyanya dengan wajah panik sambil mengelus perut sang istri


“Kan masih ada seminggu lagi mas,” Rasa sakitnya sedikit berkurang saat tangan Dylan mengelus perut


“Kita langsung ke rumah sakit saja ya? Ada banyak kasus ibu hamil yang melahirkan lebih cepat dari perkiraan.” Ia sudah akan bersiap-siap ingin menggendong istrinya namun tangan Akifa menahan


“Tunggu dulu mas, aku mules.” Belum sempat Dylan merespon, Akifa sudah masuk ke kamar mandi. Bunyi pintu kamar mandi di kunci terdengar dari dalam


Tok.. tok.. tok..


“Sayang, buka pintunya.. jangan dikunci.” Ia takut terjadi sesuatu kepada Akifa didalam kamar mandi dengan pintu kamar mandi yang terkunci


Tidak ada sahutan dari dalam semakin membuat jantung Dylan berdetak tegang. “Please.. buka pintunya sayang, oke mas tidak akan membawa mu ke rumah sakit. Tapi tolong buka pintunya. Ifa.. sayang..”


Terdengar decakan dari dalam “Berisik mas! Aku lagi fokus buat keluarin harta karun ku, jangan ganggu uhhh..” Suara tertahan kesal terdengar dari dalam


Dylan menghembuskan nafas lega karena suara istrinya terdengar baik-baik saja.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Dylan yang memang masih ada didepan pintu kamar mandi “Bagaimana? Sudah?”


Akifa hanya diam membuat Dylan kembali bertanya dengan nada khawatir. Dylan memegang kedua pundak istrinya “Kenapa sayang? Ada yang sakit?”


“A.. air ketuban ku pecah mas.” Menunjuk ke bawah dengan wajah yang syok


Seketika Dylan panik “Ka.. kamu akan melahirkan sayang?” Suaranya tercekat, ia tak tau harus melakukan apa karena ini pengalaman pertama baginya


Refleks Akifa mengangguk “Kayanya mas.”


“Ba.. bagaimana ini? Rumah sakit.. iya rumah sakit, ayo kita ke rumah sakit.” Ujar Dylan panik, ia langsung menggendong istrinya dan keluar dari dalam kamar


“Kerudung ku mas..”


Dylan kembali kedalam lalu memakaikan istrinya hijab setelah itu ia kembali menggendong sang istri keluar kamar


“Pelan-pelan mas, kalau kita jatuh gak lucu loh.” Entah mengapa yang akan melahirkan malah terlihat tenang-tenang saja.


Dylan yang menggendong istrinya dengan langkah cepat sontak menjadi pusat perhatian. Apalagi waktu masih pagi, semua orang masih berkumpul pada pagi hari ini.


“Loh Lan, Ifanya kenapa?” Tanya Dian yang baru saja dari dapur


Dylan ingin menjelaskan namun kata-katanya tak dapat keluar sangking panik, akhirnya Akifa pun buka suara “Kayanya bentar lagi Ifa mau lahiran bu.” Jawab Akifa santai walaupun terkadang ia meringis Beberapa kali


“Apa? Ya ampun, cepat bawa ke rumah sakit Lan. Aduh perlengkapan bayi nya udah kamu bawa?”


“Be.. belum bu, supir sudah siapkan?” Tanya Dylan yang akhirnya bisa sedikit lebih tenang karena istrinya juga tidak terlalu panik

__ADS_1


“Tadi sudah di panaskan, cepat bawa ke rumah sakit. Nanti ibu nyusul bawa perlengkapan bayinya.” Sebelum menyiapkan perlengkapan calon cucunya, Dian menyempatkan diri untuk mengelus perut serta kepala menantunya


Seketika mansion jadi heboh karena berita mengejutkan itu. Semuanya mempersiapkan mansion dan beberapa perlengkapan bayi di mansion untuk menyambut kelahiran cucu pertama dari keluarga Sam.


Akifa segera dibawa ke rumah sakit. Semua perlengkapan kehamilan Akifa pun yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari juga sudah dibawa ke rumah sakit. Seluruh keluarga datang ke rumah sakit.


Di rumah sakit


“Masih pembukaan kedua yah pak, bu. Masih ada beberapa pembukaan lagi.” Ucap dokter Melati, seorang dokter wanita paruh baya yang sudah berpengalaman dalam bidangnya


“Jadi masih harus menunggu dok?” Tanya Dylan. Ia sedari tadi menggenggam tangan istrinya yang nampak duduk dengan tenang


“Iya pak.” Lalu beralih ke Akifa yang terlihat santai namun kadang meringis


“Lebih baik, ibuk Akifa nya dibawa jalan-jalan saja dulu. Untuk mempercepat pembukaan.”


“Iya dok, saya juga berniat seperti itu. Tapi, saya lapar dok. Apa saya bisa makan dulu yah?” Memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi, ia jadi salah tingkah sendiri karena ketahuan kelaparan.


Mau bagaimana lagi, ia belum makan apa-apa dan langsung dibawa ke rumah sakit


“Astagfirullah.. maafin mas sayang, mas lupa sangking paniknya.” Dylan jadi merasa bersalah, dengan cepat ia menghubungi anak buahnya untuk membawakan makanan


“Iya sebaiknya bu Akifa makan terlebih dahulu, untuk mengisi tenaga saat mengejan nanti."m” Dokter Melati pun menyetujui.


Setelah itu Dokter Melati keluar dari ruangan tersebut untuk menunggu pembukaan Akifa sempurna dan sudah siap untuk melahirkan.


Dylan duduk di pinggir ranjang, sambil memegang tangan sang istri sesekali Dylan mengelus perut Akifa “Apa sakit sayang?” Tanyanya sudah entah yang keberapa


Akifa mencoba untuk tak panik walaupun kadang kala ia merasakan rasa sakit di perutnya. Satu yang pernah Akifa baca tentang proses persalinan, yaitu ada banyak kasus ibu hamil yang mengalami pendarahan saat akan melahirkan karena stres sata akan melahirkan.


Akifa tak ingin terjadi hal buruk untuk nya dan juga untuk anaknya, karena itu ia mencoba tak panik dan tetap tenang. Namun ketenangan nya itu malah membuat Akifa lapar


“Mas makanannya masih lama?” Tanya Akifa


“Tungggu sebentar yah.” Mengelus kepala istrinya, sesekali ia mengecup pucuk kepala Sang istri


Akifa hanya mengangguk “Auchh..” Memegang perut yang kembali terasa sakit


Dylan kembali panik “Ada apa sayang?! Sakit lagi?” Akifa mengangguk pelan, lantas tangan besar Dylan mengusap perut istrinya sembari mendekatkan wajah


“Sayang.. jagoan papa, tenang yah sayang. Jangan biarkan mama berjuang sendiri. Bantu mama juga, kami semua menyayangi mu.” Mengecup perut istrinya


Akifa tersenyum haru, rasa sakit nya perlahan berkurang walaupun tak benar-benar menghilang


“Udah gak terlalu sakit mas.”


Dylan tersenyum “Jagoan papa pintar.” Kembali mengecup perut istrinya


Tok.. tok.. tok..


Ceklek..


Ibu Dian, ayah Ilyas, Ilmy, dan Delon muncul dari balik pintu. Mereka Langsung masuk buru-buru kedalam ruangan

__ADS_1


“Assalamu'alaikum..” Salam mereka


“Wa'alaikum salam.” Jawab Dylan dan juga Akifa


“Ini nak, ibu bawa perlengketan bayinya. Sama ada makanan juga, tadi anak buah Dylan yang ngasih.” Memberikan bungsukan makanan kepada putranya


“Gimana nak? Masih lama?” Menggenggam tangan sang menantu.


“Masih pembukaan dua bu.” Jawab Akifa sambil tersenyum


“Masya Allah.. masih lama rupanya.”


“Masih lama bangat bu?” Tanya Ilmy yang melihat Akifa dengan tatapan keheranan karena adik iparnya itu nampak sangat santai


“Iya, pembukaan masih belum sempurna. Kita bawa jalan-jalan ajah yah.” Mengelus perut Akifa


“Tadi dokter juga bilang gitu bu, tapi Ifa lapar jadi pengen makan dulu.” Jawab Akifa


Dylan membukakan makanan yang tadi dibawa ibunya lalu menyuapi sang istri “Ini sayang, Aaaa...”


Akifa membuka mulut dan melahap satu sendok makanan “Enak mas..”


“Fa, kamu gak ngerasa sakit?” Ilmy yang sedari tadi diam saja membuka suara. Ia terkejut melihat ke santaian Akifa menghadapi detik-detik ia melahirkan


Delon pun tak kalah heran melihat adik iparnya yang nampak biasa saja saat ini. Padahal tadi mereka semua dibuat panik pagi-pagi karena air ketuban Akifa pecah bahkan mereka sampai melupakan sarapan. Mereka juga datang dengan pakaian seadanya. Contahnya Ilmy yang hanya memakai piyama lengan panjang dengan kerudung panjang sangking terburu-buru sampai mereka tak sempat mandi.


“Sedikit kak, mungkin karena masih bukaan dua.” kembali membuka mulut untuk melahap makanan yang disodorkan suaminya


“Maaf yah, aku bikin kalian repot dan khawatir.” Akifa menunduk dalam.


Ia baru memperhatikan pakaian yang dipakai keluarga suaminya yang hanya pakai piyama, bahkan Delon yang terkenal rapi dan disiplin pun sekarang hanya memakai piyama dan sandal jepit berbulu.


Ayah Ilyas maju lalu mengusap kepala menantunya “Tidak ada yang repot. Kalau salah satu keluarga membutuhkan tentu saja anggota keluarga yang lainnya sudah semestinya membantu.” Walaupun Suaranya terdengar datar, namun perkataan sang mertua sungguh membuat hatinya menghangat


Sontak Akifa mendongak, ini pertama kalinya ayah mertuanya berbicara panjang lebar kepadanya “Terima kasih... Ayah..” Lirih Akifa


Ayah Ilyas berdehem lalu melepas tangannya, rupanya memalukan juga melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan apalagi pada menantunya. Ia baru sadar!


Mereka semua diam-diam tersenyum melihat tingkah ayah Ilyas yang tidak biasa itu.


Setelah makan, Akifa pun dibawa jalan-jalan disekitar ruangan dengan dipapah sang suami untuk menunggu pembukaan sempurna.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...

__ADS_1


__ADS_2