Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Tidak semudah itu merawat bayi


__ADS_3

Setelah merasa sudah lebih baik, Ilya pun berdiri dari tidurnya. Karena besok ia dan suaminya sudah akan pulang. Ilya memutuskan untuk mengemas pakaiannya.


Ilya melangkah menuju ke walk closed, ia mengambil koper lalu mulai memasukkan pakaian suami dan juga pakaian nya kedalam koper. Tak lupa ia menyisakan pakaian ganti untuk digunakan Fatih nanti.


“Loh ini apa?” Mengambil sesuatu di paling atas pakaian suaminya


“Al-Qur'an?..” Membolak-balik Al-Qur'an kecil tersebut. Al-Qur'an yang entah mengapa tak asing dimatanya


“Eh? Ini ‘kan.. jangan-jangan..” Ia tersenyum, Ilya menaruh kembali Al-Qur'an tersebut lalu melanjutkan mengemas pakaiannya


Entah mengapa ia tak bisa berhenti tersenyum sekarang. Mengingat Al-Qur'an itu membuat lengkungan di bibirnya tak dapat pudar.


Ceklek..


Pintu walk closed terbuka “Hmm? Kamu sedang apa, sayang?” Tanya Fatih yang datang masih memakai handuk sebatas pinggang


Ilya mendongak menatap suaminya. Lantas ia berdiri lalu memeluk tubuh kekar sang suami. Sekali lagi, senyumnya tak dapat pudar


Fatih membalas pelukan istrinya “Ada apa, hmm?” Tanya nya lembut “Baju kamu basah loh sayang.”


Ilya mendongak melihat sang suami tanpa melepas pelukannya “Hmm gak papa. Lagi pengen meluk ajah.”


Sebelah alis Fatih terangkat mendengar penuturan asing istrinya “Oh.. sudah mulai agresif nih ceritanya.” Tersenyum licik


“Hahah apa sih,” Ilya tertawa keras lalu kembali memeluk suaminya erat


Fatih melongo, ini pertama kalinya Ilya tertawa keras seperti ini. Dia tersenyum lalu mengangkat istrinya duduk dimeja yang ada di walk closed tersebut.


“Ada apa sih? Aku jadi penasaran.” Menyalipkan anak rambut Ilya ke belakang telinga


“Bukan apa-apa.” Ilya kembali memeluk suaminya. Sungguh, Ilya sendiri tidak mengerti namun ia sangat senang Sekarang dan tak ingin berpisah dari suaminya


“Hei.. jangan seperti ini sayang, aku baru sudah mandi. Tidak lucu, karena pelukan mu aku harus mandi dua kali.” Balik memeluk sang istri


Mendengar lontaran Fatih, Ilya hendak menarik diri. Namun seribu sayang, Fatih Mengeratkan pelukannya


“Jangan coba-coba lari dari tanggung jawabmu sayang.” Bisik Fatih ditelinga Ilya “Dia bangun. Tidurkan yuk,” Menggigit sensual daun telinga sang istri


Ilya menggeliat gelisah membuat senyum miring Fatih mengembang “Boleh yah?” Menampilkan wajah memelas


Ilya menggigit bibir lalu mengangguk pelan. Ia tak ingin berdosa menolak keinginan suaminya


Fatih tersenyum lebar “Selamat makan..”


Dan terjadilah yang memang harus terjadi. Suara desahaan memenuhi walk closed. Meja bergoyang mengiringi pergerakan diatasnya. Mereka melakukannya sampai puas, tak puas satu tempat mereka melanjutkan nya sampai diatas ranjang.


.


.


Setelah melakukan olahraga panas, Ilya dan juga Fatih tengah menikmati momen dimana setelah selesai bercinta mereka pasti akan selalu mengobrol ringan, menceritakan bagaimana diri mereka dahulu.


“Oh yah kak. Kak Fatih pernah ketemu gadis kecil yang mirip Ilya dulu gak?” Mendongak melihat Sang suami yang tengah memeluknya


Fatih memandang wajah istrinya “Kamu sudah ingat, sayang?”


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Iya, kita memang pernah bertemu saat kecil dulu. Di hotel tempat pertemuan para pengusaha dan pebisnis se-Indonesia berkumpul.” Mengusap lengan Ilya


Senyum Ilya mengembang “Benar dugaanku. Kak Fatih, kakak yang waktu itu ‘kan? Yang ngelarang pipi Ilya dicubit laki-laki lain!”


Fatih tertawa gemas “Cuman ingat itu ajah?” Mencubit pipi istrinya “Ilya melakukan apa yang kakak katakan ‘kan?”


Ilya mengangguk “Tanpa kak Fatih bilang pun, bang Delon dan bang Dylan pasti marah kalau ada yang cubit pipi Ilya sembarangan. Apalagi kalau yang cubit itu laki-laki.”


Fatih terkekeh kecil “Jangan lupakan ayah. Pasti kalau ayah marah Tidak akan ada yang bisa membantah.” Mengingat bagaimana tingkat posesif ayah Ilyas pada istri serta pada putri-putri nya. Ilya ikut tertawa, membenarkan.


Lantas, Ilya bangun dari tidurnya “Loh, mau kemana sayang?” Tanya Fatih ikut bangun


“Mau kemas barang, kak. Tadi belum selesai, besok kita pulang ‘kan?” Meraih selimut lalu melingkarkan ditubuhnya membuat tubuh sang suami tak tertutup apa-apa.


“Tidak usah, nanti ada pelayan hotel yang beresin.” Dengan sangat santai, Fatih berdiri sembari mengambil boksernya dan dipakai


Ilya memalingkan wajah, lalu berdiri “Gak perlu, biar Ilya yang urus sendiri. ‘kan itu barang-barang kita, itu privasi kita jadi gak boleh dimasuki orang lain.” Masuk kedalam kamar mandi


Fatih tersenyum, ia berlari mengejar istrinya masuk kedalam kamar mandi. Sebelum Ilya berteriak, Fatih sudah lebih dulu mengunci pintu dari dalam


“Kak, ngapain masuk?” Cepat-cepat masuk kedalam bathtub


Tersenyum smirk “Menamanimu mandi.”


“Ilya bisa mandi sendiri kak. Gak usah ditemanin.”


Mengangkat kedua bahu, acuh lalu masuk kedalam bathtub “Pengantin baru itu harus selalu mandi bersama.” Mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukkan di pangkuannya


“Kak.. ishhh.”


...***...


Tiga Minggu kemudian...


“Disebuah mansion besar, hiduplah seorang pasutri yang baru saja memilik bayi yang sangat tampan. Bayi yang akan membuat kehidupan keduanya semakin bermakna. Dan mereka yakin, kalau mereka pasti akan tambah bahagia dengan kehadiran seorang bayi. Namun.... Ada satu hal yang tidak mereka pikirkan dan pertimbangkan! Yaitu.... MERAWAT ANAK TIDAK SEMUDAH MEMBUATNYA!!!.. dan akhirnya kedua pasutri itu harus repor mengasuk bayi kecil mereka. Tamat....”


“Dongen yang sangat realistis yah.” Ucap Delon yang duduk disamping Ilmy yang tengah makan


“Iyakan, aku sepertinya punya bakat jadi novelis.” Membanggakan diri nya


“Ck! Lihat saja nanti! Kalian berdua juga pasti akan merasakannya!” Kesal Dylan karena dongeng yang diceritakan Ilmy tadi merujuk padanya


“Udah mas.. ayo makan, lagian yang dikatakan kak Ilmy ‘kan benar. Jangan nolak kenyataan.” Seru Akifa memakan makanannya


Ilmy tertawa melihat Dylan yang kesal namun harus sabar karena disana ada istri serta ayah, ibunya.


“Lan kayaknya kamu udah cocok dibawa ke Zoo. Lihat ajah matamu.” Meledek wajah Dylan yang kusut serta kantong mata yang terlihat jelas berwarna hitam


Dylan berdecak namum tak ingin menanggapi, ia tetap stay melanjutkan makannya.


“Oh yah, nanti malam baby Al biar sama ibu ajah. Asinya udah ada di kulkas ‘kan? Kalian berdua istirahat ajah nanti malam.” Seru Ibu Dian yang mengerti bagaimana susahnya merawat anak tanpa bantuan baby sitter karena ia pun pernah merasakan nya


“Itu benar, istirahatlah nanti malam. Kumpulkan tenaga kalian. Ini resiko mempunyai anak, jangan mengeluh.” Sahut kepala keluarga Sam itu


Dylan tersenyum senang. Akhirnya ia bisa berduaan dengan sang istri “Yakin? Jangan berubah pikiran loh, yah.” Sahut Dylan bersemangat. Ayah Ilyas mengangguk mantap, ia juga ingin tidur bersama cucunya.


“Tapi, aku tetap gak enak bu, ayah.” Ucap Akifa yang tak ingin merepotkan mertuanya

__ADS_1


“Udah terima ajah Fa, jarang-jarang loh ayah setuju. Biasanya ayah paling gak suka diganggu waktu nya kalau lagi sama ibu. Ini langkah Fa! Terima ajah.” Ilmy mengompori


“Iya jangan khawatir. Lagian ‘kan kalian gak selamanya disini. Mumpung kalian masih disini, jadi setidaknya ibu sama ayah pengen dekat-dekat dengan baby Al.” Ibu Dian membenarkan


Akifa tersenyum lalu mengangguk “Baiklah, terima kasih bu, ayah..” Ibu Dian dan ayah Ilyas tersenyum


Bukan hanya kedua pasangan paruh baya itu yang senang, namun Dylan pun tak kalah senangnya. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa berduaan dengan sang istri, dan tidak diganggu oleh anaknya lagi


‘Maaf nak kamu bukan pengganggu, tapi ini semua demi kelancaran dan keharmonisan keluarga kita’ Batin Dylan bersemangat


Setelah selesai makan malam, ibu Dian mengambil baby Alan yang saat itu tengah tertidur lelap lalu membawa ke kamarnya.


Dylan memeluk tubuh sang istri dari samping yang sekarang tengah duduk di tepi ranjang “Kenapa mas?" Menaruh ponsel diatas nakas


“Mas kangen sayang, sudah lama kita tidak punya kesempatan berdua seperti ini.” Jawabnya manja


Akifa tertawa geli “Baru juga tiga Minggu mas, kita harus semangat jangan ngeluh mulu.” Balik memeluk sang suami


Dylan menenggelamkan wajah di antara dua dada Istrinya “Nyamannya..” Lirihnya pelan


“Jangan macam-macam mas kalau gak mau berakhir dengan sabun. Masa nifas ku belum selesai.” Membelai rambut suaminya


“Iya sayang, mas tau. Mas cuman kangen sama kamu.” Mengusel-usel wajah didada istrinya


“Kita ‘kan gak pernah kepisah mas, masa kangen.” Ucapnya tertawa geli


Mendongak “Apa kita sewa baby sitter saja?”


“Gak usah mas, aku sendiri cukup kok. Lagian kuliah ku juga udah selesai, aku nganggur gak ada kerjaan. Mending jagain anak.”


“Kamu yakin sayang?” Mengelus pipi istrinya, terlihat bahwa sang istri pun lelah sepertinya “Kalau kamu kelelahan gimana? Mas tidak tega.”


Akifa tersenyum lebar “Kita tidur yuk mas.” Berbaring sambil memakai selimut. Dylan ikut berbaring di samping sang istri, tangannya langsung melingkar diperut Akifa


Menghadap kearah Dylan “Aku masih bisa kok mas, lagian ini masih belum seberapa dibandingkan Waktu aku ngejar deadline dulu. Bahkan kadang sampai gak tidur sama sekali.”


“Tapi..”


“Gak apa-apa mas, aku bisa kok. Mas pasti capek, kita tidur yuk. Aku juga capek, kita pakai kesempatan ini buat istirahat.” Memeluk erat tubuh sang suami


Dylan mengecup bibir Istrinya “Good night.”


Akifa tersenyum lalu mengangguk, ia pun menutup mata karena memang ia juga lelah. Beberapa hari ini mereka benar-benar disibukkan dengan baby Alan. Mau bagaimana lagi, ini adalah resiko dari apa yang mereka sudah putuskan.


Tidak ada gunanya mengeluh karena itu tak akan membantu sama sekali. Lebih baik bersabar menghadapinya karena semuanya akan berlalu dan hanya tinggal kenangan.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Penjet tombol Subscribe nya...

__ADS_1


__ADS_2