
Mereka berkumpul di ruang tengah. Lagi-lagi Ilya jadi pusat perhatian disana. Ibu Dian dan ayah Ilyas sangat senang akan kehamilan putrinya namun juga sedikit khawatir karena mereka tau Ilya tidak terlalu menyukai anak-anak.
Namun keduanya percaya dengan Ilya yang pasti akan menyayangi anaknya kelak. Apalagi disisi Ilya telah ada Suaminya yang selalu mensupport Ilya.
Semua orang bercengkrama dengan senang kecuali Delon dan Tifa yang memang irit berbicara, jangan lupakan ayah Ilyas yang sesekali hanya menimpali.
Disebuah sofa yang hanya muat dua orang saja, disanalah Delon dan Ilmy duduk. Keheningan melanda sofa itu. Tdak seperti Ilmy yang biasanya, sekarang ia benar-benar hanya diam saja. Merenung, namun entah apa yang ia renungkan.
“Kau ada masalah?" Tanya Delon melihat adiknya
Ilmy tertawa receh “Masalah? Mana mungkin masalah berani menghampiri ku. Kamu ada-ada ajah, Lon.” Sikap Ilmy saat diajak berbicara masih sama.
Namun sebagai orang yang pernah satu rahim berbagai tempat dan makanan selama sembilan bulan sepuluh hari tentu saja Delon tau ada yang salah dengan adiknya.
“Jangan berbohong! Kau ada masalah ‘kan! Katakan padaku!” Ia menuntut dengan nada tegas namun tak terlalu kencang agar hanya mereka yang dengar.
Untung saja jarak antara sofa yang ditempati kedua anak kembar itu cukup jauh dari orang-orang disana.
“Apa sih, bener deh aku gak ada masalah. Kalaupun ada yah paling tentang galery doang kok.” Ilmy berkilah sambil mengalihkan pandangannya dari mata tajam sang abang.
“Galery mu baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kemarin aku kesana dan semuanya stabil! Kau berbohong!”
“Enggaklah.. mungkin ajah waktu kamu pulang tiba-tiba ada masalah.” Ia berharap agar jawabannya ini dapat membuat Delon percaya.
“Katakan yang sebenarnya!” Inilah Delon sang pemaksa dan tidak suka dibantah. Apalagi dengan adik-adik nya, ia harus menjadi seorang abang yang tegas! Yang dapat melindungi adik-adiknya.
Berbeda dengan Dylan yang lebih mementingkan perasaan orang lain jika ingin angkat bicara, berbeda dengan Delon yang lebih blak-blakan mirip dengan ayahnya.
Ilmy terdiam, ia tau tak akan bisa menyembunyikan masalah dari keluarganya. Apalagi kedua saudara kembarnya, namun ia tetap segan untuk bercerita karena keduanya adalah laki-laki yang pasti sulit untuk mengerti perasaan Ilmy
“Gak ada Lon.”
“Ilmy..” Penuh penekanan
“Delon..” Ilmy tak kalah keras kepala
Baru saja Delon ingin kembali menyahut, tiba-tiba sebuah suara datang menghampiri mereka.
“Bagaimana, baby Alan udah tidur?” Tanya ibu Dian pada anak menantunya yang baru saja datang.
“Baru ajah tidur bu.” Jawab Akifa
Dylan menuntun istrinya untuk duduk di sebelah Ilmy setelah menarik tangan Delon untuk minggir dari sana. Walaupun enggan, Delon tetap pasrah.
“Sayang sekali, padahal aku masih ingin melihat baby Al.” Kira nampak belum puas memandangi bayi mungil yang tampan itu.
“Haha kamu bisa datang kapan ajah, setidaknya kami masih disini.” Ucap Akifa
“Iya lain kali kalian bisa datang kapan saja. Apalagi sekarang kita Sudah jadi keluarga.” Ibu Dian setuju dengan perkataan menantu nya.
Dylan menarik tangan Delon untuk pergi dari sana setelah tadi ia sudah permisi dengan orang-orang disana.
Dylan membawa Delon kearah kolam renang. Mereka berdua duduk sambil memandangi kolam renang yang berkonsep outdoor itu. Cahaya bulan memantul mengenai air didalam kolam renang.
__ADS_1
“Ada apa?” Delon langsung to the point. Ia tak ingin basa-basi lagi karena Delon tau pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan Dylan hingga menariknya untuk menjauh dari orang-orang.
“Jangan memaksa Ilmy.”
“Aku hanya khawatir dengan nya. Kalau tidak dipaksa dia tidak akan mengatakan nya sampai kapan pun.” Mereka paling tau bagaimana Ilmy, dia adalah seorang gadis yang tak suka mengumbar masalah dan lebih suka memendam nya sendiri.
“Tenang saja, ada istriku yang bisa mencari informasi. Lagi pula, perempuan lebih nyaman mengatakan masalah dengan sesama perempuan.” ucap Dylan bijak
Delon menghela nafas “Syukurlah kalau begitu.”
“Sebenarnya masalah apa lagi yang dihadapi anak itu.” Lirih Dylan memandangi langit cerah yang penuh bintang.
“Mungkin saja masalah jodohnya lagi.” Timpal Delon
Mengalihkan pandangan kesamping “Kau tidak membatasi geraknya lagi ‘kan?” Memicingkan mata
“Jangan melihat ku seperti itu!” Ia paling tidak suka dicurigai “Tenang saja, aku tidak membatasi geraknya selama ini. Dia sudah dewasa, tidak seharusnya kita mengekangnya.”
“Apa mungkin ini ada kaitannya dengan Ar?” Dylan menduga-duga karena memang hanya ada satu orang yang dapat membuat Ilmy jadi galau.
Mengangkat kedua bahu “Entahlah. Tapi itu bisa jadi.”
“Yah kita tunggu informasi dari Istri ku saja.”
Kembali ke kumpulan orang-orang. Akifa yang ada disamping Ilmy pusing tujuh keliling, ia tak tau harus mulai mengoreksi informasi dari mana.
Tapi yang pasti, Akifa harus tau dasar masalah yang menimpa kakak iparnya apa!
“Oh yah kak?,” Akifa mulai membuka obrolan
“Ya? Ada apa?” Walaupun dari tadi terlihat melamun, namun respon Ilmy sangat bagus dan tajam. Hanya pergerakan sedikit saja ia sudah tau.
“Jadi, gimana hubungan kakak dengan bang Ar?” Suara Akifa nampak menggoda Ilmy, “Sudah ada kemajuan ‘kan?” Menarik turunkan alis. Ia sengaja melakukannya karena tak ingin suasan menjadi tegang.
Wajah yang tadinya ceria seketika menjadi suram saat Akifa menanyakan tentang Marcell. Menghela nafas panjang “Kayana bang Ar bukan jodohku.” jawab Ilmy dengan nada lesu
“Maksudnya kak? Jangan negative thinking dulu. ‘kan kita gak tau bagaimana nantinya kita akan bersatu dengan jodoh kita.” Akifa lega karena sepertinya Ilmy akan langsung cerita tanpa harus ia pancing lebih dalam.
Terdengar helaan nafas yang panjang “Kamu tau Fa. Bang Ar.. nolak aku.” Menunduk dalam
Akifa sedikit bingung, ‘bukannya selama ini memang sudah ditolak yah’ Batinnya, dan Ilmy juga sadar akan hal itu. Tapi kenapa sekarang Ilmy malah sedih saat ditolak lagi.
”Ini bukan penolakan seperti yang biasanya. Bang Ar.. bang Ar bilang... Dia..” Suaranya tiba-tiba jadi serak, ia tercekat dengan apa ingin ia katakan.
Akifa menggenggam tangan Ilmy “Pasti berat yah kak.” Mengelus punggung tangan Ilmy untuk menguatkannya. Akifa memang tidak tau inti masalahnya, namun ia seakan bisa merasakan dengan apa yang dirasakan Ilmy sekarang.
Usapan tangan Akifa malah semakin ingin membuat Ilmy menumpahkan air mata yang sedari dia tahan. Namun Ilmy sadar kalau tidak mungkin ia menangis disaat semua orang tengah berbahagia.
Akifa sadar akan hal itu lalu menarik tangan kakak iparnya untuk pergi dari sana setelah berpamitan pada orang-orang. Sebenarnya Ayah Ilyas dan Ibu Dian sadar jika Ilmy punya masalah, niatnya mereka ingin bertanya setelah keluarga besan pulang, namun sepertinya Akifa Sudah membuka jalan sendiri.
Akifa menuntun kakak ipar ke kamar. Keduanya masuk kedalam kamar Ilmy lalu menutup pintu. Pelan-pelan keduanya duduk diatas ranjang. Dan barulah Ilmy mengeluarkan air mata yang memang sudah dari kemarin ia tahan-tahan.
Akifa menatap iba, lantas ia memeluk Ilmy untuk memberikan kekuatan pada kakak ipar nya. Tak ada kata diantara keduanya. Mereka masih diam, lebih tepatnya Akifa masih menunggu Ilmy tenang dan menceritakan masalah nya.
__ADS_1
“Dia.. bang Ar.. bilang tidak menyukaiku, hiks.. hiks.. dia bilang lelah dengan rasa cintaku padanya hiks.. padahal.. padahal.. hiks..” Ilmy mulai buka suara didalam pelukan Akifa
Melepas pelukannya “Aku juga lelah Fa.. hiks.. dia pikir hanya dia yang lelah.. aku juga.. bertahun-tahun aku menjaga perasaan ku padanya tapi.. hiks.. hiks.. hiks..” Menutup wajah dengan kedua tangan
“Aku udah gak mau.. hiks.. semuanya sia-sia.. pengorbanan ku selama ini.. tapi dia gak melihat ku sedikitpun.. hiks..” Air mata pilu Ilmy keluar membasahi pipi. Ia lelah, ia sudah tak ingin lagi mengejarnya!
“Apa yang harus aku lakukan Fa?? Hiks.. haruskah aku menyerah??”
Akifa mengelus punggung Ilmy “Kak, kakak pernah dengar cerita tentang Zulaikha yang mengejar-ngejar cinta nabi Yusuf namun semakin dia mengejar cintanya semakin jauh pula apa yang dia kejar. Lalu Zulaikha berbalik mengejar cinta Allah SWT. Pencipta alam semesta ini. Dan akhirnya.. kakak pasti tau lanjutan ceritanya ‘kan?”
“Allah mendekatkan cinta nabi Yusuf dan Allah pula yang menyuruh nabi Yusuh menikahi Zulaikha.” Tanpa sadar Ilmy melanjutkan cerita Akifa
Akifa tersenyum “Nah itu kak Ilmy tau. Kak Ilmy juga pasti ngerti makna cerita cinta nabi Yusuf dan Zulaikha ‘kan.”
Ilmy terdiam, ia mencerna apa yang dikatakan adik iparnya “Tapi Fa, selama ini aku juga udah berdoa di setiap sholat ku agar aku berjodoh dengan bang Ar, agar aku didekatkan dengan cinta bang Ar.”
“Mungkin cinta kakak masih lebih besar kepada hambanya daripada pemilik nya. Semua doa yang selama ini kita panjatkan gak pernah menjadi angin lalu. Kakak tau sendiri ‘kan semua doa pasti akan dikabulkan diwaktu yang tepat. Dan rencana Allah lebih indah dan baik dibandingkan dengan rencana kita.” Ucap Akifa panjang lebar dan sangat bijak
“Jodoh itu gak kemana kak, dan cerita cinta nani Yusuf adalah salah satu contohnya. Kisah cinta mereka yang penuh drama namun berakhir manis dan happy. Itu semua sudah diatur dan direncanakan oleh Allah SWT.” Lanjut Akifa
Suara isak tangis Ilmy mulai meredam. Ia membenarkan perkataan Akifa, bukankah jodoh tak akan kemana? Tinggal bagaimana kita mencarinya. Kalau memang tidak dapat berarti Allah telah merencanakan yang lebih indah dari yang kita bayangkan!
“Tumben..” Kata-kata diluar nalar keluar dari mulut Ilmy
“Ya? Maksud nya kak?” Akifa mulai tersenyum kaku
Ilmy tertawa geli “Tumben kamu bijak gini? Biasanya kita sebelas dua belas.” Ia tergelak sendiri
Akifa ikut senang melihat tawa kakak ipar “Hehe sebenarnya ini diceritain mas Dylan. Katanya kisah cinta nabi Yusuf dan Zulaikha gak beda jauh sama kisah cintaku sama mas Dylan. Tapi kebalik. Nabi Yusuf dapat janda perawan, aku dapat duda perjaka.” Canda Akifa semakin membuat Ilmy tertawa
“Hahaha pantasan ajah.. aduhh kalian memang pasutri gaje.. sumpah!!” Ia kembali bersemangat “Benar juga ya! Semua pasti udah ada jalannya. Makasih Fa untuk nasehatnya.” Memegang pundak Akifa
“Bukan nasehat kak, cuman saling mengingatkan doang kok.” Ia merendah, itulah salah satu yang diajarkan sang suami padanya
“Iya, tapi tetap ajah aku berterimakasih.. sebanyak-banyaknya.”
“Ahhah santai ajah kak.”
Dan mereka pun melanjutkan obrolan ringan dan jauh dari kata sedih.
‘Rupanya enak juga yah jadi orang berguna’ Batin Akifa bangga
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...
__ADS_1