
Dylan menurunkan istrinya yang ada di pangkuan lalu menggandeng tangan sang istri “Kita lihat-lihat kamar dulu, bagaimana?”
Akifa mengangguk antusias “Mau.. mau.. setelah itu kita keliling mansion ini ya.” Ucapnya bersemangat
Mengelus puncak kepala sang istri “Kalau kamu tidak lelah, silahkan. Mansion ini luas loh.” Mulai melangkah menuju kamarnya
Akifa mengangguk “Tenang ajah, kalau soal berpetualang di rumah mewah, aku jagonya!” Menepuk dada. Ia bangga akan hal itu
Dylan geleng-geleng kepala. Ia mengulum senyum dan mengingat bagaimana pertama kali Akifa saat berkunjung ke rumahnya yang dulu sebagai adik ipar. Dylan pernah mendapati Akifa berdecak kagum dan celingak-celinguk mengagumi rumah nya dulu.
Benar-benar menggemaskan!
Dylan memberikan perintah pada pelayan untuk menyiapkan makan siang lalu kembali menarik tangan istrinya.
Mata Akifa membulat sempurna saat melihat sebuah lift. Sontak ia menoleh melihat suaminya yang tengah tersenyum kearahnya “Tunggu apa lagi? Ayo masuk.” Menarik tangan Akifa masuk kedalam lift
“Woaaawww.. Masya Allah... Ada lift nya! Aku benar-benar jadi sultan ini mah!” Celetuk Akifa sembari berdecak kagum
“Loh, baru sadar sayang? Kamu lupa siapa suami mu ini?”
“Direktur rumah sakit dan seorang dokter kan?”
Dylan menggeleng pelan “Lupa keluarga mas? Lupa mas lahir dari sendok berlian?” Ia melebih-lebihkan istilah, namun yang dikatakan nya juga tak salah
Akifa nampak terdiam, mungkin ia sedang berpikir. Dylan terkekeh pelan melihat wajah istrinya yang tengah serius memikirkan perkataannya tadi.
Ting..
Bunyi lift yang sudah sampai di lantai tujuan terdengar memburu Akifa tersadar. Dylan lagi-lagi menarik tangan nya keluar dari lift.
“Sam?? Ahk.” gumamnya, lalu seakan tersadar ia Menepuk jidat “Maaf mas aku lupa kalau keluarga mas itu keluarga konglomerat soalnya hari-hari aku lihat mas sederhana bangat.” Akifa lagi-lagi dibuat kagum akan sifat Dylan yang rupanya sangat sederhana selama ini padahal ia berasal dari keluarga konglomerat
Dylan hanya tersenyum simpul “Kita sampai..” Membuka pintu kamar
Lagi-lagi Akifa dibuat berdecak kagum dengan kamar barunya. Sungguh besar dan megah. Akifa masuk kedalam lalu mencari kamar mandi, setelah mendapatkan nya ia langsung membuka pintu kamar mandi
“Gila! Kamar mandinya lebih besar dari kamar kost ku.” Menggeleng tak percaya
Dylan tersenyum lalu duduk di pinggiran ranjang. Tak lama Akifa keluar dari kamar mandi, ia ikut duduk disebelah Dylan
“Mas, kalau memang mas membangun mansion ini dari dulu, kenapa pas setelah kita menikah mas gak langsung bawa aku kesini?” Tanya Akifa menyandarkan kepalanya di lengan kekar sang suami
__ADS_1
Mengelus pucuk kepala istrinya “Kamu tau sendiri waktu itu masih banyak masalah diantara kita. Masih ada beberapa kesalah pahaman yang harus kita luruskan, dan mas tidak mau membawa masalah yang memang seharusnya sudah lalu kedalam mansion. Tempat tinggal kita meniti masa depan.”
Akifa kembali dibuat kesem-sem dengan pernyataan suaminya “Ihh mas romantis bangat deh..” Memukul manja lengan Dylan
Dylan tergelak melihat sikap malu-malu sang istri. Sangat menggemaskan!
“Oh yah Mas, barang-barang kita gimana?”
Merangkul pundak istrinya “Tenang saja, mas akan suruh pelayan untuk memindahkan barang-barang.”
Akifa mengangguk mengerti “Terus, rumah kita sebelumnya gimana?” Tanya Akifa, padahal rumah mereka masih bagus dan sama sekali tidak ada kecacatan di rumah sebelumnya.
“Terserah kamu mau diapakan. Mas juga tidak terlalu memikirkannya, karena rumah itu dulu mas beli hanya asal-asalan.” Yah alasan sebenarnya karena ia tak menyangkal akan menikah dengan Indah walaupun dengan cara licik. Karena itu ia membeli rumah untuk tempat tinggalnya bersama Indah, ia tak rela mansion yang ia bangun susah payah harus ditinggali orang seperti Indah.
Angannya yang dulu ingin membawa Akifa tinggal ke mansion akhirnya tercapai. Hal yang tak pernah ia bayangkan saat masih menjadi suami Indah
“Hmm apa kita jual ajah mas? Lumayan kan uang pembelian nya pasti banyak.” Membayangkan nya saja air liur Akifa sudah mau menetes
“Air liurmu kena sprei, Rojang.” Seru Dylan
Kening Akifa mengerut “Mas bicara sama aku?” Menunjuk dirinya sendiri
“Iya, siapa lagi? Iya ‘kan Rojang, alias Roro Jonggrang hahahah.”
“Kenapa Rojang? Susah yah? Biasalah, perut milik priamu harus keras.” Menaik turunkan alis
Akifa terkekeh pelan, ia sangat mudah luluh jika dihadapkan dengan perilaku suaminya yang kadang kala bikin kesal namun tak ayal membuat Akifa klepek-klepek sampai dasar Palung Mariana.
“Ck!” Akifa berdecak lalu kembali menjatuhkan kepalanya di lengan sang suami “Tapi mas, bukannya dua hari lagi kita bakalan ke rumah ibu sama ayah ‘kan?”
“Iya rencananya memang begitu. Sebenarnya rencana pindah ke mansion sudah jauh-jauh hari mas pertimbangkan, tapi karena belum dapat waktu yang pas jadinya bisanya hari ini.” Apalagi saat mengingat bagaimana Akifa sempat membencinya membuat Dylan hanya bisa bernafas lega karena sekarang semua itu sudah berlalu
“Kalau gitu kita harus beli oleh-oleh dong mas, buat ibu sama ayah, bang Delon, kak Ilmy, sama Ilya.” Menghitung satu persatu orang-orang yang tinggal di mansion ayah dan ibu mertuanya. Menepuk jidat “Astagfirullah.. Kita belum prepare berang kita mas.” Berdiri lalu menarik tangan suaminya
“Ayo mas kita pulang, barang-barang kita belum ada yang siap loh. Aduh.. kenapa aku bisa lupa sih.”
Dylan mengulum senyum, lantas ia memegang lembut kedua tangan sang istri yang kini memegang lengannya “Tenang sayang, ayo duduk dulu. Kasian dedek bayinya.” Menarik lembut istrinya untuk kembali duduk
“Mas gimana sih, kita harus siap-siap nih.” Ia menolak duduk
Dylan tak menyerah dan tetap menyuruh istrinya duduk kembali disebelah dengan lembut. Melihat bagaimana tenang nya Dylan membuat Akifa luluh dan akhirnya duduk juga di samping sang suami.
__ADS_1
“Mas, gimana dong? Kenapa mas santai banget sih.” Ia jadi kesal sendiri
Menangkup wajah istrinya menghadap padanya “Look at me honey..” Wajah Akifa memerah mendengar penuturan Dylan yang menurut nya sangat asing namun enak didengar
“Kamu lupa mas mu ini siapa, hmm?” Menjeda ucapan lalu kembali melanjutkan nya
“Kamu sendiri yang bilang tadi kalau mas mu ini dari keluarga konglomerat. Hanya barang dan oleh-oleh, hanya dengan satu perintah. Semuanya beres sayang, okey?”
Akifa tercengang, benar juga yah. Kenapa ia bisa lupa. “Heheh iya juga yah mas, maaf..”
Dylan menggeleng pelan “Kamu tidak salah sayang, mas sudah bilang berapa kali. Jangan terlalu lelah.”
Akifa mengangguk “Siap Bandwo!” bergaya hormat
“Bandwo?” Beo Dylan
Akifa terkikik “Bandung Bondowoso, kesayangan ku..”
Dylan tak dapat menahan senyum nya, ia mengecup seluruh wajah istrinya “Siap untuk tour keliling mansion. Rojang ku?”
“Siap Bandwo!” Jawabnya semangat. Mereka tergelak lalu keluar kamar untuk makan sekalian berkeliling mansion disertai dengan canda dan tawa membuat para pelayan yang mendengar tawa kedua majikan dan melihat kemesraan majikannya mengulum senyum.
Rata-rata pelayan yang ada di mansion adalah para pelayan dari rumah lama dan ditambah dengan beberapa orang kepercayaan Dylan serta orang kepercayaan ayahnya.
Di belahan pulau yang jauh disana...
Beberapa hari yang lalu...
Terlihat sepasang suami istri tengah duduk di sofa ruang tengah. Mereka terlihat sangat dekat, bukan! Tapi sih suami yang terlalu menempel pada istrinya.
Ilyas, ayah Dylan tak akan bisa lepas dari Dian, ibu Dylan. Tangan nya melingkari pinggang ramping wanita berhijab yang masih terlihat cantik di usia memasuki kepala lima tersebut.
Sedangkan yang ditempeli hanya diam, ia melamun lebih tepatnya “By.. gimana nih? Apa kita terima ajah? Tapi ‘kan? Gimana Ilya nya.”
Ilyas mendengus, mengingat beberapa jam lalu ada seorang pria tampan yang datang ke mansionnya dan dengan berani melamar putri bungsunya, membuat darah didalam diri Ilyas mendidih.
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Penjet tombol Subscribe nya...