Bukan Yang Kedua

Bukan Yang Kedua
Papa Ngidam


__ADS_3

Dylan masuk kedalam ruangan nya dengan wajah lesu dan pucat. Dibukanya jas warna putih kebanggaan lalu menyampirkan disandaran kursi.


Menghempaskan tubuh diatas kursi “Astagfirullah.. kepalaku kok sakit yah.” Memijit kening yang terasa sakit


“Loh Lan, kau kenapa? Muka mu pucat bangat.” Dokter Ilham, teman Dylan datang dan langsung duduk di sofa


“Ah! Ilham. Entahlah, kepalaku sakit. Mana mual juga lagi. Kira-kira kenapa yah?”


“Ha? Gak keracunan ‘kan?”


“Mana mungkin. Makanan saja susah masuk, Bagaimana bisa keracunan.”


Ilham berjalan mendekati Dylan “Atau mau di periksa?”


Dylan berpikiran sejenak “Iya deh, dari pada nanti malah mengganggu pekerjaan.”


Dengan berbagai Pertimbangan, akhirnya Dylan bersedia di periksa. Dan tentu saja yang memeriksa nya adalah Ilham. Walaupun ia sempat kekeuh ingin memeriksa diri sendiri, namun kepala dan juga perutnya tidak bisa diajak kompromi


Dan disinilah sekarang, Dylan sudah tidur diatas pembaringan dikamar khusus yang memang ada di ruangan Dylan.


Ilham mulai memeriksa kondisi Dylan “Hmm aneh..” Gumamnya sambil melepas stetoskop di telinganya


“Aneh kenapa?” Dylan mencoba bangkit untuk duduk namun baru dia ingin bergerak, rasa pening di kepalanya kian bertambah


“gak usah banyak gerak dulu. Kau benar merasa sakit? Soalnya gak ada yang salah dari hasil pemeriksaan mu.”


Dylan terdiam “Aneh? Tapi kepalaku benar sakit, perut ku juga mual.”


Tiba-tiba sebuah pemikiran lewat begitu saja di kepala Ilham “Gejala mu ini mirip ibu hamil... Hei.. jangan-jangan istrimu sedang hamil?”


“Bagaiman kau tau?” Tanya Dylan penasaran. Ia tidak pernah memberi tahu siapapun mengenai kehamilan istrinya kecuali keluarga nya


Ilham tersenyum misterius “Tunggu disini. Aku panggil dokter Tina dulu.” Tanpa mendengar balasan dari Dylan, ia langsung bergegas memanggil Dokter Tina


“hei.. hah? Astaga!..” Mengusap wajah kasar “Dokter Tina? Tapi untuk apa? Istriku tidak ada disini untuk diperiksa dokter Obygin.”


Tak berapa lama terdengar suara Ilham yang sudah datang dari luar ruangan “Ini ada apa sih dokter Ilham?”


“Ck! Jangan banyak Tina, direktur rumah sakit lagi butuh bantuan!”


Kening Tina berkerut “Memangnya dokter Dylan kenapa?”


“Udah ikut ajah.” Ucapnya sembari membuka pintu


“Loh dokter Dylan? Kenapa dok? Sakit?” Tanya Tina berjalan mendekati brankar


“Itu dia Tina, tubuh Dylan gak sakit apa-apa. Tapi katanya kepala dan perutnya sakit.” Bukan Dylan yang menjawab melainkan Ilham yang selalu setia menemani Dylan

__ADS_1


“Loh kok bisa? Apa perlu kita periksa lebih lanjut?”


“Gak perlu. Yang perlu di periksa itu istrinya. Katanya istrinya hamil, terus dia yang ngidam.” Menunjuk Dylan yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan dagu


Tina tersenyum lebar “Ohh bukannya udah jelas yah. Dokter Dylan kena syndrome couvade atau kehamilan simpatik. Dimana, suami yang akan mengalami mual dan ngidam saat istrinya hamil.” Jelas Tina


Dylan terdiam. Ia sedikit tau mengenai syndrome couvade yang dimaksud dokter Tina.


“Jadi, istriku tidak akan mengalami mual kan.” Akhirnya Dylan membuka suara yang sejak tadi hanya diam dan Ilham yang menggantikannya berbicara.


“Itu tergantung dokter, terkadang saat suaminya mengalami syndrome couvade maka istrinya tidak akan mengalami mual tapi biasanya juga istrinya tetap mengalami mual. Tapi tenang saja dok, kondisi yang kedua sangat jarang terjadi. Biasanya juga morning sick hanya terjadi pada trimester pertama.“


Walaupun sebenarnya syndrome couvade memang adalah hal yang sangat jarang terjadi, namum Tina tau apa yang sedang di pikirkan direktur rumah sakit sekarang, karena itu ia ingin meringankan beban pikirannya.


Penjelasan Tina tidak serta merta membuat Dylan tidak khawatir. Ia lantas mencoba bangun dan duduk dibantu Ilham


“Handphone ku mana?”


Ilham mengambil ponsel Dylan yang ada diatas nakas dan memberikannya pada si empunya. Buru-buru Dylan menelpon orang rumah.


“Halo bi, bi sekarang Istri ku ada dimana?”


“...”


“Dia baik-baik saja ‘kan bi? Sudah makan belum?”


Dylan bernapas lega mendengar jawaban bi Santi yang ia perintahkan untuk mengawasi istrinya agar apabila terjadi sesuatu yang tidak di inginkan bi Santi bisa langsung melaporkan nya.


“Alhamdullilah.. kasi apapun yang dia mau bi. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya.”


Setelah beberapa percakapan singkat, Dylan pun menutup sambungan telepon dan menyimpan kembali ponselnya di atas nakas dibantu Ilham.


“Ckckck.. si bucin. Senang yah menderita menggantikan Istri.” Canda Ilham


Dylan tersenyum tipis Menanggapi. Ia akan melakukan apapun untuk membahagiakan Istrinya. Lantas ia menoleh melihat Tina.


“Apa anda ada jadwal kosong besok dokter Tina?”


Tina nampak berpikir sejenak “Ada tapi tidak terlalu sibuk dok. Kalau dokter Dylan mau, saya akan meluangkan waktu saya untuk memeriksa nyonya direktur.” Jawab Tina


“Bagus, kalau besok pagi? Sekitar jam 10.”


“Akan saya usahakan, dokter.”


Dylan ingin segera memeriksakan kandungan Istrinya. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui lebih lanjut mengenai bayi yang sekarang dikandung sang istri.


“Oh yah dok, boleh saya minta obat pereda mual dan sakit kepala?”

__ADS_1


Dokter Tina mengangguk sembari tersenyum “Tunggu disini dok, saya akan mengambil nya.” Setelah melihat anggukan Dylan, Tina pun keluar dari dalam ruangan Dylan menuju ke ruangan nya untuk mengambil obat yang dimaksud.


Dan sekarang tinggallah, Ilham dan Dylan “Masih sakit? Ambil izin cuti ajah gih, pulang sekarang. Dari pada tambah sakit.”


“Iya kayanya aku akan ambil izin cuti deh. Tapi siapa yang akan merawat ku di rumah?” Gumam Dylan di akhir kalimat


“Nah bagus tuh, kalau soal jadwalmu. Nanti aku gantiin.”


Dylan tersenyum “Thank's. Tapi aku akan cuti di rumah sakit saja. Tidak usah pulang biar sekalian aku dirawat.”


Perkataan Dylan tentu membuat kening Ilham berkerut dalam “Loh? Bukannya lebih bagus pulang yah, ada istri mu dan pelayan kan yang bisa ngurus.”


Sebenarnya itu juga yang dipikirkan Dylan, tapi dia tidak mau membuat Akifa kepikiran dan dia juga tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan Sang istri. Karena itu Dylan lebih memilih dirawat di rumah sakit.


Tidak tau saja, kalau apa yang sekarang Dylan putuskan malah akan membuat istrinya semakin kepikiran karena tidak mendapatinya di rumah.


“Bukan apa-apa, lebih baik di rumah sakit kan. Peralatan nya lebih canggih.”


Ilham hanya manggut-manggut “Oh yah, kau udah makan? Kayanya belum. Makan gih nanti tambah sakit, ada yang sampai di infus karena kekurangan cairan loh.” Ilham mencoba menakut-nakuti


Sedangkan yang ditakut-takuti melihatnya dengan tatapan datar. Memangnya Dylan tidak tau kalau ada yang sampai di infus karena kekurangan cairan


“Mau sih, cuman nanti pasti di muntahkan lagi.” ia merasa bersalah pada makanan dan juga pembuat makanan yang membuat makanan kalau harus di muntahkan


“Hmm biasanya kalau ibu hamil itu pengennya makan-makanan khusus. Kau mau apa? Biar aku cari.”


“Yakin?”


“Yakinlah!" Menepuk dadanya dengan percaya diri


“Baguslah aku tidak akan ragu-ragu. Tolong Carikan aku nasi goreng dengan toping sosis yang pembuatnya harus botak.”


“Ha? Botak? Lah susah amat Lan. Iya kalau ketemu kalau enggak?”


“Loh katanya tadi mau cariin. Makanya jangan songong dulu kalau belum tentu mampu.”


Ilham berdecak xm“Iya-iya aku cariin.” Ia pun keluar dengan penuh gerutuan “Kaya aku suaminya, harus nurutin istri yang ngidam. Nasib.. nasib.”


Dylan tersenyum melihat sahabatnya yang pergi seperti tak ikhlas.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...Penjet tombol Subscribe nya...


__ADS_2